Istighfar: Kunci Rezeki, Rahmat, dan Ampunan Allah — Lengkap dengan Dalil dan Pendapat Ulama
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Zikir & Wirid Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Ada sebuah kisah yang sangat masyhur dalam kitab-kitab ulama.
Suatu hari, seseorang datang kepada Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengadukan kekeringan yang melanda negerinya. Imam berkata: "Perbanyaklah istighfar."
Datang lagi seseorang mengadukan kemiskinannya. Imam berkata: "Perbanyaklah istighfar."
Datang lagi seseorang yang belum memiliki anak. Imam berkata: "Perbanyaklah istighfar."
Datang lagi seseorang yang kebunnya tidak menghasilkan. Imam berkata: "Perbanyaklah istighfar."
Orang-orang pun bertanya heran: "Wahai Imam, berbagai permasalahan yang berbeda-beda kamu jawab dengan satu jawaban yang sama?"
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah tersenyum dan menjawab:
"Aku tidak berbicara dari diriku sendiri. Sesungguhnya Allah berfirman dalam Al-Qur'an..."
(Kisah ini disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8, hal. 229, ketika menafsirkan QS. Nuh: 10-12)
Lalu apa yang Allah firmankan? Inilah yang akan kita pelajari bersama dalam artikel ini.
Pengertian Istighfar
Secara Bahasa
Istighfar (اِسْتِغْفَار) berasal dari kata ghafara - yaghfiru yang berarti menutup dan melindungi. Imam Al-Raghib Al-Asfahani dalam Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an (hal. 606) menjelaskan:
"Al-Ghafr berarti menutup sesuatu yang buruk dan melindunginya dari kerusakan. Maka istighfar artinya memohon kepada Allah agar menutupi dosa-dosa kita dan melindungi kita dari akibat buruknya."
Secara Istilah
Istighfar adalah permohonan ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan, disertai penyesalan dalam hati, meninggalkan dosa tersebut, dan tekad untuk tidak mengulanginya.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin (hal. 23) menambahkan:
"Istighfar yang sejati bukan sekadar ucapan lisan, tetapi harus disertai dengan penyesalan hati dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk berubah."
Istighfar dalam Al-Qur'an
Dalil 1 — Istighfar Mendatangkan Hujan, Harta, dan Anak
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku berkata (kepada mereka): Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." (QS. Nuh: 10-12)
Konteks Ayat: Ini adalah perkataan Nabi Nuh 'alaihissalam kepada kaumnya yang telah bertahun-tahun menolak dakwahnya. Nabi Nuh AS mengajarkan bahwa solusi dari segala permasalahan hidup adalah kembali kepada Allah dengan istighfar.
Asbabun Nuzul: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 8, hal. 228) menjelaskan:
"Nabi Nuh AS mengajak kaumnya dengan menyebutkan keuntungan-keuntungan duniawi dari beriman dan beristighfar — karena manusia sering kali lebih mudah digerakkan oleh hal-hal yang ia lihat dan rasakan langsung."
Tafsir Ulama: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 870) menafsirkan:
"Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya mendatangkan ampunan akhirat, tetapi juga membuka pintu-pintu keberkahan di dunia — rezeki, keturunan, dan kenikmatan hidup. Inilah yang menjadikan istighfar sebagai amalan yang memiliki manfaat ganda: dunia dan akhirat."
Dalil 2 — Istighfar Menjauhkan Azab
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"Allah tidak akan mengazab mereka selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka, dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampunan." (QS. Al-Anfal: 33)
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 7, hal. 393) berkata:
"Ayat ini mengandung kabar yang sangat menggembirakan — selama umat ini masih ada yang beristighfar, azab Allah tidak akan menimpa mereka secara menyeluruh. Maka istighfar adalah pelindung umat dari kebinasaan."
