Kisah Umar bin Khattab: Khalifah yang Ditakuti Setan, Dicintai Rakyat, dan Dimuliakan Allah
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Ada seorang manusia yang ketika ia berjalan di lorong, setan memilih jalan lain untuk menghindarinya. Ada seorang manusia yang pendapatnya sering dibenarkan oleh wahyu Allah. Ada seorang manusia yang di bawah kepemimpinannya, Islam menaklukkan dua kerajaan terbesar di zamannya — Persia dan Romawi.
Dialah Umar bin Khattab Al-Faruq radhiyallahu 'anhu — manusia kedua terbaik setelah Abu Bakar As-Shiddiq di kalangan umat Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ
"Seandainya ada nabi setelahku, niscaya ia adalah Umar bin Khattab." (HR. Tirmidzi No. 3686 — Hasan)
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 305) membuka biografi Umar dengan kalimat:
"Umar bin Khattab adalah pemimpin para syuhada, pemimpin para wali Allah, dan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Ia adalah teladan kepemimpinan yang adil, kezuhudan yang tulus, dan keberanian yang bersandar kepada Allah."
Siapakah Umar bin Khattab?
Nama lengkap: Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza Al-Qurasyi Al-Adawi
Nasab: Bertemu nasabnya dengan Rasulullah ﷺ pada Ka'ab bin Lu'ay
Kunyah: Abu Hafs
Gelar-gelar mulia:
- Al-Faruq — Yang membedakan antara hak dan batil (gelar dari Rasulullah ﷺ)
- Amirul Mukminin — Pemimpin orang-orang beriman (gelar khalifah pertama yang disebut demikian)
Lahir: 13 tahun sebelum kenabian (sekitar 584 M)
Wafat: 26 Dzulhijjah tahun 23 H, dibunuh oleh Abu Lu'lu'ah Al-Majusi
Masa Kekhilafahan: 10 tahun, 6 bulan, 4 hari
(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 7, hal. 1)
Fase 1: Sebelum Islam — Musuh yang Paling Ditakuti
Kepribadian Umar Sebelum Islam
Umar bin Khattab sebelum masuk Islam adalah salah satu tokoh Quraisy yang paling disegani, ditakuti, dan berpengaruh. Ia adalah:
- Seorang ahli debat yang tidak pernah kalah
- Seorang pejuang yang tidak mengenal takut
- Seorang pembenci Islam yang paling keras
- Seorang yang pernah menguburkan anak perempuannya hidup-hidup sesuai tradisi jahiliyah
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 3, hal. 78):
"Umar adalah salah satu dari dua orang yang paling Rasulullah ﷺ harapkan masuk Islam — yang satu adalah Umar bin Khattab dan yang lain adalah Abu Jahl. Dan Allah memilihkan Umar untuk hidayah ini."
Rasulullah ﷺ berdoa: "Ya Allah, kuatkan Islam dengan salah satu dari dua Umar — Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam (Abu Jahl)." (HR. Tirmidzi No. 3681 — Hasan)
Islamnya Umar — Momen yang Menggetarkan Sejarah
Kisah Islamnya Umar sudah dibahas sebagian di artikel sebelumnya. Namun ada satu detail yang sangat mengharukan:
Ketika Umar pergi ke rumah adiknya dan mendengar bacaan Al-Qur'an Surat Thaha, kemudian membacanya dan hatinya tergetar — ia langsung pergi menemui Rasulullah ﷺ.
Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bersama para sahabat di rumah Al-Arqam. Ketika terdengar suara Umar mengetuk pintu, para sahabat ketakutan karena mereka tahu siapa Umar.
Namun Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu 'anhu — paman Rasulullah yang terkenal dengan keberaniannya — berkata: "Biarkan ia masuk. Jika ia datang dengan niat baik, kita terima. Jika ia datang untuk keburukan, kita hadapi."
Ketika Umar masuk dan mengucapkan syahadat, para sahabat serentak bertakbir hingga suaranya terdengar di seluruh lembah Makkah.
