Kisah Nabi Sulaiman AS: Raja Terkaya dan Terbijak Sepanjang Masa

 


Kisah Nabi Sulaiman AS: Raja Terkaya dan Terbijak Sepanjang Masa — Lengkap dengan Dalil, Tafsir, Hikmah, dan Pendapat Ulama

Oleh: Ashabussalam.Online Label: Kisah Para Nabi Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Pendahuluan

Dalam sejarah manusia, belum pernah ada seorang raja yang memiliki kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman 'alaihissalam.

Ia tidak hanya menguasai manusia — tetapi juga jin, angin, dan seluruh makhluk hidup. Ia bisa berbicara dengan burung dan memahami bahasa semut. Istananya terbuat dari bahan yang paling mewah, pasukannya terdiri dari manusia, jin, dan burung.

Namun di balik semua kemegahan itu, Sulaiman 'alaihissalam adalah hamba Allah yang paling bersyukur, hakim yang paling adil, dan nabi yang paling bijaksana.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا ۖ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya berkata: 'Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.'" (QS. An-Naml: 15)

Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa'adah (Jilid 1, hal. 248) berkata:

"Sulaiman adalah teladan terbaik tentang bagaimana seorang Muslim bisa memiliki dunia tanpa diperbudak olehnya. Ia adalah raja terkaya dalam sejarah — namun hatinya tidak pernah terikat kepada harta dan kekuasaan. Ia menggunakan semua yang dimilikinya untuk taat kepada Allah dan melayani kebenaran."


Siapakah Nabi Sulaiman AS?

Nama: Sulaiman bin Dawud 'alaihimassalam

Nasab: Putra Nabi Dawud AS, dari keturunan Nabi Ishaq AS, yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim AS

Gelar: Nabi, Raja, Hakim Terbijak

Kerajaan: Kerajaan terbesar yang pernah ada di muka bumi — meliputi manusia, jin, angin, dan binatang

Mukjizat:

  • Memahami bahasa burung dan hewan
  • Menguasai angin
  • Memerintah jin
  • Diberi ilmu dan hikmah yang luar biasa
  • Angin yang taat kepadanya
  • Tentara dari manusia, jin, dan burung

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 2, hal. 14)


Fase 1: Kebijaksanaan Sulaiman Sejak Muda

Kisah Dua Wanita dan Satu Bayi

Sebelum diangkat sebagai raja, kebijaksanaan Sulaiman AS sudah tampak sejak usia muda. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 2, hal. 15) meriwayatkan:

Suatu hari, dua orang wanita menghadap Nabi Dawud AS membawa satu bayi. Keduanya mengklaim sebagai ibu kandung bayi itu.

Dawud AS memutuskan hukum berdasarkan kesaksian dan bukti yang ada. Namun Sulaiman yang masih muda mengusulkan cara lain:

"Bawalah pisau. Kita belah bayi itu menjadi dua bagian — masing-masing mendapat satu bagian."

Wanita pertama langsung menjerit: "Jangan! Berikan saja bayi itu kepadanya — jangan dibunuh!"

Wanita kedua diam saja.

Sulaiman langsung mengetahui siapa ibu kandungnya — yaitu wanita yang rela menyerahkan bayinya daripada melihatnya terbunuh. Ibu sejati tidak akan rela anaknya dibunuh meskipun ia mendapat bagian.

(Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5, hal. 52, berkaitan dengan kisah Sulaiman)

Hikmah: Kebijaksanaan Sulaiman bukan sekadar kecerdasan intelektual — tetapi pemahaman mendalam tentang fitrah manusia. Inilah ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya.


Fase 2: Pengutusan dan Karunia Luar Biasa

Doa Sulaiman yang Dikabulkan

Ketika Sulaiman AS diangkat menjadi raja, ia memanjatkan doa yang sangat indah:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

"Dia (Sulaiman) berkata: 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.'" (QS. Shad: 35)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 7, hal. 52):

"Sulaiman memulai doanya dengan memohon ampunan — mendahulukan hubungannya dengan Allah sebelum meminta karunia duniawi. Ini adalah adab berdoa yang sempurna: bersihkan dirimu di hadapan Allah terlebih dahulu, baru memohon apa yang kamu inginkan."

Allah pun mengabulkan doanya dengan karunia yang tidak pernah diberikan kepada manusia manapun sebelum atau sesudahnya:

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ. وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ. وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ

"Maka Kami tundukkan angin untuknya yang berhembus lembut sesuai perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu." (QS. Shad: 36-38)


Karunia Memahami Bahasa Hewan

Allah berfirman:

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ ۖ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

"Dan Sulaiman mewarisi (kerajaan) Dawud dan dia berkata: 'Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami telah diberi segala sesuatu. Sungguh, semua ini benar-benar karunia yang nyata.'" (QS. An-Naml: 16)

Tafsir Ulama: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 596):

"Ketika Sulaiman menyebut karunia Allah kepadanya, ia tidak berkata 'aku telah mendapatkan' — tetapi 'kami telah diajari.' Ini menunjukkan kerendahan hatinya yang luar biasa — ia mengakui bahwa semua yang ia miliki adalah pemberian Allah, bukan hasil usahanya sendiri."


Fase 3: Kisah Semut — Pelajaran tentang Kepedulian

Dialog Sulaiman dengan Semut

Allah mengabadikan sebuah kisah yang sangat indah — dialog antara Sulaiman AS dengan seekor semut:

حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ. فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَن أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: 'Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.' Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.'" (QS. An-Naml: 18-19)

Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 13, hal. 170):

"Perhatikan tiga hal luar biasa dalam kisah ini: pertama, semut yang memperingatkan kaumnya — ini menunjukkan bahwa Allah menganugerahkan naluri peduli kepada makhluk sekecil semut. Kedua, Sulaiman yang tersenyum mendengar ucapan semut — ini menunjukkan kerendahan hatinya yang mau memperhatikan makhluk terkecil. Ketiga, Sulaiman yang langsung berdoa syukur kepada Allah — ini menunjukkan bahwa setiap nikmat yang diterima selalu membuatnya semakin dekat kepada Allah."

Doa Sulaiman ini adalah salah satu doa terbaik yang bisa kita amalkan:

Arab: رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Latin: Rabbi awzi'nii an asykura ni'matakallatii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birahmatika fii 'ibaadikash shaalihiin

Terjemahan: "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih."


Fase 4: Kisah Burung Hud-hud dan Ratu Balqis

Berita dari Negeri Saba

Suatu hari Sulaiman AS memeriksa pasukannya dan mendapati burung Hud-hud tidak ada. Ketika Hud-hud datang, ia membawa berita mengejutkan:

قَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ. إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ. وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ اللَّهِ

"Dia (Hud-hud) berkata: 'Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba dengan membawa berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. Aku dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah.'" (QS. An-Naml: 22-24)

Surat Sulaiman — Surat Terpendek namun Paling Berpengaruh

Sulaiman AS mengirim surat kepada Ratu Balqis. Surat itu hanya berisi satu kalimat pembuka dan satu perintah:

إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

"Sesungguhnya (surat) ini dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: 'Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadamu sebagai orang-orang yang berserah diri.'" (QS. An-Naml: 30-31)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 6, hal. 194):

"Surat Sulaiman dimulai dengan Bismillah — ini menunjukkan bahwa urusan dakwah harus selalu dimulai dengan nama Allah. Dan isinya singkat namun tegas: tidak ada kesombongan, datanglah sebagai Muslim. Dakwah yang efektif tidak perlu panjang — ia perlu jelas dan berani."

Singgasana Balqis yang Dipindahkan dalam Sekejap

Ketika Ratu Balqis menyatakan ingin datang, Sulaiman AS bertanya kepada pasukannya siapa yang bisa membawa singgasana Balqis sebelum ia tiba.

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ

"Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari Kitab: 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.'" (QS. An-Naml: 40)

Dan benar — dalam sekejap mata, singgasana itu sudah berada di hadapan Sulaiman.

Namun reaksi Sulaiman AS sangat mengejutkan — ia tidak takjub dengan mukjizat itu. Ia langsung bersyukur:

قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

"Dia (Sulaiman) berkata: 'Ini adalah karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur. Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.'" (QS. An-Naml: 40)

Hikmah: Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa'adah (Jilid 1, hal. 252):

"Inilah rahasia kemuliaan Sulaiman — setiap kali ia mendapat karunia yang lebih besar, ia tidak semakin sombong tetapi semakin bersyukur. Semakin besar nikmat Allah, semakin besar rasa syukurnya. Inilah yang membedakan raja yang mulia dengan raja yang hina."

Islamnya Ratu Balqis

Ketika Ratu Balqis tiba dan melihat istana Sulaiman yang lantainya terbuat dari kaca jernih sehingga ia mengira ada air dan mengangkat gaunnya, Sulaiman menjelaskan bahwa itu adalah istana dari kaca.

Ratu Balqis pun tersadar dari keagungan kerajaan Sulaiman, dan akhirnya mengucapkan:

قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Dia (Balqis) berkata: 'Ya Tuhanku, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.'" (QS. An-Naml: 44)

Hikmah: Dakwah Sulaiman tidak menggunakan paksaan, tidak menggunakan ancaman perang semata — ia menggunakan keagungan akhlak, keindahan hikmah, dan kekuatan kebenaran. Dan kebenaran itu memenangkan hati seorang ratu yang sebelumnya menyembah matahari.


Fase 5: Ujian Sulaiman — Kuda yang Melalaikan

Kisah Kuda-Kuda yang Membuat Sulaiman Lupa

Allah berfirman:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ. إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ. فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ

"Dan Kami menganugerahkan kepada Dawud, Sulaiman, seorang hamba yang sangat baik. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah). (Ingatlah) ketika diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang jinak pada waktu petang. Maka dia berkata: 'Sungguh, aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) ini sampai aku lalai mengingat Tuhanku, hingga (matahari) terbenam.'" (QS. Shad: 30-32)

Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 15, hal. 196):

"Sulaiman terlena memandangi kuda-kuda indahnya hingga lupa waktu sholat atau zikir petang. Ketika menyadarinya, ia tidak membela diri atau mencari alasan. Ia langsung mengakui kesalahannya kepada Allah — 'aku telah lalai mengingat Tuhanku.' Pengakuan yang jujur inilah yang menjadikannya tetap mulia di sisi Allah."

Hikmah: Bahkan nabi sekaliber Sulaiman bisa terlena oleh keindahan dunia sesaat. Ini adalah peringatan bagi kita — jangan biarkan keindahan dunia melalaikan kita dari kewajiban kepada Allah.


Fase 6: Wafatnya Sulaiman — Kematian yang Unik

Kisah Wafat yang Mengungkap Rahasia

Allah mengisahkan wafat Sulaiman AS dengan cara yang sangat unik:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَن لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

"Maka ketika Kami telah menetapkan kematiannya, tidak ada yang menunjukkan kematiannya kepada mereka kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan." (QS. Saba': 14)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 2, hal. 49):

"Sulaiman wafat dalam keadaan bersandar pada tongkatnya. Para jin yang sedang bekerja membangun istana tidak menyadari kematiannya karena mereka mengira ia sedang istirahat atau berdiri berzikir — sebagaimana kebiasaannya. Baru setelah tongkat itu dimakan rayap dan Sulaiman jatuh, mereka menyadari bahwa ia telah wafat. Kisah ini mengungkap bahwa jin — yang selama ini mengklaim mengetahui yang gaib — sama sekali tidak mengetahuinya."

Hikmah Mendalam: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 694):

"Di balik kisah wafat Sulaiman yang unik ini, Allah ingin menunjukkan kepada seluruh manusia bahwa tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah. Jin yang selama ini dikira memiliki ilmu gaib pun tidak mengetahui kematian tuannya yang berdiri tepat di hadapan mereka."


Pelajaran Terbesar dari Kisah Nabi Sulaiman AS

1. Kekayaan Dunia Tidak Menghalangi dari Akhirat

Sulaiman adalah raja terkaya dalam sejarah — namun ia adalah salah satu hamba Allah yang paling taat. Kekayaan tidak harus menjadi penghalang dari ibadah — justru kekayaan yang digunakan di jalan Allah adalah nikmat terbesar.

2. Syukur adalah Kunci Keberkahan

Setiap kali Sulaiman mendapat nikmat baru, reaksi pertamanya selalu sama: bersyukur kepada Allah. Ini adalah rahasia mengapa nikmatnya terus bertambah.

3. Ilmu adalah Karunia Paling Berharga

Allah menganugerahkan kepada Sulaiman dua hal: kerajaan dan ilmu. Namun Sulaiman lebih menghargai ilmu daripada kerajaan. Kerajaan bisa hilang, namun ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya.

4. Dakwah dengan Hikmah dan Kelembutan

Sulaiman tidak memaksa Ratu Balqis untuk masuk Islam dengan pedang — ia mengundangnya dengan surat yang bijaksana, menyambutnya dengan kemewahan yang membuat hati terbuka, dan akhirnya kebenaran yang memenangkan hatinya.

5. Tidak Ada Manusia yang Sempurna

Bahkan Sulaiman — nabi sekaligus raja yang paling diberkahi — pun pernah terlena oleh keindahan kuda-kudanya hingga lalai mengingat Allah. Ini mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan yang terbaik adalah yang paling cepat kembali kepada Allah ketika tersadar.


Doa-Doa Nabi Sulaiman AS

Doa 1 — Memohon Kerajaan yang Agung

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ (QS. Shad: 35)

Doa 2 — Doa Syukur atas Nikmat (Paling Populer)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ (QS. An-Naml: 19)


Penutup

Kisah Nabi Sulaiman AS adalah kisah yang Allah abadikan dalam banyak surat Al-Qur'an — An-Naml, Saba', Shad, Al-Anbiya', dan lainnya. Setiap surat menyoroti aspek berbeda dari kehidupannya.

Namun satu hal yang selalu hadir dalam setiap kisahnya adalah: Sulaiman selalu mengingat Allah di setiap keadaan — baik saat memiliki segalanya maupun saat menghadapi ujian, baik saat berdialog dengan semut kecil maupun saat menghadapi ratu besar.

Allah memujinya dengan pujian yang sangat indah:

نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

"Sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)." (QS. Shad: 30)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu kembali kepada-Nya dalam setiap keadaan.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🤲


Daftar Kitab Rujukan

  1. Al-Bidayah wan Nihayah — Imam Ibnu Katsir, Jilid 2
  2. Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 5, 6, 7
  3. Tafsir Al-Qurthubi — Imam Al-Qurthubi, Jilid 13, 15
  4. Taisir Karimir Rahman — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
  5. Miftah Daris Sa'adah — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
  6. Qishashul Anbiya' — Imam Ibnu Katsir
  7. Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
  8. Shahih Muslim — Imam Muslim

Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Kisah Para Nabi Tag: Kisah Nabi Sulaiman, Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis, Burung Hud-hud, Kerajaan Sulaiman, Mukjizat Sulaiman

Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar