Kisah Imam Syafi'i:Ulama Terbesar Sepanjang Masa, Pendiri Mazhab, dan Permata Ilmu Islam
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Ada seorang anak yatim yang lahir dalam kemiskinan, ditinggal ayahnya sejak bayi, dibesarkan ibunya seorang diri dalam kondisi serba kekurangan. Ia tidak mampu membeli kertas untuk mencatat pelajarannya — maka ia menulis di tulang-tulang yang ia temukan.
Namun anak itu tumbuh menjadi salah satu manusia paling cerdas yang pernah dilahirkan di muka bumi — manusia yang kitab-kitabnya dipelajari di seluruh dunia Islam hingga hari ini, yang metode berpikirnya membentuk fondasi ilmu ushul fiqih, dan yang namanya disebut dengan penghormatan oleh jutaan ulama sepanjang 12 abad.
Dialah Muhammad bin Idris As-Syafi'i rahimahullah — Imam Syafi'i.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah — yang sendiri adalah ulama besar — berkata tentang Imam Syafi'i:
مَا أَحَدٌ مَسَّ مِحْبَرَةً وَلَا قَلَماً إِلَّا وَلِلشَّافِعِيِّ فِي عُنُقِهِ مِنَّةٌ
"Tidak ada seorang pun yang pernah menyentuh tinta dan pena kecuali Imam Syafi'i memiliki jasa di lehernya (kepadanya)."
(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 10, hal. 5)
Siapakah Imam Syafi'i?
Nama lengkap: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi'i bin As-Sa'ib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al-Muthalib bin Abdu Manaf Al-Qurasyi Al-Muthallibi
Nasab mulia: Nasabnya bertemu dengan Rasulullah ﷺ pada Abdu Manaf — kakek buyut Nabi ﷺ
Lahir: 150 H di Ghazzah (Gaza, Palestina) — tahun yang sama dengan wafatnya Imam Abu Hanifah
Wafat: 204 H di Mesir, usia 54 tahun
Guru-guru utama:
- Imam Malik bin Anas (Madinah)
- Muslim bin Khalid Az-Zanji (Makkah)
- Sufyan bin Uyainah (Makkah)
- Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani (Baghdad)
Murid-murid terkenal:
- Imam Ahmad bin Hanbal
- Ishaq bin Rahawaih
- Al-Buwaithi
- Al-Muzani
- Ar-Rabi' bin Sulaiman
(Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 1, hal. 3)
Fase 1: Masa Kecil yang Penuh Perjuangan
Yatim Sejak Bayi
Ayah Imam Syafi'i wafat ketika ia masih bayi — meninggalkan istri dan anak tunggalnya dalam kondisi sangat miskin. Ibunya — seorang wanita Yaman yang sangat cerdas dan bertekad kuat — memutuskan untuk membawa bayinya ke Makkah, tempat asal keluarga mereka.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 10, hal. 251):
"Ibunda Imam Syafi'i adalah wanita luar biasa yang mengorbankan segalanya untuk mendidik putranya. Ia miskin namun kaya ilmu. Ia membawa Syafi'i kecil ke Makkah bukan untuk mencari harta — tetapi untuk mencari ilmu."
Menghafal Al-Qur'an di Usia 7 Tahun
Di Makkah, Imam Syafi'i kecil belajar di kuttab (sekolah dasar Islam). Karena kemiskinannya, ibunya tidak bisa membayar biaya pendidikan secara rutin.
Namun kecerdasan Syafi'i begitu luar biasa hingga gurunya berkata: "Aku malu mengambil bayaran dari anak ini karena aku belajar lebih banyak darinya daripada yang ia pelajari dariku."
Pada usia 7 tahun, Imam Syafi'i telah hafal seluruh Al-Qur'an.
Pada usia 10 tahun, ia telah menghafal Kitab Al-Muwaththa' karya Imam Malik yang berisi ribuan hadits.
(Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 1, hal. 98)
Menulis di Tulang karena Tidak Punya Kertas
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 10, hal. 17) meriwayatkan:
Imam Syafi'i rahimahullah bercerita tentang masa kecilnya:
"Kami adalah keluarga yang sangat miskin. Aku tidak mampu membeli kertas untuk menulis pelajaran. Maka aku mengumpulkan tulang-tulang unta yang bersih dari tempat pembuangan, dan aku menulis pelajaranku di sana. Jika tulang sudah penuh, aku mencari tulang lain."
Namun kekurangan itu tidak membuat Syafi'i berhenti. Justru keterbatasan itulah yang mendorongnya untuk menghafalkan setiap ilmu yang ia pelajari — karena ia tidak punya media tulis yang cukup.
Hikmah: Keterbatasan materi tidak pernah bisa menghalangi seseorang yang benar-benar haus ilmu. Imam Syafi'i membuktikan bahwa kecerdasan dan ketekunan jauh lebih berharga dari kekayaan.
Belajar kepada Orang Badui di Padang Pasir
Pada usia remaja, setelah menguasai ilmu-ilmu dasar di Makkah, Imam Syafi'i mengambil langkah yang tidak biasa — ia pergi tinggal bersama suku Hudzail di padang pasir selama beberapa tahun.
Tujuannya: mempelajari bahasa Arab yang paling murni.
Imam Syafi'i berkata:
"Aku tinggal bersama suku Hudzail dan belajar bahasa mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling fasih berbahasa Arab di masa itu. Aku menghafal syair-syair mereka, memahami gaya bahasa mereka, dan mempelajari cara mereka berbicara."
(Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 1, hal. 103)
Syaikh As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar (hal. 123):
"Penguasaan Imam Syafi'i terhadap bahasa Arab adalah salah satu kunci keagungannya. Pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah yang sempurna tidak mungkin dicapai tanpa menguasai bahasa Arab secara mendalam — dan inilah yang Syafi'i lakukan sejak muda."
Fase 2: Perjalanan Mencari Ilmu — Dari Makkah ke Madinah hingga Baghdad
Belajar kepada Imam Malik di Madinah
Ketika berusia sekitar 13 tahun, Imam Syafi'i mendengar tentang keagungan Imam Malik bin Anas di Madinah — ulama terbesar di zamannya. Ia sangat ingin belajar kepadanya.
Namun untuk mendapatkan surat pengantar kepada Imam Malik, ia perlu menghadap Gubernur Makkah. Sang gubernur pun menuliskan surat pengantar untuknya.
Ketika tiba di Madinah dan menemui Imam Malik, sang Imam membaca Al-Muwaththa' yang sudah Syafi'i hafal. Imam Malik kagum dan berkata:
"Sesungguhnya aku melihat Allah telah meletakkan cahaya di hatimu. Janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan kemaksiatan."
(Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 1, hal. 108)
Imam Syafi'i belajar kepada Imam Malik selama bertahun-tahun hingga sang Imam wafat pada 179 H. Hubungan antara Imam Malik dan Imam Syafi'i bukan hanya hubungan guru-murid — tetapi juga hubungan kasih sayang yang sangat dalam.
Perjalanan ke Yaman dan Baghdad
Setelah belajar di Makkah dan Madinah, Imam Syafi'i melakukan perjalanan ke Yaman untuk mengajar dan belajar. Kemudian ia pergi ke Baghdad — pusat keilmuan Islam saat itu — di mana ia bertemu dengan murid-murid Imam Abu Hanifah dan berdialog panjang dengan mereka.
Di Baghdad inilah Imam Syafi'i mengembangkan Qaul Qadim (pendapat lama) — sebelum kemudian diperbarui ketika ia pindah ke Mesir.
Imam Ahmad bin Hanbal — yang saat itu adalah seorang pemuda haus ilmu — belajar kepada Imam Syafi'i di Baghdad. Ia berkata:
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih faqih (paham agama), lebih wara' (hati-hati), lebih zuhud, dan lebih cerdas dari Imam Syafi'i."
(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 10, hal. 22)
Fase 3: Di Mesir — Puncak Kematangan Ilmu
Kepindahan ke Mesir
Pada tahun 199 H, Imam Syafi'i pindah ke Mesir — dan di sinilah ia menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat pada 204 H.
Di Mesir, Imam Syafi'i merevisi banyak pendapatnya — menghasilkan Qaul Jadid (pendapat baru) yang menjadi landasan Mazhab Syafi'i yang dianut oleh ratusan juta Muslim hingga hari ini, termasuk sebagian besar Muslim Indonesia.
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 10, hal. 45):
"Di Mesir, Imam Syafi'i mencapai puncak kematangan ilmunya. Ia menggabungkan ilmu hadits dari Imam Malik, ilmu fiqih dari ulama Iraq, dan kebijaksanaan dari berbagai guru lainnya — menghasilkan metodologi hukum Islam yang paling komprehensif dan sistematis."
Karya-Karya Monumental Imam Syafi'i
1. Ar-Risalah — Kitab pertama dalam sejarah Islam yang membahas metodologi hukum Islam (ushul fiqih) secara sistematis.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku membaca Ar-Risalah karya Syafi'i 50 kali. Setiap kali membacanya, aku mendapat pelajaran baru yang sebelumnya tidak aku temukan." (Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 1, hal. 237)
2. Al-Umm — Ensiklopedia fiqih terbesar karya Imam Syafi'i, mencakup hampir seluruh masalah hukum Islam.
3. Musnad Asy-Syafi'i — Kumpulan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Syafi'i.
4. Diwanul Imam Asy-Syafi'i — Kumpulan syair-syair Imam Syafi'i yang penuh hikmah dan keindahan.
Kisah-Kisah Kecerdasan dan Kemuliaan Imam Syafi'i
Kisah 1: Debat yang Memenangkan Kebenaran
Imam Syafi'i adalah seorang debater yang sangat handal. Namun ia tidak berdebat untuk mencari kemenangan — ia berdebat untuk mencari kebenaran.
Ia pernah berkata:
"Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap Allah memperlihatkan kebenaran melalui lisannya — bukan melalui lisanku. Dan aku tidak pernah menginginkan lawan debatku melakukan kesalahan."
(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 10, hal. 35)
Hikmah: Inilah perbedaan antara debat yang mencari kemenangan dan debat yang mencari kebenaran. Imam Syafi'i mengajarkan bahwa tujuan ilmu bukan untuk mengalahkan orang lain — tetapi untuk menemukan kebenaran.
Kisah 2: Imam Syafi'i dan Orang yang Menghinanya
Suatu hari seseorang mencaci maki Imam Syafi'i di depan umum dengan kata-kata yang sangat kasar. Imam Syafi'i tidak membalas, tidak marah, tidak mengancam.
Muridnya Ar-Rabi' bin Sulaiman yang menyaksikan hal itu bertanya heran: "Wahai Imam, mengapa engkau tidak membalas?"
Imam Syafi'i menjawab dengan tenang:
"Wahai Rabi', apakah aku akan membalas seseorang dengan kata-kata yang merendahkan diriku sendiri? Aku lebih suka diam dan membiarkan Allah yang membalas."
(Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 2, hal. 147)
Kisah 3: Imam Syafi'i Menangis di Waktu Sahur
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 10, hal. 48) meriwayatkan dari Ar-Rabi' bin Sulaiman:
"Imam Syafi'i mengkhatamkan Al-Qur'an 60 kali di bulan Ramadan — semuanya dalam sholat. Dan aku tidak pernah melihatnya melewati ayat tentang rahmat Allah kecuali ia berdoa memohon rahmat-Nya, dan tidak melewati ayat tentang azab kecuali ia memohon perlindungan dari azab itu. Seolah seluruh Al-Qur'an adalah doa baginya."
Kisah 4: Wasiat Imam Syafi'i kepada Muridnya
Menjelang wafatnya, Imam Syafi'i memanggil murid-muridnya dan berkata:
"Aku berwasiat kepada kalian dengan lima hal: Pertama, bertakwalah kepada Allah dalam segala keadaan. Kedua, jagalah lisan kalian dari ghibah dan namimah. Ketiga, pelajarilah ilmu dengan niat mencari ridha Allah, bukan untuk berdebat atau mencari popularitas. Keempat, bersikaplah rendah hati kepada guru dan murid. Kelima, ingatlah bahwa ilmu yang tidak diamalkan adalah beban, bukan pahala."
(Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 2, hal. 285)
Kata-Kata Hikmah Imam Syafi'i
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 10, hal. 53) dan Imam Al-Baihaqi dalam Manaqib As-Syafi'i mengumpulkan mutiara-mutiara hikmah Imam Syafi'i:
1. Tentang Ilmu: "Ilmu itu bukan yang dihafal — tetapi ilmu yang memberi manfaat."
2. Tentang Waktu: "Aku menemani orang-orang Sufi dan aku mendapat dua hal dari mereka: cara memanfaatkan waktu dan cara memperhatikan hati."
3. Tentang Kerendahan Hati: "Setiap kali aku berdebat dengan seseorang yang berilmu, aku selalu menang. Dan setiap kali aku berdebat dengan seseorang yang bodoh, aku selalu kalah — karena orang bodoh tidak tahu batas-batas ilmu."
4. Tentang Sabar: "Sabar dalam menanggung kesulitan lebih baik dari melihat akibat buruknya."
5. Tentang Doa: "Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi."
6. Tentang Persahabatan: "Jika kamu ingin mengetahui karakter seseorang, perhatikan siapa teman-temannya."
7. Tentang Ikhlas: "Apabila kamu ingin Allah memuliakan kamu, maka rendahkanlah dirimu. Dan apabila kamu ingin Allah menghinakanmu, maka sombongkanlah dirimu."
Syair-Syair Imam Syafi'i yang Terkenal
Imam Syafi'i adalah juga seorang penyair yang luar biasa. Syair-syairnya penuh dengan hikmah dan keindahan bahasa.
Syair 1 — Tentang Merantau untuk Ilmu:
سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّنْ تُفَارِقُهُ وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوفَ المَاءِ يُفْسِدُهُ إِنْ سَالَ طَابَ وَإِنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
"Merantaulah, niscaya kamu mendapat pengganti orang-orang yang kamu tinggalkan. Dan bersungguh-sungguhlah, karena kesenangan hidup ada dalam kesungguhan. Sesungguhnya aku melihat air yang diam menjadi rusak (membusuk). Jika mengalir maka baik, jika tidak mengalir maka tidak baik."
Syair 2 — Tentang Ilmu:
أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانِ
"Wahai saudaraku, kamu tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam syarat — akan aku beritahukan kepadamu secara terperinci: kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal (harta yang cukup), bersahabat dengan guru, dan waktu yang panjang."
(Diwanul Imam Asy-Syafi'i, hal. 78)
Wafatnya Imam Syafi'i
Imam Syafi'i wafat pada malam Jumat, akhir bulan Rajab tahun 204 H di Mesir, dalam usia 54 tahun.
Ar-Rabi' bin Sulaiman — murid setianya — meriwayatkan bahwa kata-kata terakhir Imam Syafi'i adalah:
"Aku ingin menemui Allah, dan aku tidak tahu apakah aku akan pergi ke surga sehingga aku bisa bergembira, atau ke neraka sehingga aku harus berduka. Ya Allah, terimalah amalku yang sedikit ini dengan ridha-Mu."
(Manaqib As-Syafi'i, Al-Baihaqi, Jilid 2, hal. 290)
Imam Ahmad bin Hanbal ketika mendengar berita wafat Imam Syafi'i menangis dan berkata: "Imam Syafi'i bagiku seperti matahari bagi siang hari dan seperti kesehatan bagi badan. Adakah pengganti untuk keduanya?"
(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 10, hal. 56)
Pengaruh Imam Syafi'i yang Abadi
Mazhab Syafi'i di Indonesia
Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia — dan sebagian besar Muslim Indonesia mengikuti Mazhab Syafi'i dalam fiqih mereka. Ini berarti bahwa setiap sholat, puasa, zakat, dan ibadah yang dilakukan ratusan juta Muslim Indonesia dilandasi oleh metode fiqih yang dirumuskan oleh seorang anak yatim dari Gaza lebih dari 1.200 tahun lalu.
Imam Syafi'i tidak pernah ke Indonesia, tidak pernah mengenal Islam Nusantara — namun pengaruhnya terasa dalam setiap sudut kehidupan keislaman di negeri ini.
Ushul Fiqih — Warisan Terbesar
Kitab Ar-Risalah yang ditulis Imam Syafi'i adalah fondasi dari seluruh ilmu ushul fiqih dalam Islam. Setiap ulama fiqih setelahnya — dari mazhab manapun — berdiri di atas bahu metodologi yang diletakkan oleh Imam Syafi'i.
Imam Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqqi'in (Jilid 1, hal. 7):
"Imam Syafi'i adalah yang pertama meletakkan kaidah-kaidah pengambilan hukum Islam secara sistematis. Ia adalah bapak ushul fiqih — dan seluruh ulama setelahnya, baik yang mengikutinya maupun yang berbeda dengannya, berhutang budi kepadanya."
Penutup
Kisah Imam Syafi'i adalah kisah tentang kekuatan ilmu yang melampaui kekuatan harta. Ia lahir dalam kemiskinan, menulis di tulang-tulang bekas, dan tidak memiliki apa-apa kecuali kecerdasan, ketekunan, dan kecintaan kepada ilmu.
Namun 12 abad setelah wafatnya, namanya disebut dengan penghormatan oleh jutaan ulama dan Muslim di seluruh dunia. Kitab-kitabnya dipelajari di pesantren-pesantren Indonesia, universitas-universitas Al-Azhar, dan lembaga-lembaga Islam di setiap penjuru bumi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim No. 1631 — Shahih)
Imam Syafi'i meninggalkan ilmu yang bermanfaat — dan ia terus mendapat pahala dari setiap Muslim yang berwudhu, sholat, berpuasa, dan beribadah mengikuti metode fiqih yang ia rumuskan.
Itulah amal jariyah yang paling abadi.
رَحِمَهُ اللهُ رَحْمَةً وَاسِعَةً 🤲
Daftar Kitab Rujukan
- Siyar A'lamin Nubala' — Imam Adz-Dzahabi, Jilid 10
- Manaqib As-Syafi'i — Imam Al-Baihaqi, Jilid 1 & 2
- Al-Bidayah wan Nihayah — Imam Ibnu Katsir, Jilid 10
- I'lamul Muwaqqi'in — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
- Bahjatu Qulubil Abrar — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
- Diwanul Imam Asy-Syafi'i — Imam Syafi'i
- Al-Umm — Imam Syafi'i, Jilid 1
- Ar-Risalah — Imam Syafi'i
- Shahih Muslim — Imam Muslim
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Tag: Imam Syafi'i, Mazhab Syafi'i, Ulama Islam, Kisah Ulama, Ushul Fiqih, Ar-Risalah
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar
Posting Komentar