Sholat: Tiang Agama Islam

 


Sholat: Tiang Agama Islam — Panduan Lengkap, Dalil, Tafsir, Fiqih, Kisah, dan Hikmah

Oleh: Ashabussalam.Online Label: Fiqih & Ibadah Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Pembuka yang Menyentuh Hati

Bayangkan kamu dipanggil langsung oleh Raja segala raja — bukan melalui perantara, bukan melalui surat, bukan melalui wakil — tetapi langsung, lima kali sehari, setiap hari.

Itulah sholat.

Setiap kali adzan berkumandang, Allah memanggil kamu secara langsung:

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ — Marilah menuju sholat.

Bukan perintah yang menyiksa. Bukan kewajiban yang membebankan. Tetapi undangan dari Yang Maha Mencintai kepada hamba yang Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, yang Dia tiupkan ruh ke dalamnya, yang Dia muliakan di atas seluruh makhluk-Nya.

Imam Ibnul Qayyim dalam Ash-Sholah wa Hukmut Tarikiha (hal. 1) membuka kitabnya dengan kalimat yang sangat indah:

"Sholat adalah tiang agama, cahaya keimanan, dan kebahagiaan para ahli surga. Ia adalah penghubung antara hamba dengan Tuhannya yang paling agung, dan pertemuan paling mulia antara makhluk dengan Penciptanya."


Pengertian Sholat

Secara Bahasa

Sholat (الصَّلَاة) memiliki beberapa makna dalam bahasa Arab:

Imam Al-Raghib Al-Asfahani dalam Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an (hal. 490) menjelaskan:

"Sholat secara bahasa berarti doa. Dinamakan demikian karena sholat mengandung doa di setiap gerakan dan bacaannya."

Imam Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (Jilid 14, hal. 464) menambahkan:

"Sholat juga berarti rahmat — karena Allah bersholawat (merahmati) hamba-Nya yang mendirikan sholat."

Secara Istilah

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab (Jilid 3, hal. 233) mendefinisikan:

"Sholat secara syariat adalah ibadah yang terdiri dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam."


Kedudukan Sholat dalam Islam

Sholat adalah Rukun Islam Kedua

Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

"Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadan." (HR. Bukhari No. 8, Muslim No. 16 — Shahih)

Sholat adalah Tiang Agama

Rasulullah ﷺ bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

"Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah." (HR. Tirmidzi No. 2616, Ahmad — Hasan Shahih)

Imam Ibnul Qayyim dalam Ash-Sholah (hal. 3) menjelaskan makna "tiang":

"Tiang adalah penopang seluruh bangunan. Jika tiang roboh, seluruh bangunan runtuh. Demikianlah sholat — ia menopang seluruh amalan seorang Muslim. Jika sholatnya baik, seluruh amalannya baik. Jika sholatnya rusak, seluruh amalannya rusak."


Dalil Kewajiban Sholat dalam Al-Qur'an

Dalil 1 — Perintah Mendirikan Sholat

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah: 43)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 1, hal. 121):

"Perintah 'aqiimus sholah' (laksanakanlah sholat) bukan sekadar melakukan gerakan sholat, tetapi mendirikannya dengan sempurna — dengan memenuhi seluruh rukun, syarat, dan adab-adabnya, serta dengan hati yang hadir dan khusyuk."


Dalil 2 — Sholat Mencegah Kemungkaran

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 45)

Asbabun Nuzul: Imam As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul (hal. 166) menyebutkan bahwa ayat ini berkaitan dengan seorang pemuda Anshar yang mengerjakan sholat bersama Rasulullah ﷺ namun masih melakukan perbuatan keji. Ketika dilaporkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Sholatnya itu yang akan mencegahnya." Dan benar — tidak lama kemudian pemuda itu meninggalkan perbuatan kejinya.

Tafsir Ulama: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 631):

"Sholat yang benar-benar didirikan dengan sempurna — dengan kehadiran hati, pemahaman makna bacaan, dan penghayatan gerakan — pasti akan membawa pengaruh positif pada akhlak dan perilaku seseorang. Jika sholatnya tidak memberi pengaruh apapun, itu pertanda sholat itu belum sempurna."


Dalil 3 — Penjagaan Sholat

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua sholat dan sholat wustha (Ashar). Dan laksanakanlah (sholat) karena Allah dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 238)

Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 3, hal. 209):

"Allah secara khusus menyebut sholat wustha (Ashar) untuk menunjukkan betapa pentingnya sholat di waktu yang paling sibuk. Sholat Ashar adalah waktu ketika manusia biasanya paling disibukkan dengan urusan duniawi — maka Allah menekankan untuk tetap menjaganya."


Dalil 4 — Sholat Diwajibkan pada Waktu-waktu Tertentu

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

"Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)


Sejarah Disyariatkannya Sholat — Malam Isra' Mi'raj

Sholat adalah satu-satunya ibadah yang disyariatkan langsung di langit — bukan melalui wahyu yang diturunkan ke bumi.

Kisah Agung Isra' Mi'raj

Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya." (QS. Al-Isra: 1)

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 3, hal. 108) meriwayatkan perjalanan Mi'raj secara lengkap:

Rasulullah ﷺ dinaikkan melewati tujuh langit, bertemu para nabi di setiap langit, hingga sampai ke Sidratul Muntaha — batas tertinggi yang pernah dicapai makhluk.

Di sinilah Allah mewajibkan sholat — awalnya 50 waktu sehari semalam.

Dalam perjalanan turun, Nabi Musa AS bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Apa yang Allah wajibkan atas umatmu?" "Lima puluh sholat," jawab Rasulullah ﷺ. "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan mampu," saran Nabi Musa.

Rasulullah ﷺ pun kembali kepada Allah berulang kali — hingga akhirnya sholat ditetapkan 5 waktu namun pahalanya tetap 50 waktu.

Allah berfirman: "Ketetapan-Ku tidak berubah. Lima waktu ini senilai dengan lima puluh waktu dalam timbangan." (HR. Bukhari No. 3887, Muslim No. 163 — Shahih)

Hikmah Luar Biasa: Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad (Jilid 1, hal. 195):

"Fakta bahwa sholat disyariatkan di langit secara langsung — bukan melalui wahyu seperti ibadah lainnya — menunjukkan betapa agungnya kedudukan sholat. Allah ingin Rasulullah ﷺ menerima kewajiban ini secara langsung, tanpa perantara, sebagai bukti betapa istimewanya sholat di sisi-Nya."


Syarat-Syarat Sholat

Syarat Wajib Sholat

Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (Jilid 1, hal. 390) menyebutkan:

  1. Islam — sholat tidak wajib bagi non-Muslim
  2. Berakal — tidak wajib bagi orang gila
  3. Baligh — tidak wajib bagi anak kecil, namun dianjurkan diajarkan sejak usia 7 tahun

Rasulullah ﷺ bersabda: "Perintahkanlah anak-anakmu untuk sholat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika berusia sepuluh tahun." (HR. Abu Dawud No. 495 — Hasan Shahih)

Syarat Sah Sholat

  1. Suci dari hadats — berwudhu atau mandi wajib
  2. Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis
  3. Menutup aurat — laki-laki dari pusar hingga lutut, perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
  4. Menghadap kiblat (Ka'bah)
  5. Masuk waktu sholat
  6. Niat

Waktu-Waktu Sholat Fardhu

Allah berfirman:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) Subuh. Sungguh, sholat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra: 78)

Sholat Waktu Mulai Waktu Berakhir Rakaat
Subuh Terbit fajar shadiq Terbit matahari 2 rakaat
Dzuhur Matahari tergelincir Bayangan = tinggi benda 4 rakaat
Ashar Setelah Dzuhur berakhir Terbenam matahari 4 rakaat
Maghrib Terbenam matahari Hilangnya mega merah 3 rakaat
Isya Setelah Maghrib berakhir Terbit fajar 4 rakaat

Rukun-Rukun Sholat

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' (Jilid 3, hal. 270) menyebutkan 13 rukun sholat:

1. Niat

Niat Sholat Subuh: أُصَلِّيْ فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى Ushalli fardhas subhi rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa "Aku niat sholat fardhu Subuh dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta'ala."

Niat Sholat Dzuhur: أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى Ushalli fardhazh zhuhri arba'a raka'aatin mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa

Niat Sholat Ashar: أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى Ushalli fardhal 'ashri arba'a raka'aatin mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa

Niat Sholat Maghrib: أُصَلِّيْ فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى Ushalli fardhal maghribi tsalaatsa raka'aatin mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa

Niat Sholat Isya: أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى Ushalli fardhal 'isyaa'i arba'a raka'aatin mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa


2. Takbiratul Ihram

Arab: اَللهُ أَكْبَرُ

Latin: Allahu Akbar

Terjemahan: "Allah Maha Besar"

Ini adalah pintu masuk sholat. Imam Ibnu Rajab dalam Fathul Bari (Jilid 2, hal. 220):

"Makna takbiratul ihram adalah: Allah lebih besar dari segala sesuatu yang kamu tinggalkan untuk menghadap-Nya — lebih besar dari dunia, harta, keluarga, dan seluruh kesibukanmu."


3. Berdiri bagi yang Mampu

Rasulullah ﷺ bersabda: "Sholatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu, maka dengan berbaring." (HR. Bukhari No. 1117 — Shahih)


4. Membaca Al-Fatihah

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah." (HR. Bukhari No. 756, Muslim No. 394 — Shahih)

Bacaan Al-Fatihah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Keutamaan Al-Fatihah: Allah berfirman dalam Hadits Qudsi: "Aku membagi sholat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku — dan hamba-Ku mendapat apa yang ia minta."

Ketika hamba membaca "Alhamdulillahi Rabbil 'aalamin" — Allah menjawab: "Hamba-Ku memuji-Ku." Ketika membaca "Ar-Rahmanir Rahim" — Allah menjawab: "Hamba-Ku menyanjung-Ku." Ketika membaca "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" — Allah menjawab: "Ini antara Aku dan hamba-Ku." Ketika membaca "Ihdinash shiratal mustaqim..." — Allah menjawab: "Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapat apa yang ia minta." (HR. Muslim No. 395 — Shahih)


5. Rukuk

Bacaan Rukuk: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ Subhaana Rabbiyal 'Azhiim — "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung" (3x)

Tuma'ninah (berhenti sejenak) adalah wajib dalam rukuk.

Rasulullah ﷺ pernah menegur seseorang yang sholatnya terburu-buru: "Kembalilah dan sholatlah, karena sesungguhnya kamu belum sholat." (HR. Bukhari No. 757, Muslim No. 397 — Shahih)


6. I'tidal

Bacaan saat bangkit dari rukuk: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ Sami'allaahu liman hamidah — "Allah mendengar orang yang memuji-Nya"

Bacaan setelah tegak berdiri: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih "Ya Tuhan kami, dan bagi-Mu segala puji dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah."


7. Sujud

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

"Saat paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim No. 482 — Shahih)

Bacaan Sujud: سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى Subhaana Rabbiyal A'laa — "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi" (3x)

Tujuh Anggota Sujud: Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh tulang: dahi (dan beliau menunjuk hidungnya), dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki." (HR. Bukhari No. 812, Muslim No. 490 — Shahih)


8. Duduk antara Dua Sujud

Bacaan: رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

Rabbighfir lii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa'aafinii wa'fu 'annii

"Ya Tuhanku, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku."


9. Tasyahud Akhir

Bacaan Tasyahud: اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Latin: At-tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalaamu 'alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah.

Terjemahan: "Segala kehormatan, keberkahan, sholawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah atasmu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Semoga keselamatan terlimpah atas kami dan atas seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."


10. Sholawat Ibrahim

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

(HR. Bukhari No. 3370, Muslim No. 406 — Shahih)


11. Salam

Arab: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Latin: Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaah

Diucapkan ke kanan dan ke kiri.


Doa Setelah Sholat yang Diajarkan Rasulullah ﷺ

Istighfar — 3 kali

أَسْتَغْفِرُ اللهَ Astaghfirullah

Tasbih, Tahmid, Takbir — 33-33-34 kali

سُبْحَانَ اللهِ (33x) — اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33x) — اَللهُ أَكْبَرُ (34x)

Keutamaan: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali setelah setiap sholat — sehingga genap 99 — kemudian melengkapinya dengan: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir — maka diampuni dosanya meskipun sebanyak buih lautan." (HR. Muslim No. 597 — Shahih)

Ayat Kursi — 1 kali

Keutamaan: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setelah setiap sholat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian." (HR. An-Nasa'i dalam As-Sunanul Kubra, Ibnu Hibban — Shahih)


Khusyuk dalam Sholat — Ruh dari Sholat

Pengertian Khusyuk

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (Jilid 1, hal. 520):

"Khusyuk adalah kehadiran hati di hadapan Allah, rasa rendah diri di hadapan keagungan-Nya, ketenangan anggota badan, dan penghayatan atas setiap bacaan dan gerakan sholat."