Dalil 3 — Allah Membuka Pintu Tobat Selama Masih Hidup
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 110)
Dalil Hadits Shahih
Hadits 1 — Rasulullah ﷺ Beristighfar 100 Kali Sehari
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari." (HR. Bukhari No. 6307 — Shahih)
Dalam riwayat lain disebutkan 100 kali: (HR. Muslim No. 2702 — Shahih)
Renungan: Rasulullah ﷺ adalah manusia yang telah dijamin masuk surga dan diampuni dosa-dosanya — namun beliau tetap beristighfar 100 kali sehari. Bagaimana dengan kita yang penuh dengan dosa?
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam (Jilid 1, hal. 165) menjelaskan:
"Istighfar Rasulullah ﷺ bukan karena dosa, tetapi sebagai bentuk syukur dan pengakuan atas ketidaksempurnaan ibadah beliau di hadapan keagungan Allah — meskipun ibadah beliau jauh melampaui ibadah siapapun."
Hadits 2 — Istighfar Membuka Jalan Keluar dari Setiap Kesempitan
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka." (HR. Abu Dawud No. 1518, Ibnu Majah No. 3819 — Shahih, dikuatkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)
Tiga Janji Allah dalam Hadits Ini:
- Jalan keluar dari setiap kesempitan — masalah apapun ada solusinya
- Kelapangan dari setiap kesedihan — hati yang gelisah akan tenang
- Rezeki dari arah yang tidak disangka — pintu rezeki yang tak terduga
Hadits 3 — Pintu Tobat Selalu Terbuka
عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat — sampai matahari terbit dari barat (kiamat)." (HR. Muslim No. 2759 — Shahih)
Macam-Macam Bacaan Istighfar
1. Istighfar Paling Ringkas
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Astaghfirullah
"Aku memohon ampun kepada Allah."
2. Istighfar yang Lebih Lengkap
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullaahal 'azhiimalladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih
"Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), dan aku bertaubat kepada-Nya."
Keutamaan: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang membaca istighfar ini, maka dosanya diampuni meskipun ia pernah lari dari perang." (HR. Abu Dawud No. 1517, Tirmidzi No. 3577 — Hasan)
3. Sayyidul Istighfar — Penghulu Istighfar
(Sudah dibahas lengkap di artikel Zikir Pagi Petang)
4. Istighfar Nabi Adam dan Hawa AS
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Robbanaa zholamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin
"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi kami rahmat, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf: 23)
5. Istighfar Nabi Yunus AS
لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin
"Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya: 87)
Waktu Terbaik untuk Beristighfar
1. Di Waktu Sahur (Sebelum Subuh)
Allah memuji orang-orang yang beristighfar di waktu sahur:
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
"Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (QS. Ali Imran: 17)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 2, hal. 21):
"Waktu sahur adalah waktu yang paling diberkahi untuk beristighfar karena ia adalah waktu turunnya rahmat Allah dan dikabulkannya doa."
2. Setelah Sholat Lima Waktu — 3 Kali
(Berdasarkan hadits Tsauban — HR. Muslim No. 591 — Shahih)
3. Di Penghujung Majelis
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa kaffaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu." (HR. Abu Dawud No. 4859, Tirmidzi No. 3433 — Shahih)
Kisah Menakjubkan tentang Kekuatan Istighfar
Kisah 1: Imam Ahmad dan Tukang Roti
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah dalam sebuah perjalanan singgah di suatu kota dan mencari tempat bermalam. Ia mengetuk pintu masjid namun ditolak. Dalam keadaan kelelahan, ia akhirnya bermalam di teras tukang roti.
Sang tukang roti — tanpa mengetahui siapakah tamunya — mempersilakan Imam Ahmad masuk dan beristirahat. Semalaman, tukang roti itu tidak berhenti beristighfar sambil menguleni adonan.
Di pagi hari, Imam Ahmad bertanya: "Apa yang kamu rasakan dari istighfarmu yang semalaman itu?"
Sang tukang roti menjawab: "Allah telah mengabulkan setiap doaku — kecuali satu: aku berdoa agar Allah mempertemukanku dengan Imam Ahmad bin Hanbal."
Mendengar itu, Imam Ahmad rahimahullah menangis dan berkata: "Akulah Ahmad bin Hanbal. Allah telah menyeretku kepadamu dari jauh!"
(Kisah ini disebutkan dalam Manaqib Imam Ahmad karya Ibnu Jauzi, hal. 192)
Hikmah: Istighfar yang istiqomah — bahkan dari seorang tukang roti biasa — membuat Allah menggerakkan seorang imam besar untuk datang kepadanya.
Kisah 2: Fudhail bin Iyadh dan Taubatnya
Fudhail bin Iyadh rahimahullah dahulu adalah seorang perampok dan pembegal jalan yang sangat ditakuti. Suatu malam, ia sedang memanjat tembok rumah seorang wanita yang ia cintai.
Di tengah perjalanannya, ia mendengar seseorang membaca ayat Al-Qur'an:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
"Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah?" (QS. Al-Hadid: 16)
Fudhail berhenti. Hatinya tergetar. Ia berkata kepada dirinya sendiri: "Sudah tiba saatnya, wahai Fudhail!"
Ia turun dari tembok itu, beristighfar, dan bertaubat kepada Allah. Ia pun menjadi salah satu ulama dan ahli zuhud paling terkemuka dalam sejarah Islam.
(Disebutkan dalam Hilyatul Auliya, Imam Abu Nu'aim Al-Asfahani, Jilid 8, hal. 84)
Hikmah: Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Allah — selama seseorang mau beristighfar dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Perbedaan Istighfar dan Taubat
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarhul Arba'in An-Nawawiyyah (hal. 47) menjelaskan:
| Istighfar | Taubat |
|---|---|
| Memohon ampunan atas dosa | Kembali kepada Allah dari dosa |
| Bisa dilakukan secara umum | Harus spesifik terhadap dosa |
| Bisa tanpa menyebut dosa tertentu | Harus ada penyesalan & tekad berubah |
| Amalan lisan dan hati | Amalan hati, lisan, dan perbuatan |
Keduanya saling melengkapi dan seharusnya dilakukan bersama-sama.
Syarat Taubat yang Diterima
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin (hal. 23) menyebutkan tiga syarat:
- Meninggalkan dosa tersebut seketika
- Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dilakukan
- Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut
Jika dosa itu berkaitan dengan hak manusia, maka ditambah syarat keempat: 4. Mengembalikan hak atau meminta maaf kepada orang yang dizalimi
Penutup
Istighfar adalah pintu yang Allah selalu buka untuk hamba-Nya. Tidak peduli sebesar apapun dosamu, tidak peduli berapa kali kamu jatuh — Allah selalu menanti kamu untuk kembali.
Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:
"Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, meskipun dosamu setinggi langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian kamu menemuiku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula." (HR. Tirmidzi No. 3540 — Hasan)
Maka, mulailah sekarang. Ucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua dan membuka pintu rezeki, rahmat, dan keberkahan bagi kita. Aamiin.
Daftar Kitab Rujukan
- Jami'ul Ulum wal Hikam — Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jilid 1
- Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi
- Al-Adzkar — Imam An-Nawawi
- Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 2, 7, 8
- Tafsir Al-Qurthubi — Imam Al-Qurthubi, Jilid 7
- Taisir Karimir Rahman — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
- Syarhul Arba'in An-Nawawiyyah — Syaikh Ibnu Utsaimin
- Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an — Imam Al-Raghib Al-Asfahani
- Hilyatul Auliya — Imam Abu Nu'aim Al-Asfahani, Jilid 8
- Manaqib Imam Ahmad — Imam Ibnu Jauzi
- Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
- Shahih Muslim — Imam Muslim
- Sunan Abu Dawud — Imam Abu Dawud
- Sunan Tirmidzi — Imam At-Tirmidzi
- Sunan Ibnu Majah — Imam Ibnu Majah
- Shahih Abi Dawud — Syaikh Al-Albani
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Zikir & Wirid Tag: Istighfar, Tobat, Kunci Rezeki, Astaghfirullah, Doa Ampunan
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar
Posting Komentar