Kisah Abu Bakar As-Shiddiq: Sahabat Paling Mulia,

 


Kisah Abu Bakar As-Shiddiq: Sahabat Paling Mulia, Kekasih Rasulullah ﷺ, dan Khalifah Pertama Islam

Oleh: Ashabussalam.Online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Pendahuluan

Di antara lebih dari seratus ribu sahabat Rasulullah ﷺ, ada satu nama yang selalu disebut pertama — yang keimanannya paling dulu, pengorbanannya paling besar, dan kedudukannya paling tinggi setelah para nabi.

Dialah Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ عَلَى رَجُلٍ خَيْرٍ مِنْ أَبِي بَكْرٍ

"Matahari tidak pernah terbit di atas seseorang yang lebih baik dari Abu Bakar." (HR. Tirmidzi No. 3685 — Hasan)

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 5) membuka biografi Abu Bakar dengan kalimat:

"Abu Bakar adalah manusia terbaik umat ini setelah Nabinya. Ia adalah yang paling pertama masuk Islam dari kalangan orang dewasa laki-laki yang merdeka, yang paling besar pengorbanannya, yang paling dalam ilmunya tentang Rasulullah ﷺ, dan yang paling layak memimpin umat sepeninggal beliau."


Siapakah Abu Bakar As-Shiddiq?

Nama lengkap: Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah Al-Qurasyi At-Taimiy

Nasab: Bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Murrah bin Ka'ab — mereka adalah saudara jauh dari kabilah Quraisy.

Kunyah (panggilan): Abu Bakar

Gelar-gelar mulia:

  • As-Shiddiq — Yang Maha Membenarkan (gelar dari Allah melalui Al-Qur'an)
  • Atiq — Yang Dibebaskan dari api neraka (gelar dari Rasulullah ﷺ)
  • Khalifah Rasulillah — Pengganti Rasulullah ﷺ

Lahir: Sekitar 2 tahun setelah Tahun Gajah (573 M)

Wafat: 22 Jumadil Akhir tahun 13 H (634 M) dalam usia 63 tahun

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 5, hal. 335)


Gelar As-Shiddiq — Langsung dari Al-Qur'an

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut Abu Bakar sebagai As-Shiddiq dalam Al-Qur'an:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya (Abu Bakar), mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zumar: 33)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 7, hal. 102):

"Para ulama tafsir seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan lainnya menafsirkan 'orang yang membenarkannya' dalam ayat ini adalah Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Ia adalah orang yang paling pertama dan paling tulus membenarkan Rasulullah ﷺ — baik dalam hal kenabian maupun dalam peristiwa Isra' Mi'raj yang banyak ditolak orang."


Fase 1: Keislaman Abu Bakar — Yang Pertama dan Paling Tulus

Manusia Pertama yang Masuk Islam

Abu Bakar adalah orang dewasa laki-laki yang pertama memeluk Islam. Bahkan sebelum Rasulullah ﷺ mengumumkan kenabiannya secara terbuka, Abu Bakar sudah menjadi orang kepercayaan dan sahabat dekat beliau.

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 3, hal. 25):

"Ketika Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Bakar dan menyampaikan tentang kenabiannya, Abu Bakar tidak ragu sedetikpun. Ia tidak meminta bukti, tidak bertanya lebih lanjut. Ia langsung berkata: 'Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.' Inilah mengapa ia disebut As-Shiddiq — karena pembenaran yang paling tulus dan paling cepat."

Kisah Islamnya Abu Bakar yang Mengharukan

Sebelum Islam, Abu Bakar adalah seorang pedagang kain yang sangat sukses, terhormat, dan dipercaya oleh seluruh penduduk Makkah. Ia adalah sahabat dekat Muhammad sebelum kenabian — dan mengenal Muhammad lebih baik dari siapapun.

Ketika Muhammad ﷺ menyampaikan kepadanya tentang wahyu dan kenabian, Abu Bakar tidak perlu berpikir panjang. Ia berkata:

"Demi Allah, engkau tidak pernah berdusta, tidak pernah berkhianat, tidak pernah memutus silaturahmi, dan tidak pernah berbuat hal yang tercela. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah."

(Disebutkan dalam As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, Jilid 1, hal. 262)

Dakwah Pertama Abu Bakar

Setelah masuk Islam, Abu Bakar tidak diam. Ia langsung berdakwah — dan hasilnya luar biasa. Di antara orang-orang yang masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar adalah:

  1. Utsman bin Affan — kelak menjadi khalifah ketiga
  2. Abdurrahman bin Auf — sahabat paling dermawan
  3. Thalhah bin Ubaidillah — salah satu dari sepuluh yang dijamin surga
  4. Sa'ad bin Abi Waqqash — penakluk Persia
  5. Zubair bin Awwam — pahlawan Islam terbesar
  6. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah — kepercayaan umat ini

(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 1, hal. 15)

Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun yang aku ajak masuk Islam kecuali ia ragu-ragu — kecuali Abu Bakar. Ia tidak ragu sedikit pun." (HR. Hakim — Shahih, disebutkan dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 3, hal. 26)


Fase 2: Pengorbanan yang Melampaui Batas

Memerdekakan Para Budak yang Disiksa

Di masa awal Islam ketika kaum Muslim masih lemah dan ditindas, Abu Bakar menggunakan hartanya untuk membeli dan memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya.

Di antara budak yang dimerdekakannya:

  • Bilal bin Rabah — yang menjadi muadzin Islam pertama
  • Amir bin Fuhairah — pelayan Abu Bakar yang kemudian gugur syahid
  • Ummu Ubais
  • Zinniyah
  • An-Nahdiyah dan putrinya

Allah berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى. الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ. وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰ. إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ. وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

"Dan neraka itu akan dijauhkan dari orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya untuk membersihkan diri, dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari ridha Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan niscaya dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna)." (QS. Al-Lail: 17-21)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 8, hal. 438):

"Para mufassir sepakat bahwa ayat ini turun tentang Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu — khususnya tentang perbuatannya memerdekakan Bilal dan budak-budak lainnya. Allah memujinya langsung dalam Al-Qur'an karena keikhlasannya yang murni — ia tidak mengharap balasan dari siapapun kecuali Allah."

Kisah Bilal — Simbol Pengorbanan Abu Bakar

Bilal bin Rabah adalah budak Ethiopia yang disiksa di bawah terik matahari Makkah karena keislamannya. Umayyah bin Khalaf — tuannya — melemparkan batu besar di dadanya dan menyiksanya.

Namun Bilal tidak menyerah. Dalam setiap siksaan, ia hanya mengucapkan: "Ahad... Ahad..." (Allah Yang Maha Esa).

Abu Bakar yang melihat kondisi Bilal tidak bisa tinggal diam. Ia mendatangi Umayyah dan membeli Bilal dengan harga yang sangat mahal — beberapa riwayat menyebut 9 uqiyah emas, riwayat lain menyebut lebih.

Ketika Abu Bakar memerdekakan Bilal, ayahnya Abu Quhafah yang masih musyrik berkata: "Mengapa kamu tidak membeli budak yang lebih kuat?"

Abu Bakar menjawab: "Wahai ayah, aku tidak membeli karena kekuatan — aku membeli karena Allah."

(As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, Jilid 1, hal. 318)

Hikmah: Abu Bakar bisa saja membeli budak yang lebih kuat dan lebih produktif secara ekonomi. Namun ia memilih Bilal — bukan karena manfaat duniawi, tetapi karena Allah. Inilah cerminan iman yang paling murni.


Fase 3: Hijrah — Menemani Rasulullah ﷺ dalam Bahaya

Satu-satunya Teman di Gua Tsur

Ketika Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah, beliau hanya mengajak satu orang untuk menemaninya dalam perjalanan yang sangat berbahaya itu — Abu Bakar As-Shiddiq.

Allah mengabadikan momen bersejarah ini dalam Al-Qur'an:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: 'Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'" (QS. At-Taubah: 40)

Asbabun Nuzul: Imam As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul (hal. 117):

"Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar. Allah sendiri yang mengabadikan momen kebersamaan mereka berdua dalam Al-Qur'an — sebagai penghormatan tertinggi kepada Abu Bakar yang menemani Nabi dalam kondisi paling berbahaya."

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 4, hal. 147):

"Firman Allah 'salah seorang dari dua orang' adalah penegasan eksplisit dalam Al-Qur'an tentang kedudukan Abu Bakar sebagai satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah ﷺ dalam hijrah. Ini adalah kemuliaan yang tidak dimiliki oleh sahabat manapun."

Keberanian Abu Bakar di Gua Tsur

Dalam gua Tsur, pasukan Quraisy hampir menemukan mereka. Abu Bakar sangat khawatir — bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk keselamatan Rasulullah ﷺ.

Ia berbisik kepada Rasulullah ﷺ: "Ya Rasulullah, jika mereka melihat ke bawah kaki mereka, niscaya mereka akan melihat kita!"

Rasulullah ﷺ menenangkannya: "Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu tentang dua orang yang ketiganya adalah Allah?" (HR. Bukhari No. 3653, Muslim No. 2381 — Shahih)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Jilid 15, hal. 159):

"Perkataan Abu Bakar 'jika mereka melihat ke bawah kaki mereka' bukan menunjukkan keraguan kepada Allah — tetapi menunjukkan betapa besarnya rasa cintanya kepada Rasulullah ﷺ hingga ia sangat takut sesuatu yang buruk menimpa beliau. Inilah cinta yang paling tulus."