Dalil Kewajiban Khusyuk

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 5, hal. 456):

"Khusyuk dalam sholat adalah dengan menghadirkan hati sepenuhnya di hadapan Allah, meninggalkan pikiran tentang urusan dunia, dan merasakan bahwa ia sedang berdiri di hadapan Dzat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui."

Cara Meraih Khusyuk

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (Jilid 1, hal. 156) menyebutkan enam cara:

  1. Hadir hati — sadari bahwa kamu sedang berbicara langsung dengan Allah
  2. Memahami makna bacaan — pelajari arti setiap bacaan sholat
  3. Ta'zhim (mengagungkan Allah) — rasakan keagungan Allah yang kamu hadapi
  4. Khauf (rasa takut) — takut sholat tidak diterima karena banyak dosa
  5. Raja' (penuh harap) — harap Allah menerima sholat dengan ridha-Nya
  6. Haya' (rasa malu) — malu kepada Allah karena lalai dalam sholat

Ancaman bagi yang Meninggalkan Sholat

Dalil Al-Qur'an

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

"Maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya." (QS. Al-Ma'un: 4-5)

Dalil Hadits

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

"Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan sholat." (HR. Muslim No. 82 — Shahih)

Pendapat Ulama: Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

"Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja tanpa udzur adalah kafir — keluar dari Islam." (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, Jilid 2, hal. 306)

Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

"Ia tidak kafir, tetapi wajib dihukum had (ta'zir) karena meninggalkan kewajiban yang paling agung." (Al-Umm, Imam Syafi'i, Jilid 1, hal. 68)


Keutamaan Sholat Berjamaah

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

"Sholat berjamaah melebihi sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari No. 645, Muslim No. 650 — Shahih)


Kisah-Kisah Inspiratif tentang Sholat

Kisah 1: Ali bin Abi Thalib — Cabut Anak Panah saat Sholat

Dalam satu riwayat yang masyhur, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah tertancap anak panah di kakinya dalam sebuah pertempuran. Anak panah itu tidak bisa dicabut karena rasa sakitnya yang luar biasa.

Sahabat yang lain menyarankan untuk mencabutnya ketika Ali sedang sholat — karena mereka tahu bahwa ketika Ali sholat, ia tidak akan merasakan sakit apapun karena begitu khusyuknya ia.

Maka ketika Ali berdiri dalam sholatnya, anak panah itu dicabut — dan Ali tidak merasakan sakit sedikit pun.

(Disebutkan dalam Hilyatul Auliya — Imam Abu Nu'aim Al-Asfahani, Jilid 1, hal. 73)

Hikmah: Inilah khusyuk yang sesungguhnya — ketika sholat menjadi penghalang antara hati dengan seluruh gangguan duniawi.


Kisah 2: Umar bin Abdul Aziz — Sholat yang Mengubah Dunia

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah — khalifah yang dijuluki "Khalifah Kelima yang Adil" — terkenal dengan sholatnya yang sangat khusyuk.

Diriwayatkan bahwa ketika Umar berwudhu untuk sholat, wajahnya berubah pucat. Istrinya bertanya heran: "Apa yang terjadi padamu setiap kali hendak sholat?"

Umar menjawab:

"Aku akan menghadap Dzat Yang Maha Agung. Sudah sepatutnya wajahku berubah di hadapan kebesaran-Nya."

(Disebutkan dalam Siyar A'lamin Nubala' — Imam Adz-Dzahabi, Jilid 5, hal. 131)

Hikmah: Pemimpin yang sholatnya khusyuk akan menjadi pemimpin yang adil dan amanah. Keadilan Umar bin Abdul Aziz lahir dari khusyuknya dalam sholat.


Kisah 3: Muslim bin Yasar — Masjid Runtuh, Sholatnya Tidak Terganggu

Muslim bin Yasar rahimahullah adalah seorang tabi'in yang terkenal dengan khusyuknya dalam sholat.

Suatu hari ketika ia sedang sholat, sebagian atap masjid runtuh dan menimbulkan suara yang sangat keras. Seluruh orang yang ada di masjid berlarian keluar dengan panik.

Muslim bin Yasar tidak bergerak. Ia tetap dalam sholatnya seolah tidak mendengar dan tidak merasakan apapun.

Setelah sholat selesai dan orang-orang kembali, mereka bertanya: "Apakah kamu tidak mendengar suara itu?"

Muslim menjawab:

"Tidak. Aku tidak mendengar apapun."

(Disebutkan dalam Hilyatul Auliya — Imam Abu Nu'aim, Jilid 2, hal. 293)


Sholat-Sholat Sunnah yang Dianjurkan

1. Sholat Rawatib — Penjaga Sholat Fardhu

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang sholat 12 rakaat (rawatib) dalam sehari semalam, Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga." (HR. Muslim No. 728 — Shahih)

Waktu Rakaat Hukum
Sebelum Subuh 2 rakaat Sunnah muakkadah
Sebelum Dzuhur 4 rakaat Sunnah muakkadah
Sesudah Dzuhur 2 rakaat Sunnah muakkadah
Sesudah Maghrib 2 rakaat Sunnah muakkadah
Sesudah Isya 2 rakaat Sunnah muakkadah

2. Sholat Dhuha

Waktu: Setelah matahari naik hingga menjelang Dzuhur Rakaat: Minimal 2, terbaik 8 rakaat

3. Sholat Tahajud

Waktu: Sepertiga malam terakhir Dalil: QS. Al-Isra: 79

4. Sholat Witir

Waktu: Setelah Isya hingga sebelum Subuh Hukum: Sunnah muakkadah — Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkannya


Penutup yang Menggugah

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Lima kali sehari Allah memanggil kamu. Lima kali sehari Ada pintu langit yang terbuka untukmu. Lima kali sehari ada kesempatan untuk meninggalkan dosa-dosa dan kembali bersih.

Rasulullah ﷺ menggambarkan sholat dengan perumpamaan yang sangat indah:

"Bagaimana pendapat kalian jika ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya lima kali sehari — apakah masih tersisa kotoran di badannya?"

Para sahabat menjawab: "Tidak ada kotoran yang tersisa."

Rasulullah ﷺ bersabda: "Demikianlah perumpamaan sholat lima waktu — Allah menghapus dosa-dosa dengannya." (HR. Bukhari No. 528, Muslim No. 667 — Shahih)

Maka jadikanlah sholat bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan — tetapi kerinduan yang selalu dinantikan. Karena setiap kali kamu sujud, Allah memandangmu dengan penuh kasih sayang dan berkata kepada para malaikat-Nya:

"Lihatlah hamba-Ku — ia merendahkan dirinya untuk-Ku."

Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mendirikan sholat dengan sempurna, khusyuk, dan istiqomah hingga akhir hayat.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🤲


Daftar Kitab Rujukan

  1. Ash-Sholah wa Hukmut Tarikiha — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
  2. Zaadul Ma'ad — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
  3. Madarijus Salikin — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
  4. Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab — Imam An-Nawawi, Jilid 3
  5. Al-Mughni — Imam Ibnu Qudamah, Jilid 1 & 2
  6. Al-Umm — Imam Syafi'i, Jilid 1
  7. Ihya Ulumuddin — Imam Al-Ghazali, Jilid 1
  8. Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, 5
  9. Tafsir Al-Qurthubi — Imam Al-Qurthubi, Jilid 3
  10. Taisir Karimir Rahman — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
  11. Al-Bidayah wan Nihayah — Imam Ibnu Katsir, Jilid 3
  12. Fathul Bari — Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Jilid 2
  13. Siyar A'lamin Nubala' — Imam Adz-Dzahabi, Jilid 5
  14. Hilyatul Auliya — Imam Abu Nu'aim Al-Asfahani, Jilid 1, 2
  15. Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul — Imam As-Suyuthi
  16. Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an — Imam Al-Raghib Al-Asfahani
  17. Lisanul Arab — Imam Ibnu Manzhur, Jilid 14
  18. Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
  19. Shahih Muslim — Imam Muslim
  20. Sunan Abu Dawud — Imam Abu Dawud
  21. Sunan Tirmidzi — Imam At-Tirmidzi

Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Fiqih & Ibadah Tag: Sholat, Tata Cara Sholat, Rukun Sholat, Bacaan Sholat, Niat Sholat, Khusyuk, Keutamaan Sholat

Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar