pada tanggal
Al-Qur'an dan Tafsir
Dosa
Hadits
Islam
Panduan Ibadah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Fiqih & Ibadah Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Islam adalah agama kebersihan. Tidak ada agama di dunia yang memperhatikan kebersihan secara lebih menyeluruh daripada Islam — bukan hanya kebersihan fisik, tetapi kebersihan jiwa, hati, dan seluruh aspek kehidupan.
Salah satu bukti nyatanya adalah thaharah — sistem bersuci yang Allah wajibkan kepada setiap Muslim sebelum melaksanakan ibadah tertentu, terutama sholat.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zaadul Ma'ad (Jilid 1, hal. 181) berkata:
"Thaharah adalah kunci sholat, dan sholat adalah kunci surga. Maka barangsiapa yang ingin masuk surga, hendaklah ia menjaga thaharahnya."
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab (Jilid 1, hal. 49) mendefinisikan:
"Thaharah secara syariat adalah sifat hukum yang ditetapkan oleh syariat yang membolehkan seseorang melakukan ibadah yang mensyaratkan kesucian."
Dalil 1 — Perintah Bersuci:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu tidak mendapat air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci)." (QS. Al-Maidah: 6)
Asbabun Nuzul: Imam As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul (hal. 82) menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan kejadian kalung Aisyah radhiyallahu 'anha yang hilang dalam perjalanan. Rombongan Nabi berhenti untuk mencarinya dan waktu sholat tiba sementara tidak ada air. Maka turunlah ayat ini yang membolehkan tayamum sebagai pengganti air.
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 3, hal. 51) menjelaskan:
"Ayat ini adalah ayat thaharah yang paling komprehensif dalam Al-Qur'an. Ia mencakup tiga jenis thaharah: wudhu untuk hadats kecil, mandi untuk hadats besar, dan tayamum untuk keadaan darurat tidak ada air. Ini menunjukkan betapa sempurnanya syariat Islam yang memperhatikan kemudahan sekaligus kesucian."
Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 222):
"Hikmah Allah mendahulukan perintah thaharah sebelum sholat adalah untuk menunjukkan bahwa sholat adalah ibadah paling agung, maka sudah sepatutnya ia didekati dalam keadaan paling bersih dan suci."
Dalil 2 — Allah Mencintai Kebersihan:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222)
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 3, hal. 87):
"Al-Mutathahirin dalam ayat ini mencakup dua makna: suci dari najis dan hadats secara fisik, serta suci dari dosa dan kemaksiatan secara ruhani. Keduanya dicintai Allah."
Hadits 1 — Thaharah Separuh Iman:
عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ
Dari Abu Malik Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Thaharah (bersuci) adalah separuh iman." (HR. Muslim No. 223 — Shahih)
Penjelasan Ulama: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Jilid 3, hal. 101):
"Para ulama berbeda pendapat tentang makna 'separuh iman' ini. Pendapat terkuat: iman mencakup perbuatan zahir dan batin. Thaharah adalah penyempurna ibadah zahir sebagaimana taubat menyempurnakan ibadah batin — maka thaharah disebut separuh iman."
Hadits 2 — Keutamaan Wudhu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوِ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu lalu membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir." (HR. Muslim No. 244 — Shahih)
Wudhu (الْوُضُوء) secara bahasa berasal dari kata wadha'a yang berarti kebersihan dan kecantikan. Imam Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (Jilid 8, hal. 399) menjelaskan bahwa wudhu disebut demikian karena ia membersihkan dan memperindah anggota tubuh yang dibasuh.
Secara syariat, wudhu adalah membasuh anggota tubuh tertentu dengan cara tertentu yang disyariatkan untuk menghilangkan hadats kecil.
Para ulama sepakat terdapat 6 rukun wudhu berdasarkan QS. Al-Maidah: 6:
1. Niat Niat adalah syarat sah wudhu menurut jumhur ulama (Mazhab Syafi'i, Maliki, Hanbali). Mazhab Hanafi: niat sunnah, bukan wajib. (Al-Majmu', Imam An-Nawawi, Jilid 1, hal. 338)
Niat Wudhu: نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَصْغَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى Nawaitulwudhuu-a lirof'il hadatsil ashghori fardhon lillaahi ta'aalaa. "Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil karena Allah Ta'ala."
2. Membasuh Wajah Dari tempat tumbuh rambut kepala hingga bawah dagu, dan dari telinga kanan hingga telinga kiri.
3. Membasuh Kedua Tangan hingga Siku Termasuk siku dalam basuhan.
4. Mengusap Sebagian Kepala (Mazhab Syafi'i: sebagian kepala. Mazhab Maliki & Hanbali: seluruh kepala)
5. Membasuh Kedua Kaki hingga Mata Kaki Termasuk mata kaki dalam basuhan.
6. Tertib (Berurutan) Dilakukan sesuai urutan yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' (Jilid 1, hal. 350-380) menyebutkan:
Arab: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ
Latin: Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuuluh. Allahummaj'alnii minat tawwaabiina waj'alnii minal mutathahhariin.
Terjemahan: "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri." (HR. Muslim No. 234 — Shahih)
Keutamaan: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa berwudhu dengan sempurna kemudian mengucapkan doa ini, maka dibukakan baginya delapan pintu surga — ia bisa masuk dari pintu mana saja yang ia inginkan." (HR. Muslim No. 234 — Shahih)
Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (Jilid 1, hal. 230) menyebutkan:
Mandi wajib adalah mandi untuk menghilangkan hadats besar dengan cara mengalirkan air ke seluruh tubuh disertai niat.
Dalil: وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا "Dan jika kamu junub, maka mandilah." (QS. Al-Maidah: 6)
Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (Jilid 1, hal. 260) menyebutkan 6 sebab:
Niat Mandi Wajib: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى Nawaitulghusla lirof'il hadatsil akbari fardhon lillaahi ta'aalaa. "Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar karena Allah Ta'ala."
Tata Cara Mandi Wajib (Berdasarkan Hadits Aisyah RA):
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha: "Rasulullah ﷺ apabila mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu seperti wudhu untuk sholat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menyela-nyela pangkal rambutnya, kemudian menuangkan air ke atas kepalanya tiga kali cidukan, kemudian mengalirkan air ke seluruh kulit tubuhnya." (HR. Bukhari No. 248, Muslim No. 316 — Shahih)
Langkah-langkah:
Tayamum adalah bersuci dengan menggunakan debu yang suci sebagai pengganti air ketika tidak ada air atau tidak bisa menggunakan air karena sakit.
Dalil: فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ "Maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu." (QS. Al-Maidah: 6)
Asbabun Nuzul: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 3, hal. 54) menyebutkan bahwa tayamum pertama kali disyariatkan ketika kalung Aisyah radhiyallahu 'anha hilang dan rombongan tidak menemukan air. Ini adalah salah satu dari tiga keistimewaan yang diberikan Allah khusus kepada umat Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci." (HR. Bukhari No. 335, Muslim No. 521 — Shahih)
Niat: نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى "Aku niat tayamum untuk diperbolehkan sholat karena Allah Ta'ala."
Langkah-langkah:
(HR. Bukhari No. 338, Muslim No. 368 — Shahih)
Catatan: Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' (Jilid 2, hal. 212) menjelaskan bahwa cukup satu kali tepukan — tidak perlu dua kali seperti yang beredar di masyarakat. Pendapat ini diperkuat oleh Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah (hal. 117).
| Masalah | Mazhab Hanafi | Mazhab Maliki | Mazhab Syafi'i | Mazhab Hanbali |
|---|---|---|---|---|
| Niat wudhu | Sunnah | Wajib | Wajib | Wajib |
| Mengusap kepala | Seluruhnya | Seluruhnya | Sebagian | Seluruhnya |
| Menyentuh perempuan membatalkan wudhu | Tidak | Tergantung kondisi | Membatalkan | Tidak |
| Makan daging unta membatalkan wudhu | Tidak | Tidak | Tidak | Membatalkan |
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat:
"Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang Allah menghapus dosa-dosa dengannya dan mengangkat derajat-derajat?"
Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah!"
Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudhu dalam keadaan tidak menyenangkan (saat dingin atau sakit), memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu sholat setelah sholat. Itulah ar-ribath (penjagaan yang sesungguhnya)." (HR. Muslim No. 251 — Shahih)
Hikmah: Wudhu di saat susah — saat cuaca dingin, saat tubuh lelah, saat malas — justru itulah yang paling besar pahalanya di sisi Allah.
Thaharah bukan sekadar ritual kebersihan — ia adalah persiapan jiwa untuk menghadap Allah. Setiap tetes air yang mengalir saat berwudhu adalah penghapus dosa. Setiap anggota yang dibasuh adalah bukti ketaatan kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa'adah (Jilid 2, hal. 390) menutup pembahasannya tentang thaharah dengan indah:
"Sholat seorang hamba di hadapan Allah adalah cerminan keadaan hatinya. Dan wudhu adalah cerminan keseriusannya dalam mempersiapkan diri untuk bermunajat kepada-Nya."
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu menjaga thaharah dengan sempurna.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🤲
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Fiqih & Ibadah Tag: Thaharah, Wudhu, Mandi Wajib, Tayamum, Cara Bersuci dalam Islam, Fiqih Thaharah
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.
Komentar
Posting Komentar