pada tanggal
Al-Qur'an dan Tafsir
Dosa
Hadits
Islam
Panduan Ibadah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Kisah Para Nabi Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Di antara seluruh nabi dan rasul yang Allah utus ke muka bumi, hanya satu yang mendapat gelar paling istimewa dari Allah sendiri:
خَلِيلُ اللَّهِ — Khalilullah — Kekasih Allah.
Dialah Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Allah berfirman:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
"Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (Khalil)-Nya." (QS. An-Nisa: 125)
Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad (Jilid 1, hal. 72) menjelaskan makna Khalil:
"Khalil berasal dari kata khullah yang berarti kecintaan yang meresap ke dalam seluruh celah hati — berbeda dengan mahabbah (cinta biasa). Artinya, kecintaan Ibrahim kepada Allah telah meresap ke setiap sudut hatinya sehingga tidak ada tempat di hatinya untuk selain Allah."
Kisah Nabi Ibrahim AS bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah cermin ketaatan tertinggi — bagaimana seorang manusia menghadapi ujian yang bertubi-tubi, bahkan ujian yang nampaknya melampaui batas akal, namun tetap berdiri tegak di atas keimanan kepada Allah.
Nasab: Ibrahim bin Aazar (Tarikh), dari keturunan Sam bin Nuh 'alaihissalam.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 1, hal. 139) menyebutkan:
"Ibrahim adalah bapak para nabi setelahnya. Dari keturunannya lahir Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Dari Ismail lahir Nabi Muhammad ﷺ, dan dari Ishaq lahir Nabi Ya'qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Isa, dan nabi-nabi lainnya."
Tempat Lahir: Para ulama berbeda pendapat. Pendapat terkuat adalah Ur Al-Kaldaniyyun (Irak bagian selatan, dekat Bashrah sekarang). (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 140)
Julukan:
Nabi Ibrahim AS lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat yang tenggelam dalam penyembahan berhala. Bahkan ayahnya sendiri — Aazar — adalah seorang pembuat dan penjual berhala. Namun sejak kecil, hati Ibrahim selalu merasa ganjil dengan kebiasaan kaumnya.
Allah menggambarkan perjalanan pencarian Ibrahim dalam Al-Qur'an dengan cara yang sangat indah dan dramatis:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ. فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ. فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
"Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang, lalu dia berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: 'Aku tidak suka kepada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.' Tetapi ketika matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'" (QS. Al-An'am: 76-78)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 3, hal. 287) menjelaskan:
"Ibrahim tidak benar-benar menyembah bintang, bulan, dan matahari. Ia sedang berdialog dengan kaumnya menggunakan metode debat untuk menunjukkan kelemahan sesembahan mereka. Ketika semua benda langit itu terbenam, ia membuktikan bahwa mereka tidak layak disembah karena bergantung pada sesuatu yang lain."
Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 265):
"Ini adalah metode argumentasi yang paling cerdas — Ibrahim tidak menolak secara langsung, melainkan mengikuti logika lawan debatnya hingga ke ujung untuk membuktikan kebatilannya. Inilah yang disebut dalam ilmu debat sebagai 'reductio ad absurdum.'"
Setelah yakin akan keesaan Allah, Ibrahim 'alaihissalam tidak tinggal diam. Ia berencana untuk membuktikan kebatilan berhala-berhala itu kepada kaumnya.
Suatu hari ketika kaumnya pergi ke perayaan besar dan meninggalkan berhala-berhala mereka, Ibrahim mengambil kesempatan. Ia masuk ke kuil berhala dan menghancurkan semua berhala kecil. Ia hanya menyisakan satu berhala yang paling besar, dan menggantungkan kapaknya di leher berhala besar itu.
Allah mengisahkan:
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
"Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung itu; agar mereka dapat kembali (untuk bertanya) kepadanya." (QS. Al-Anbiya: 58)
Ketika kaum kembali dan mendapati berhala-berhala mereka hancur, mereka marah dan bertanya:
قَالُوا أَأَنتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ
"Mereka berkata: 'Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?'" (QS. Al-Anbiya: 62)
Ibrahim menjawab dengan cerdas:
قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ
"Ibrahim berkata: 'Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.'" (QS. Al-Anbiya: 63)
Jawaban Ibrahim ini membuat kaum terdiam dan tersadar:
فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنتُمُ الظَّالِمُونَ
"Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan berkata: 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).'" (QS. Al-Anbiya: 64)
Namun kesadaran itu hanya sesaat. Mereka kemudian memutuskan untuk membakar Ibrahim hidup-hidup.
قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ
"Mereka berkata: 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.'" (QS. Al-Anbiya: 68)
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 1, hal. 155) menceritakan: Api dibuat sangat besar — sedemikian besarnya hingga burung yang terbang di atasnya bisa terbakar karena panasnya. Ibrahim dilemparkan ke dalam api dengan menggunakan manjaniq (catapult).
Dalam kondisi itulah, Malaikat Jibril 'alaihissalam mendatangi Ibrahim dan bertanya: "Wahai Ibrahim, apakah kamu punya hajat (keinginan)?"
Ibrahim menjawab: "Adapun kepadamu, tidak. Adapun kepada Allah, ya — namun Allah sudah mengetahui keadaanku tanpa aku harus memintanya."
(Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5, hal. 358)
Maka Allah menurunkan perintah-Nya yang paling ajaib:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
"Kami berfirman: 'Hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.'" (QS. Al-Anbiya: 69)
Api yang berkobar itu pun tunduk kepada perintah Allah. Ibrahim keluar dari api dalam keadaan selamat tanpa satu pun helai rambutnya terbakar.
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 11, hal. 293):
"Firman Allah 'jadilah dingin dan selamat' adalah dua perintah: dingin agar tidak membakar, dan selamat agar tidak membahayakan dengan kedinginannya. Karena andai Allah hanya memerintahkan 'jadilah dingin' tanpa 'selamat', Ibrahim bisa mati kedinginan."
Hikmah Luar Biasa: Imam Ibnul Qayyim dalam Syifaul 'Alil (hal. 234) berkata:
"Kisah Ibrahim dalam api mengajarkan bahwa Allah mampu mengubah sifat segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Api yang membakar adalah hukum alam biasa. Namun Allah yang menciptakan hukum alam itu dapat menangguhkannya kapanpun Ia kehendaki demi melindungi kekasih-Nya."
Salah satu ujian terberat Ibrahim AS adalah ketika Allah memerintahkannya untuk meninggalkan bayi Ismail dan istrinya Hajar di lembah tandus yang tidak berpenghuni, yang kelak menjadi kota Makkah.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 5, hal. 263) meriwayatkan: Ibrahim meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di lembah itu hanya dengan bekal air dan kurma yang sedikit. Ketika Ibrahim berbalik untuk pergi, Hajar mengejarnya:
"Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada sesuatupun ini?"
Ibrahim tidak menjawab.
Hajar bertanya lagi: "Apakah Allah yang memerintahkanmu ini?"
Ibrahim mengangguk. Maka Hajar berkata dengan penuh ketenangan dan tawakkal:
"Kalau begitu Allah tidak akan menelantarkan kami."
(HR. Bukhari No. 3364 — Shahih)
Ketika air habis dan Ismail menangis kehausan, Hajar berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali mencari air. Tiba-tiba dari bawah kaki bayi Ismail, memancar air Zamzam — air yang hingga hari ini terus mengalir dan menjadi salah satu air paling berkah di muka bumi.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam (mengalir bebas), niscaya Zamzam akan menjadi sungai yang terus mengalir." (HR. Bukhari No. 3364 — Shahih)
Setelah Ismail tumbuh besar, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun Ka'bah bersama putranya:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.'" (QS. Al-Baqarah: 127)
Ujian terbesar dalam hidup Ibrahim datang ketika ia telah berusia lanjut. Allah memerintahkan dalam mimpi untuk menyembelih putranya tercinta, Ismail — anak yang ia nantikan selama puluhan tahun.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. As-Shaffat: 102)
Ibrahim: "Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu."
Ismail: "Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Imam Ibnul Qayyim dalam 'Uddatus Shabirin (hal. 97):
"Jawaban Ismail ini adalah salah satu jawaban paling agung yang pernah diucapkan manusia. Seorang pemuda yang mengetahui bahwa ia akan disembelih oleh tangan ayahnya sendiri — namun ia tidak lari, tidak menangis, tidak protes. Ia hanya berkata: 'Laksanakanlah.' Inilah puncak ketaatan."
Ketika Ibrahim telah membaringkan Ismail dan siap melaksanakan perintah Allah:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. As-Shaffat: 103-107)
Allah mengutus Malaikat Jibril membawa seekor domba dari surga sebagai tebusan. Ismail selamat — dan inilah asal mula ibadah kurban (Idul Adha) yang kita rayakan setiap tahun.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih." (QS. As-Shaffat: 100)
رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." (QS. Ibrahim: 35)
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ "Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS. Ibrahim: 41)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ... "Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim..." (HR. Bukhari No. 3370, Muslim No. 406 — Shahih)
Kisah Nabi Ibrahim AS adalah kisah yang Allah abadikan di lebih dari 25 surat dalam Al-Qur'an. Bukan tanpa alasan — karena setiap fase hidupnya mengandung pelajaran yang relevan untuk setiap manusia di setiap zaman.
Allah berfirman tentang Ibrahim:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan (Khalil)-Nya." (QS. An-Nisa: 125)
Semoga kita semua bisa mengambil sari pelajaran dari kehidupan Khalilullah Ibrahim AS — dan semoga Allah menjadikan kita termasuk yang mengikuti jejak keimanan beliau.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🤲
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Kisah Para Nabi Tag: Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim AS, Khalilullah, Kisah Para Nabi, Ujian Ibrahim, Ismail
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.
Komentar
Posting Komentar