(As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, Jilid 1, hal. 371)
Hikmah: Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 3, hal. 84):
"Islamnya Umar adalah salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Islam. Sebelum Umar masuk Islam, kaum Muslim beribadah secara sembunyi-sembunyi. Setelah Umar masuk Islam, ia langsung menantang Quraisy secara terang-terangan dan kaum Muslim bisa sholat di depan Ka'bah."
Fase 2: Bersama Rasulullah ﷺ — Sahabat yang Paling Tegas
Umar dan Wahyu yang Membenarkan Pendapatnya
Salah satu keistimewaan Umar yang paling luar biasa adalah bahwa Allah sering menurunkan wahyu yang sesuai dengan pendapat dan usulannya. Ini dikenal sebagai muwafaqatul Qur'an li Umar (kesesuaian Al-Qur'an dengan Umar).
Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa (hal. 132) menyebutkan beberapa contoh:
1. Perintah Berhijab Umar pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Ya Rasulullah, orang baik dan orang jahat masuk ke rumahmu. Seandainya engkau memerintahkan para istrimu untuk berhijab..." Maka turunlah ayat hijab: (QS. Al-Ahzab: 53)
2. Maqam Ibrahim Umar berkata: "Ya Rasulullah, seandainya kita menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat sholat..." Maka turunlah: "Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat sholat." (QS. Al-Baqarah: 125)
3. Hukuman Orang Munafik Umar mengusulkan agar orang-orang munafik tidak disholati dan Allah menurunkan ayat yang melarang Rasulullah mensholati orang munafik: (QS. At-Taubah: 84)
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya." (HR. Tirmidzi No. 3682 — Hasan)
Umar dan Setan
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Umar:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكاً فَجّاً قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجّاً غَيْرَ فَجِّكَ
"Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah setan melihatmu berjalan di suatu jalan melainkan ia mengambil jalan lain selain jalanmu." (HR. Bukhari No. 3683, Muslim No. 2396 — Shahih)
Penjelasan Ulama: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Jilid 15, hal. 167):
"Hadits ini adalah bukti nyata kemuliaan Umar di sisi Allah. Setan takut kepada Umar bukan karena kekuatan fisiknya — tetapi karena kekuatan imannya, ketulusannya dalam membela kebenaran, dan ketegasannya dalam menegakkan agama Allah."
Fase 3: Kekhilafahan Umar — 10 Tahun yang Mengubah Dunia
Kepemimpinan yang Revolusioner
Umar bin Khattab menjadi khalifah setelah Abu Bakar As-Shiddiq wafat pada tahun 13 H. Selama 10 tahun kepemimpinannya, Umar melakukan revolusi besar dalam tata kelola negara Islam:
Inovasi-inovasi Umar:
- Membentuk Diwan — sistem administrasi negara pertama dalam Islam
- Menetapkan Kalender Hijriyah — dimulai dari peristiwa Hijrah
- Membentuk sistem gaji untuk tentara dan pejabat negara
- Membangun sistem pengadilan yang independen
- Menetapkan harga pasar untuk mencegah penipuan
- Membangun kota-kota baru — Kufah dan Bashrah
(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 7, hal. 128)
Penaklukan yang Mengagumkan
Di bawah kepemimpinan Umar, Islam menaklukkan wilayah yang sangat luas:
| Wilayah | Tahun | Panglima |
|---|---|---|
| Persia (Iran) | 16-21 H | Sa'ad bin Abi Waqqash |
| Syam (Suriah, Palestina) | 13-15 H | Abu Ubaidah bin Al-Jarrah |
| Mesir | 18-21 H | Amr bin Al-Ash |
| Iraq | 14-16 H | Sa'ad bin Abi Waqqash |
| Yerusalem (Al-Quds) | 15 H | Umar sendiri yang menerimanya |
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 7, hal. 56):
"Penaklukan-penaklukan di masa Umar adalah yang terbesar dalam sejarah Islam. Dalam 10 tahun, Islam menyebar dari Persia di timur hingga Libya di barat, dari Armenia di utara hingga Yaman di selatan."
Kisah 1: Umar dan Malam-malam Rakyatnya
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 350) meriwayatkan:
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memiliki kebiasaan yang sangat istimewa — setiap malam ia berkeliling kota Madinah seorang diri atau bersama satu orang kepercayaannya untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan atau dalam kesulitan.
Suatu malam ia menemukan seorang wanita yang memasak batu di atas tungku sementara anak-anaknya menangis kelaparan. Umar bertanya:
"Apa yang kamu masak, wahai ibu?"
Wanita itu menjawab sambil menangis: "Batu. Aku memasak batu agar anak-anakku mengira aku sedang memasak makanan, sehingga mereka tertidur kelelahan menunggu."
Umar berlari ke Baitul Mal, memikul sendiri karung gandum dan bahan makanan di punggungnya, dan mengantarkannya ke keluarga itu.
Ketika pagi tiba dan wanita itu bertanya siapa yang menolongnya, ia tidak menyangka bahwa yang membantunya adalah sang khalifah sendiri.
Umar berkata setelah itu:
"Demi Allah, tidak ada seorang pun rakyatku yang kelaparan kecuali itu adalah kesalahanku."
(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 1, hal. 350)
Hikmah: Pemimpin yang sejati bukan yang duduk di kursi kebesaran dan menunggu rakyat datang kepadanya — tetapi yang turun langsung merasakan kehidupan rakyatnya.
Kisah 2: Umar dan Unta Hamil
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 7, hal. 134) meriwayatkan:
Suatu malam dalam perjalanannya berkeliling, Umar menemukan seekor unta yang hampir melahirkan, tergeletak di jalan dalam keadaan kepayahan. Umar turun dari untanya, mendekati unta itu, dan membantu proses kelahiran anaknya — dengan tangannya sendiri.
Aslam — budak Umar yang menemaninya — menawarkan untuk menggantikannya. Namun Umar menolak:
"Biarkan aku yang melakukannya. Unta ini adalah harta kaum Muslim yang diamanahkan kepadaku. Aku yang bertanggung jawab."
Hikmah: Umar memahami bahwa amanah kepemimpinan bukan hanya tentang urusan manusia — tetapi tentang seluruh makhluk yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Kisah 3: Umar, Kain, dan Keadilan
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 360) meriwayatkan:
Ketika Umar naik ke mimbar untuk berkhutbah dengan mengenakan jubah yang cukup besar, seseorang dari jamaah berdiri dan bertanya terang-terangan:
"Wahai Amirul Mukminin, kami tidak akan mendengar dan menaatimu sebelum engkau menjelaskan dari mana jubahmu berasal!"
Pasalnya, setiap orang hanya mendapat satu bagian kain dari pembagian — yang tidak cukup untuk membuat jubah sebesar yang Umar pakai.
Umar pun memanggil putranya, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, dan memintanya untuk bersaksi. Abdullah bersaksi bahwa ia telah memberikan jatah kainnya kepada ayahnya sehingga Umar memiliki dua bagian yang cukup untuk membuat jubah.
Mendengar penjelasan itu, orang yang bertanya tadi berkata: "Sekarang kami siap mendengar dan menaatimu!"
Hikmah: Kepemimpinan Umar dibangun di atas transparansi dan akuntabilitas. Ia tidak merasa tersinggung ditanya rakyatnya — justru ia menghargai pertanyaan itu sebagai bentuk pengawasan yang sehat.
Sifat-Sifat Mulia Umar bin Khattab
1. Keadilan yang Tidak Pandang Bulu
Umar pernah berkata:
"Tidak ada keistimewaan bagi putraku atau keluargaku atas rakyatku dalam urusan hak dan keadilan. Mereka sama di hadapanku."
2. Kezuhudan yang Mengagumkan
Meskipun menguasai kekayaan yang sangat besar sebagai khalifah, Umar hidup sangat sederhana. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 355):
"Umar menambal jubahnya dengan kulit. Gajinya sebagai khalifah hanya cukup untuk kebutuhan dasar. Padahal di bawah kekuasaannya mengalir kekayaan dari Persia, Mesir, dan Syam."
3. Keberanian yang Tak Tertandingi
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar." (HR. Tirmidzi No. 3682 — Hasan)
Umar tidak pernah takut menyampaikan kebenaran meskipun pahit — bahkan kepada Rasulullah ﷺ sekalipun ia berani mengungkapkan pendapatnya dengan sopan.
4. Tangisan karena Takut kepada Allah
Meskipun terkenal sebagai orang yang keras dan tegas, Umar adalah orang yang sangat mudah menangis karena takut kepada Allah.
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 363):
"Di wajah Umar terdapat dua garis hitam bekas air mata yang terus mengalir karena takutnya kepada Allah. Ia sering menangis hingga pingsan ketika membaca Al-Qur'an."
Wafatnya Umar — Syahid di Mihrab Sholat
Pada tahun 23 H, ketika Umar sedang memimpin sholat Subuh di Masjid Nabawi, seorang budak Persia bernama Abu Lu'lu'ah Al-Majusi — yang dihasut oleh musuh-musuh Islam — menusuknya dengan pisau beracun enam kali.
Umar jatuh namun masih sempat berkata: "Apakah seorang Muslim yang membunuhku?"
Ketika diberitahu bahwa pelakunya adalah Abu Lu'lu'ah, Umar berkata: "Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang Muslim."
Sebelum wafat, Umar berwasiat dan berkata:
"Seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, aku akan menebus dengan itu dari kesengsaraan di hari kiamat. Ya Allah, ampunilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 7, hal. 135)
Umar wafat pada tanggal 26 Dzulhijjah 23 H dan dikuburkan di sisi Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar As-Shiddiq.
Kata-Kata Hikmah Umar bin Khattab
Imam Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin (hal. 45) mengumpulkan:
1. "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang."
2. "Aku tidak peduli apakah aku bangun di pagi hari dalam keadaan kaya atau miskin — karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku."
3. "Belajarlah ilmu sebelum kamu menjadi pemimpin. Karena jika kamu sudah menjadi pemimpin, tidak ada lagi waktu untuk belajar."
4. "Orang yang paling aku cintai adalah orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku."
Penutup
Kisah Umar bin Khattab adalah kisah tentang transformasi yang paling dramatis dalam sejarah Islam — dari musuh Islam yang paling ditakuti menjadi pembela Islam yang paling dicintai.
Dan seluruh transformasi itu bermula dari satu ayat Al-Qur'an yang menyentuh hatinya di rumah adiknya.
Allah berfirman tentang orang-orang seperti Umar:
أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ
"Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya." (QS. Al-Mujadilah: 22)
Semoga Allah merahmati Umar bin Khattab, mengumpulkan kita bersamanya di surga, dan menjadikan kisahnya sebagai inspirasi bagi kita untuk terus berjuang di jalan Allah.
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ 🤲
Daftar Kitab Rujukan
- Siyar A'lamin Nubala' — Imam Adz-Dzahabi, Jilid 1
- Al-Bidayah wan Nihayah — Imam Ibnu Katsir, Jilid 3 & 7
- Tarikh Al-Khulafa — Imam As-Suyuthi
- Syarh Shahih Muslim — Imam An-Nawawi, Jilid 15
- Mukhtashar Minhajil Qashidin — Imam Ibnu Qudamah
- As-Sirah An-Nabawiyyah — Ibnu Hisyam, Jilid 1
- Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 3, 7
- Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
- Shahih Muslim — Imam Muslim
- Sunan Tirmidzi — Imam At-Tirmidzi
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Tag: Umar bin Khattab, Al-Faruq, Khalifah Kedua, Kisah Sahabat, Kepemimpinan Islam
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.
Komentar
Posting Komentar