Tauhid: Fondasi Islam yang Paling Agung — Pengertian, Pembagian, Dalil, Kisah, dan Cara Memperkuatnya
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Akidah & Tauhid Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Ada satu kata yang menjadi inti dari seluruh risalah para nabi — dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad ﷺ. Satu kalimat yang karenanya langit dan bumi diciptakan, para rasul diutus, dan kitab-kitab diturunkan.
Laa ilaaha illallah — Tidak ada Tuhan selain Allah.
Inilah Tauhid — fondasi terkuat yang menopang seluruh bangunan Islam.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (Jilid 1, hal. 23) berkata:
"Tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam, ruh dari setiap ibadah, dan kunci dari setiap kebaikan. Seluruh kebaikan di dunia dan akhirat bersumber dari tauhid, dan seluruh keburukan bersumber dari meninggalkannya. Tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat tauhid, dan tidak ada musibah yang lebih besar dari kehilangan tauhid."
Pengertian Tauhid
Secara Bahasa
Tauhid (تَوْحِيد) berasal dari kata wahhada - yuwahhidu yang berarti menjadikan sesuatu satu atau mengesakan.
Imam Al-Raghib Al-Asfahani dalam Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an (hal. 515):
"At-tauhid adalah menetapkan sesuatu sebagai satu — baik dari sisi dzat, sifat, maupun perbuatan. Tauhid kepada Allah berarti menetapkan bahwa Allah adalah satu-satunya dalam segala aspek ketuhanan."
Secara Istilah
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid (hal. 3):
"Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah — tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, baik malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus."
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsatil Ushul (hal. 12):
"Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam Rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, serta Asma' dan Sifat-Nya — dan mengamalkan konsekuensi keyakinan itu dalam kehidupan nyata."
Tauhid dalam Al-Qur'an
Dalil 1 — Kalimat Tauhid adalah Kunci Surga
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ
"Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu." (QS. Muhammad: 19)
Asbabun Nuzul: Imam As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul (hal. 218):
"Ayat ini turun sebagai perintah kepada Nabi Muhammad ﷺ — dan melalui beliau kepada seluruh umatnya — untuk senantiasa memperbarui pengetahuan dan penghayatan tentang tauhid. Mendahulukan ilmu tauhid sebelum istighfar menunjukkan bahwa tauhid adalah fondasi dari seluruh amal."
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 7, hal. 308):
"Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat penting: tauhid bukan sekadar diucapkan — ia harus diketahui (fa'lam = ketahuilah). Ilmu tentang tauhid mendahului amal. Seseorang tidak bisa mengamalkan tauhid dengan benar jika ia tidak memahaminya."
Dalil 2 — Tauhid adalah Misi Seluruh Nabi
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut.'" (QS. An-Nahl: 36)
Tafsir Ulama: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 431):
"Ayat ini adalah bukti bahwa dakwah tauhid adalah misi universal yang dibawa oleh seluruh nabi — bukan hanya nabi tertentu atau untuk umat tertentu. Dari Nabi Nuh AS hingga Nabi Muhammad ﷺ, inti dakwahnya sama: sembah Allah semata dan tinggalkan segala sesembahan selain-Nya."
Dalil 3 — Syirik adalah Dosa yang Tidak Diampuni
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa: 48)
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 5, hal. 265):
"Ayat ini adalah yang paling tegas dalam Al-Qur'an tentang keharaman syirik. Allah mengecualikan hanya satu dosa dari ampunan-Nya yang luas — yaitu syirik. Ini menunjukkan betapa berbahayanya syirik: ia bukan hanya dosa besar, tetapi dosa yang memutus seseorang dari rahmat Allah jika ia meninggal dalam keadaan musyrik."
Dalil 4 — Tauhid Mendatangkan Keamanan dan Hidayah
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82)
Asbabun Nuzul: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 3, hal. 291) menyebutkan: Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa khawatir — mereka bertanya: "Siapa di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri?"
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa "kezaliman" dalam ayat ini bukan maksiat biasa, tetapi syirik — berdasarkan QS. Luqman: 13: "Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar." Maka para sahabat pun tenang.
Tafsir Ulama: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 263):
"Ayat ini mengandung janji Allah yang sangat indah: barangsiapa yang beriman dengan benar dan menjaga tauhidnya dari noda syirik, Allah menjamin dua hal untuknya: keamanan (dari azab) dan hidayah (di jalan yang lurus). Tidak ada keamanan sejati di dunia dan akhirat kecuali melalui tauhid."
Tiga Pembagian Tauhid
Para ulama — terutama ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah — membagi tauhid menjadi tiga jenis yang saling berkaitan:
1. Tauhid Rububiyyah
Definisi: Meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur seluruh alam semesta.
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Al-Qaulul Mufid (Jilid 1, hal. 7):
"Tauhid Rububiyyah adalah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb — yang menciptakan segala sesuatu, yang memiliki seluruh kerajaan, yang mengatur seluruh urusan alam semesta. Tidak ada pencipta selain Dia, tidak ada pemberi rezeki selain Dia, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan selain Dia."
Dalil:
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
"Katakanlah: 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: 'Allah.'" (QS. Yunus: 31)
Catatan Penting: Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (Jilid 1, hal. 28):
"Tauhid Rububiyyah saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang Muslim. Kaum musyrikin Quraisy pun mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemelihara alam semesta — namun mereka tetap disebut musyrik karena tidak mengamalkan Tauhid Uluhiyyah."
2. Tauhid Uluhiyyah
Definisi: Mengesakan Allah dalam seluruh ibadah — tidak mempersembahkan satu pun bentuk ibadah kepada selain Allah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid (hal. 5):
"Tauhid Uluhiyyah adalah inti dari dakwah para rasul dan inti dari kalimat laa ilaaha illallah. Maknanya adalah: tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata."
Dalil:
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
"Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 163)
Ibadah yang Harus Ditauhidkan: Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad (Jilid 1, hal. 32) menyebutkan seluruh ibadah harus hanya untuk Allah:
- Sholat, puasa, zakat, haji
- Doa dan permohonan
- Rasa takut (khauf) dan harapan (raja')
- Tawakal dan penyerahan diri
- Cinta (mahabbah) dan pengagungan
- Nadzar dan sembelihan
3. Tauhid Asma' wa Sifat
Definisi: Menetapkan seluruh nama dan sifat Allah yang Dia tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa:
- Ta'thil — menolak atau mengingkari sifat Allah
- Tahrif — mengubah makna sifat Allah
- Tamtsil — menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk
- Takyif — menentukan bagaimana sifat Allah
Dalil:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. As-Syura: 11)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 7, hal. 189):
"Ayat ini mengandung dua prinsip penting sekaligus: 'Laisa kamitslihi syai'un' — tidak ada yang menyerupai Allah, ini menolak tamtsil dan tasybiih. 'Wa huwas Samii'ul Bashiir' — dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, ini menetapkan sifat-sifat Allah. Jadi kita menetapkan sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk."
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
"Kami menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, dan kami menolak semua yang Allah tolak dari diri-Nya. Kami tidak melampaui Al-Qur'an dan Sunnah." (Disebutkan dalam Thabaqat Al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya'la, Jilid 1, hal. 241)
Hubungan Tiga Tauhid
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 15) menjelaskan:
"Ketiga jenis tauhid ini saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Seseorang yang mengakui Rububiyyah Allah seharusnya mengamalkan Uluhiyyah-Nya. Dan seseorang yang mengamalkan Uluhiyyah harus berdasarkan pemahaman yang benar tentang Asma' wa Sifat-Nya. Ketiganya adalah satu paket yang utuh — tidak sempurna jika salah satunya ditinggalkan."
Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallah
Dua Rukun Kalimat Tauhid
Rukun Pertama — An-Nafyu (Penolakan): لَا إِلَٰهَ — "Tidak ada ilah (yang berhak disembah)" Menolak seluruh sesembahan selain Allah.
Rukun Kedua — Al-Itsbat (Penetapan): إِلَّا اللَّهُ — "Kecuali Allah" Menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid (hal. 6):
"Banyak orang mengucapkan laa ilaaha illallah namun tidak memahami maknanya. Makna sesungguhnya adalah: aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata — dan aku melepaskan diri dari segala sesembahan selain-Nya."
Syarat-Syarat Kalimat Tauhid
Para ulama menyebutkan 7 syarat agar kalimat tauhid memberi manfaat:
Imam Ahmad bin Hanbal merangkumnya dalam sebuah riwayat. Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsatil Ushul (hal. 37) menjelaskannya:
| No | Syarat | Makna |
|---|---|---|
| 1 | Al-'Ilmu | Mengetahui maknanya |
| 2 | Al-Yaqin | Yakin tanpa keraguan |
| 3 | Al-Qabul | Menerima dengan hati dan lisan |
| 4 | Al-Inqiyad | Tunduk dan patuh pada konsekuensinya |
| 5 | Ash-Shidqu | Jujur dari lubuk hati |
| 6 | Al-Ikhlas | Ikhlas semata-mata karena Allah |
| 7 | Al-Mahabbah | Mencintai kalimat ini dan konsekuensinya |
Buah-Buah Tauhid
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid (hal. 143) menyebutkan buah-buah tauhid yang luar biasa:
1. Keamanan di Dunia dan Akhirat
Sebagaimana dalam QS. Al-An'am: 82 yang sudah disebutkan.
2. Diampuni Seluruh Dosa
Rasulullah ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi: "Wahai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula." (HR. Tirmidzi No. 3540 — Hasan)
3. Masuk Surga
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, ia pasti masuk surga." (HR. Muslim No. 26 — Shahih)
4. Ketenangan Jiwa
Allah berfirman: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
5. Pertolongan Allah di Saat Sulit
Rasulullah ﷺ bersabda: "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu." (HR. Tirmidzi No. 2516 — Hasan Shahih)
Ancaman Syirik — Lawan dari Tauhid
Pengertian Syirik
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Al-Qaulul Mufid (Jilid 1, hal. 95):
"Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah — baik dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, maupun Asma' wa Sifat."
Dua Jenis Syirik
Syirik Besar (Akbar): Memalingkan ibadah kepada selain Allah — seperti menyembah berhala, memohon kepada orang yang sudah meninggal, dll. Pelakunya keluar dari Islam jika meninggal dalam keadaan demikian.
Syirik Kecil (Ashghar): Perbuatan yang disebut syirik oleh syariat namun tidak mengeluarkan dari Islam, yang paling utama adalah Riya (pamer dalam ibadah).
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apa itu syirik kecil, ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "Riya." (HR. Ahmad No. 23630 — Hasan)
Kisah-Kisah tentang Kekuatan Tauhid
Kisah 1: Nabi Ibrahim AS — Tauhid yang Mengalahkan Api
Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah teladan tauhid terbesar dalam sejarah. Ketika dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala karena menghancurkan berhala, ia tidak goyah sedikit pun. Malaikat Jibril datang menawarkan bantuan, namun Ibrahim menjawab:
"Adapun darimu, aku tidak butuh. Adapun dari Allah — cukuplah Allah bagiku."
Dan api pun menjadi dingin dan sejuk bagi Ibrahim.
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
"Kami berfirman: 'Wahai api! Jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!'" (QS. Al-Anbiya: 69)
Hikmah: Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad (Jilid 1, hal. 81):
"Ibrahim tidak diselamatkan oleh kekuatannya, kepandaiannya, atau statusnya sebagai nabi semata. Ia diselamatkan oleh tauhidnya yang sempurna — keyakinan mutlak bahwa hanya Allah yang berkuasa, dan hanya kepada Allah ia bergantung. Inilah yang mengubah api menjadi dingin."
Kisah 2: Bilal bin Rabah — Tauhid yang Mengalahkan Siksaan
Di bawah terik matahari Makkah yang membakar, di atas hamparan pasir yang panas membara, Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu dibaringkan dan ditindih batu besar oleh tuannya Umayyah bin Khalaf.
Setiap kali ditanya apakah ia mau meninggalkan Islam, Bilal hanya mengulang satu kata:
"Ahad... Ahad... Ahad..." (Allah Yang Maha Esa)
Siksaan demi siksaan ia tanggung, namun kalimat tauhid itu tidak pernah berhenti dari lisannya. Ketika Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memerdekakan Bilal, Umayyah berkata: "Ambillah dia — demi Lata dan Uzza, seandainya kamu menawarkan satu uqiyah aku tidak akan menjualnya."
Abu Bakar menjawab: "Demi Allah, seandainya kamu meminta seratus uqiyah aku akan membayarnya."
Bertahun-tahun kemudian, suara Bilal yang dulu hanya bisa berteriak "Ahad" di bawah siksaan — kini mengumandangkan adzan di atas Ka'bah pada hari penaklukan Makkah.
(As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, Jilid 1, hal. 318)
Hikmah: Tauhid yang sejati tidak goyah oleh siksaan fisik apapun. Karena orang yang meyakini kebesaran Allah tidak akan merasa takut kepada selain-Nya.
Kisah 3: Luqmanul Hakim — Wasiat Tauhid kepada Anaknya
Allah mengabadikan wasiat Luqman kepada anaknya sebagai contoh terbaik dalam mendidik anak tentang tauhid:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 6, hal. 331):
"Luqman memulai wasiatnya kepada anaknya dengan larangan syirik — bukan dengan larangan mencuri, berzina, atau dosa besar lainnya. Ini mengajarkan bahwa hal pertama yang harus ditanamkan kepada anak adalah tauhid. Jika tauhidnya benar, seluruh amalnya akan benar."
Hikmah: Orang tua yang bijaksana adalah yang pertama-tama mengajarkan tauhid kepada anaknya — bukan hanya ilmu dunia, harta, atau jabatan.
Cara Memperkuat Tauhid
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsatil Ushul (hal. 45) memberikan panduan:
1. Pelajari Ilmu Tauhid
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, Allah pahamkan ia dalam agama." (HR. Bukhari No. 71, Muslim No. 1037 — Shahih)
2. Baca dan Tadabburi Al-Qur'an
Al-Qur'an penuh dengan ayat-ayat yang memperkuat tauhid — mulai dari sifat-sifat Allah, kisah para nabi, hingga bukti keesaan Allah di alam semesta.
3. Perbanyak Dzikrullah
Zikir adalah nutrisi tauhid. Semakin sering mengingat Allah, semakin kuat keyakinan tentang keesaan-Nya.
4. Renungkan Ciptaan Allah
Allah memerintahkan kita untuk merenungkan alam semesta: أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ "Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?" (QS. Al-Ghasyiyah: 17)
5. Jauhi Lingkungan Syirik
Pergaulan yang buruk bisa merusak tauhid secara perlahan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Seseorang mengikuti agama temannya, maka perhatikanlah siapa yang kalian jadikan teman." (HR. Abu Dawud No. 4833 — Hasan)
6. Sering Membaca Doa Perlindungan Tauhid
Doa agar Tidak Menyekutukan Allah:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allahumma innii a'uudzubika an usyrika bika wa ana a'lam, wa astaghfiruka limaa laa a'lam
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad — Shahih, dikuatkan oleh Al-Albani)
Penutup
Tauhid bukan hanya kalimat yang diucapkan di lidah. Tauhid adalah keyakinan yang tertanam di hati, yang tampak dalam setiap tindakan dan keputusan hidup.
Tauhid yang benar akan membuat seseorang tidak takut kepada selain Allah, tidak bergantung kepada selain Allah, dan tidak mencintai sesuatu melebihi kecintaannya kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim menutup pembahasannya tentang tauhid dalam Al-Fawaid (hal. 148) dengan kalimat yang sangat indah:
"Tauhid adalah surga di dunia sebelum surga di akhirat. Barangsiapa yang tidak masuk surga dunia — yaitu tauhid dan kedekatannya kepada Allah — maka ia tidak akan masuk surga akhirat. Dan barangsiapa yang masuk surga dunia, maka surga akhirat adalah hadiahnya."
Semoga Allah menjaga tauhid kita hingga akhir hayat, dan mengangkat kita kelak dengan kalimat Laa ilaaha illallah di lisan kita.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🤲
Daftar Kitab Rujukan
- Madarijus Salikin — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
- Al-Fawaid — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
- Zaadul Ma'ad — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
- Kitabut Tauhid — Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
- Syarh Tsalatsatil Ushul — Syaikh Ibnu Utsaimin
- Al-Qaulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid — Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 1
- Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah — Syaikh Ibnu Utsaimin
- Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 2, 3, 5, 6, 7
- Tafsir Al-Qurthubi — Imam Al-Qurthubi, Jilid 5
- Taisir Karimir Rahman — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
- Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an — Imam Al-Raghib Al-Asfahani
- Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul — Imam As-Suyuthi
- Thabaqat Al-Hanabilah — Ibnu Abi Ya'la, Jilid 1
- As-Sirah An-Nabawiyyah — Ibnu Hisyam, Jilid 1
- Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
- Shahih Muslim — Imam Muslim
- Sunan Tirmidzi — Imam At-Tirmidzi
- Musnad Ahmad — Imam Ahmad bin Hanbal
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Akidah & Tauhid Tag: Tauhid, Pengertian Tauhid, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Asma wa Sifat, Laa Ilaaha Illallah, Syirik
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar
Posting Komentar