Fase 4: Di Sisi Rasulullah ﷺ — Sahabat Paling Dekat

Pengorbanan Harta yang Paling Besar

Ketika Rasulullah ﷺ meminta para sahabat untuk berinfak dalam persiapan Perang Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya — tidak menyisakan sesuatupun.

Rasulullah ﷺ bertanya: "Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?"

Abu Bakar menjawab dengan tenang: "Allah dan Rasul-Nya."

(HR. Abu Dawud No. 1678, Tirmidzi No. 3675 — Hasan)

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang membawa separuh hartanya berkata setelah melihat ini:

"Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mendahului Abu Bakar dalam kebaikan apapun selamanya."

Abu Bakar Menangis Mendengar Al-Qur'an

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (No. 476):

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang sangat mudah menangis ketika mendengar atau membaca Al-Qur'an. Ketika Rasulullah ﷺ dalam keadaan sakit dan meminta Abu Bakar untuk mengimami sholat, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata kepada Rasulullah ﷺ:

"Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang lembut hati. Jika ia berdiri di tempat engkau, ia tidak akan bisa mengimami orang-orang karena tangisannya."

Namun Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan Abu Bakar mengimami sholat. Dan benar — Abu Bakar menangis dalam setiap sholatnya.

Hikmah: Tangisan Abu Bakar bukan tangisan kelemahan — tetapi tangisan keimanan yang paling dalam. Hati yang paling mulia adalah hati yang paling mudah tersentuh oleh firman Allah.


Fase 5: Kekhilafahan Abu Bakar — Pemimpin yang Mewarisi Semangat Nabi

Momen Paling Berat — Wafatnya Rasulullah ﷺ

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, seluruh kaum Muslim terguncang. Bahkan Umar bin Khattab yang terkenal dengan ketegasannya sempat tidak mempercayai berita itu dan mengancam akan memenggal kepala siapapun yang mengatakan Rasulullah ﷺ telah wafat.

Namun Abu Bakar berdiri dengan tenang, masuk ke kamar Rasulullah ﷺ, mencium kening beliau, dan keluar menghadap orang banyak. Dengan suara yang mantap ia bersabda:

"Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati."

Kemudian ia membaca ayat Al-Qur'an:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

"Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?" (QS. Ali Imran: 144)

(HR. Bukhari No. 3668 — Shahih)

Umar bin Khattab berkata:

"Demi Allah, ketika aku mendengar Abu Bakar membaca ayat itu, kedua kakiku seolah tidak mampu menahan tubuhku dan aku jatuh ke tanah. Barulah aku yakin bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar telah wafat."

Hikmah: Di momen paling krisis dalam sejarah Islam, Abu Bakar adalah satu-satunya yang mampu berdiri dengan tenang dan menstabilkan seluruh umat. Inilah buah dari keimanan yang paling kokoh.


Perang Melawan Kaum Murtad dan Pembangkang Zakat

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, banyak suku Arab yang murtad dan menolak membayar zakat. Sebagian sahabat berpendapat untuk berkompromi. Namun Abu Bakar berdiri teguh:

"Demi Allah, aku pasti akan memerangi orang yang memisahkan antara sholat dan zakat. Karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, jika mereka menolak membayar seutas tali unta yang dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah ﷺ, aku pasti memerangi mereka karenanya."

(HR. Bukhari No. 1399, Muslim No. 20 — Shahih)

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad (Jilid 3, hal. 477):

"Keputusan Abu Bakar memerangi kaum murtad adalah keputusan yang paling berani dalam sejarah Islam setelah kenabian. Ia memilih jalan yang benar meskipun berdiri sendirian di awal — hingga akhirnya seluruh sahabat setuju bahwa ia benar."


Sifat-Sifat Mulia Abu Bakar

1. Ash-Shidq — Kejujuran Sempurna

Abu Bakar tidak pernah berdusta sepanjang hidupnya — baik sebelum maupun sesudah Islam. Inilah yang menyebabkan Rasulullah ﷺ mempercayainya lebih dari siapapun.

2. Az-Zuhd — Kesederhanaan yang Mengagumkan

Meskipun pernah menjadi pedagang kaya dan kemudian menjadi khalifah yang memimpin seluruh jazirah Arab, Abu Bakar hidup dengan sangat sederhana.

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 125):

"Ketika Abu Bakar wafat sebagai khalifah, ia tidak meninggalkan warisan harta apapun. Seluruh gajinya sebagai khalifah telah dikembalikan ke Baitul Mal. Ia masuk ke pemerintahan sebagai orang kaya, namun keluar sebagai orang miskin — karena ia menginfakkan seluruhnya di jalan Allah."

3. Al-Hilm — Kelembutan yang Luar Biasa

Meskipun berwatak tegas dalam membela kebenaran, Abu Bakar sangat lembut dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sahabat yang paling banyak menangis dan paling mudah tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur'an.

4. Al-Wafa' — Kesetiaan Tanpa Batas

Kesetiaan Abu Bakar kepada Rasulullah ﷺ tidak tertandingi. Ia menemani beliau di setiap momen paling berbahaya — di Gua Tsur, di berbagai peperangan, dan di saat-saat paling kritis dalam sejarah Islam.


Kata-Kata Hikmah Abu Bakar As-Shiddiq

Imam Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin (hal. 34) mengumpulkan beberapa kata mutiara Abu Bakar:

1. "Jangan pernah meremehkan dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu berkumpul hingga membinasakan pemiliknya."

2. "Wahai manusia, kamu membaca ayat ini: 'Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu!' (QS. Al-Maidah: 105) — namun kamu menafsirkannya bukan pada tempatnya. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran namun tidak mencegahnya, maka Allah akan segera menimpakan azab yang menyeluruh kepada mereka semua." (HR. Tirmidzi No. 2168 — Hasan Shahih)

3. Ketika dinobatkan sebagai khalifah, Abu Bakar berkhutbah:

"Wahai manusia, aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat benar, bantulah aku. Jika aku berbuat salah, luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah dan kebohongan adalah pengkhianatan. Yang lemah di antara kalian adalah kuat di sisiku sampai aku mengembalikan haknya kepadanya, dan yang kuat di antara kalian adalah lemah di sisiku sampai aku mengambil hak (orang lain) darinya. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada ketaatan kepadaku atas kalian."

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 5, hal. 377)


Wafatnya Abu Bakar As-Shiddiq

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu wafat pada 22 Jumadil Akhir tahun 13 H, dalam usia 63 tahun — usia yang sama dengan Rasulullah ﷺ saat wafat.

Riwayat menyebutkan bahwa ia meninggal karena sakit setelah terkena dingin saat mandi. Menjelang wafatnya, ia dipanggil oleh putrinya Aisyah radhiyallahu 'anha:

"Wahai ayah, bukankah Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidak ada seorang nabi pun yang wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat'?"

Abu Bakar berkata: "Benar. Maka kuburkanlah aku di sana (di kamar Aisyah, di sisi Rasulullah ﷺ)."

Dan hari ini, Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berbaring di sisi Rasulullah ﷺ — sebagaimana ia selalu berada di sisi beliau semasa hidup.

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 5, hal. 339)


Kedudukan Abu Bakar di Sisi Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً غَيْرَ رَبِّي لاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ

"Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku." (HR. Bukhari No. 3654, Muslim No. 2383 — Shahih)


Penutup

Kisah Abu Bakar As-Shiddiq adalah kisah tentang iman yang paling murni, pengorbanan yang paling tulus, dan kesetiaan yang paling abadi.

Ia tidak pernah memiliki kekuatan fisik seperti Umar, tidak pernah memiliki kecerdasan strategi militer seperti Khalid bin Walid, tidak pernah memiliki kekayaan yang tersisa seperti Utsman. Namun ia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari segalanya:

Hati yang paling dekat kepada Allah dan paling tulus mencintai Rasulullah ﷺ.

Dan cukuplah sebagai kemuliaan bagi Abu Bakar bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan namanya — meski tidak secara eksplisit — dalam Al-Qur'an yang akan dibaca umat Islam hingga hari kiamat.

Allah berfirman tentang dirinya:

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ

"Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua." (QS. At-Taubah: 40)

Semoga Allah meridhai Abu Bakar As-Shiddiq, mengumpulkan kita bersamanya di surga, dan menjadikan kisahnya sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup kita.

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ 🤲


Daftar Kitab Rujukan

  1. Siyar A'lamin Nubala' — Imam Adz-Dzahabi, Jilid 1
  2. Al-Bidayah wan Nihayah — Imam Ibnu Katsir, Jilid 3 & 5
  3. Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 4, 7, 8
  4. Syarh Shahih Muslim — Imam An-Nawawi, Jilid 15
  5. Zaadul Ma'ad — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 3
  6. Mukhtashar Minhajil Qashidin — Imam Ibnu Qudamah
  7. As-Sirah An-Nabawiyyah — Ibnu Hisyam, Jilid 1
  8. Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul — Imam As-Suyuthi
  9. Hilyatul Auliya' — Imam Abu Nu'aim Al-Asfahani
  10. Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
  11. Shahih Muslim — Imam Muslim
  12. Sunan Tirmidzi — Imam At-Tirmidzi
  13. Sunan Abu Dawud — Imam Abu Dawud

Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Tag: Abu Bakar As-Shiddiq, Kisah Sahabat, Khalifah Pertama, As-Shiddiq, Hijrah, Gua Tsur

Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar