Adab dan Doa Membaca Al-Qur'an


 

Adab dan Doa Membaca Al-Qur'an: Panduan Lengkap Beserta Dalil, Tafsir, dan Pendapat Ulama

Oleh: Ashabussalam.Online Label: Al-Qur'an & Tafsir Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Pendahuluan

Al-Qur'an bukan sekadar buku biasa. Ia adalah Kalamullah — firman Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ, terjaga keasliannya sepanjang masa, dan menjadi mukjizat terbesar yang abadi hingga hari kiamat.

Imam As-Suyuthi rahimahullah dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur'an (Jilid 1, hal. 47) berkata:

"Al-Qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya ﷺ, yang membacanya adalah ibadah, yang tertantang seluruh makhluk untuk menandinginya namun tidak mampu, dan yang terjaga kemurniannya sepanjang zaman."

Karena kemuliaannya yang luar biasa, para ulama menetapkan adab-adab khusus dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an — baik sebelum membaca, saat membaca, maupun setelah membaca. Inilah yang akan kita pelajari bersama dalam artikel ini.


Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Dalil Al-Qur'an

Dalil 1 — Al-Qur'an adalah Obat dan Rahmat:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian." (QS. Al-Isra: 82)

Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 5, hal. 111) menjelaskan:

"Al-Qur'an adalah penawar bagi penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, dan kesesatan. Bagi orang beriman, ia memberi rahmat, keimanan, dan hidayah. Namun bagi orang zalim yang menolaknya, ia justru menambah kebutaan dan kesesatan mereka."

Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 469) menambahkan:

"Makna 'syifa' (penawar) dalam ayat ini mencakup dua hal: penawar bagi penyakit rohani (hati) dan ada ulama yang berpendapat juga mencakup penyakit jasmani — yaitu dengan cara meruqyah menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an."


Dalil 2 — Perintah Membaca dan Mentadabburi:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (QS. Shad: 29)

Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 15, hal. 185):

"Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an bukan sekadar dibaca — tetapi ditadabburi, direnungkan, dan diambil pelajarannya. Membaca tanpa tadabbur adalah seperti makan tanpa mengunyah."


Dalil Hadits Shahih

Hadits 1 — Setiap Huruf Bernilai Satu Kebaikan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf." (HR. Tirmidzi No. 2910 — Shahih)

Faidah: Artinya, setiap kali kamu membaca "Alif Lam Mim" saja di awal surat Al-Baqarah, kamu sudah mendapat 30 kebaikan! Bayangkan jika membaca satu juz penuh.


Hadits 2 — Al-Qur'an akan Memberi Syafaat di Hari Kiamat:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim No. 804 — Shahih)


Hadits 3 — Ahli Al-Qur'an adalah Keluarga Allah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ. قِيلَ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia." Ditanyakan: "Siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ahli Al-Qur'an — mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang paling dekat dengan-Nya." (HR. Ibnu Majah No. 215, Ahmad — Hasan, dikuatkan oleh Syaikh Al-Albani)


Adab Sebelum Membaca Al-Qur'an

1. 🌊 Bersuci (Berwudhu)

Membaca Al-Qur'an sangat dianjurkan dalam keadaan suci.

Dalil: لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ "Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. Al-Waqi'ah: 79)

Pendapat Ulama:

Imam Malik rahimahullah dalam Al-Mudawwanah (Jilid 1, hal. 111):

"Tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur'an kecuali dalam keadaan suci."

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu' (Jilid 2, hal. 67):

"Para ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur'an dengan berwudhu adalah lebih utama dan lebih mulia."

Catatan: Membaca Al-Qur'an tanpa menyentuh mushaf (hafalan atau dari layar digital) diperbolehkan bagi yang berhadats kecil menurut jumhur ulama.


2. 🦷 Bersiwak (Membersihkan Mulut)

Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersiwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah." (HR. Bukhari — Muallaq Shahih, Ibnu Khuzaimah No. 135 — Shahih)

Imam Ibnu Baz dalam Majmu' Fatawa (Jilid 10, hal. 32):

"Dianjurkan bersiwak sebelum membaca Al-Qur'an karena mulut adalah jalan keluarnya bacaan Al-Qur'an, maka selayaknya ia dalam keadaan bersih dan harum."


3. 🧭 Menghadap Kiblat

Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an (hal. 52):

"Dianjurkan bagi pembaca Al-Qur'an untuk menghadap kiblat karena itu adalah arah yang paling mulia, sebagaimana Rasulullah ﷺ menyukai menghadap kiblat dalam berbagai amalan."


4. 🤲 Niat yang Ikhlas

Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa'adah (Jilid 1, hal. 187):

"Niat adalah ruh dari setiap amalan. Membaca Al-Qur'an dengan niat riya atau pamer tidak hanya tidak mendapat pahala, tetapi justru mendatangkan dosa."


Doa Sebelum Membaca Al-Qur'an

Doa 1 — Ta'awwudz (Wajib)

Arab: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Latin: A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim

Terjemahan: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."

Dalil: فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ "Maka apabila engkau membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98)

Pendapat Ulama tentang Hukum Ta'awwudz:

  • Imam Syafi'i: Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan)
  • Imam Ahmad: Wajib dalam sholat, sunnah di luar sholat
  • Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' (Jilid 3, hal. 325): Ta'awwudz adalah sunnah yang sangat kuat sebelum membaca Al-Qur'an.

Doa 2 — Basmalah

Arab: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Latin: Bismillaahir rahmaanir rahiim

Terjemahan: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."


Doa 3 — Doa Memohon Pemahaman

Arab: اَللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيَّ حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَيَّ رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنِي مَا نَسِيتُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Latin: Allahumaftah 'alayya hikmataka wansyur 'alayya rahmataka wa dzakkirnii maa nasiitu yaa dzal jalaali wal ikraam

Terjemahan: "Ya Allah, bukalah hikmah-Mu untukku, tebarkan rahmat-Mu kepadaku, dan ingatkanlah aku atas apa yang aku lupa, wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia."

(Doa ini diriwayatkan dari amalan para ulama salaf — disebutkan dalam At-Tibyan, Imam An-Nawawi, hal. 55)


Adab Saat Membaca Al-Qur'an

1. 🎵 Membaca dengan Tartil

رَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil: 4)

Pengertian Tartil: Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "At-Tartil adalah memperindah bacaan huruf-hurufnya dan mengetahui tempat-tempat berhentinya." (Disebutkan dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur'an, As-Suyuthi, Jilid 1, hal. 282)


2. 🎶 Memperindah Suara

Rasulullah ﷺ bersabda: "Hiasilah Al-Qur'an dengan suaramu." (HR. Abu Dawud No. 1468, Ibnu Majah No. 1342 — Shahih)

Catatan: Memperindah suara bukan berarti seperti penyanyi. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Jilid 9, hal. 72) menjelaskan:

"Yang dimaksud adalah membaca dengan khusyuk dan penuh penghayatan, melagukan secara wajar sesuai kaidah tajwid — bukan melagukan seperti lagu-lagu hiburan."


3. 😢 Menangis atau Berusaha Menangis

Allah berfirman menggambarkan orang-orang yang benar imannya:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

"Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan (membaca Al-Qur'an) menambah kekhusyukan mereka." (QS. Al-Isra: 109)

Rasulullah ﷺ bersabda: "Bacalah Al-Qur'an dan menangislah. Jika kamu tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis." (HR. Ibnu Majah No. 1337 — Hasan)


4. 🔇 Tidak Terburu-buru

Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an (hal. 68):

"Membaca satu juz dengan tartil, tadabbur, dan khusyuk jauh lebih utama dari membaca tiga juz dengan terburu-buru tanpa penghayatan."


5. 🤫 Merespons Ayat-Ayat Tertentu

Rasulullah ﷺ mengajarkan:

  • Saat membaca ayat rahmat → mohon rahmat kepada Allah
  • Saat membaca ayat azab → berlindung kepada Allah
  • Saat membaca ayat tasbih → ucapkan subhanallah
  • Saat membaca ayat sajdah → lakukan sujud tilawah

(HR. Muslim No. 772 — Shahih)


Adab Setelah Membaca Al-Qur'an

1. Membaca Shadaqallahul 'Azhim

Arab: صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ

Latin: Shadaqallahul 'azhiim

Terjemahan: "Maha benar Allah Yang Maha Agung."

Catatan Penting: Imam Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu' Fatawa (Jilid 9, hal. 341) ditanya tentang hukum membaca "Shadaqallahul 'Azhim" setelah selesai membaca Al-Qur'an. Beliau menjawab:

"Tidak ada dalil shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ atau para sahabat membaca ini secara khusus setiap selesai membaca Al-Qur'an. Namun ia adalah kalimat yang baik dan boleh diucapkan sewaktu-waktu sebagai bentuk pembenaran atas firman Allah — bukan sebagai sunnah yang ditetapkan."


2. Doa Setelah Membaca Al-Qur'an

Arab: اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً. اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نَسِيتُ وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Latin: Allahummarhamnii bilqur'aani waj'alhu lii imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah. Allahumma dzakkirnii minhu maa nasiitu wa 'allimnii minhu maa jahiltu warzuqnii tilaawatahu aanaa'al laili wa athraafan nahaari waj'alhu lii hujjatan yaa rabbal 'aalamiin.

Terjemahan: "Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur'an dan jadikanlah ia bagiku sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah aku dari apa yang aku lupa darinya, ajarkanlah aku dari apa yang aku tidak tahu, berikanlah aku kemudahan untuk membacanya di malam hari dan di siang hari, dan jadikanlah ia sebagai hujjah (pembela) bagiku wahai Tuhan semesta alam."

(Diriwayatkan dalam berbagai kitab doa — disebutkan dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi, hal. 102)


Kisah Indah Interaksi Ulama dengan Al-Qur'an

Kisah 1: Imam Syafi'i Mengkhatamkan Al-Qur'an 60 Kali di Bulan Ramadan

Imam Al-Baihaqi rahimahullah dalam Manaqib As-Syafi'i (Jilid 2, hal. 41) meriwayatkan:

"Imam Syafi'i rahimahullah pada bulan Ramadan mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 60 kali — setiap khatam dilakukan di dalam sholat."

Hikmah: Kecintaan Imam Syafi'i kepada Al-Qur'an bukan hanya kecintaan intelektual — tetapi kecintaan ruhani yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat hidupnya.


Kisah 2: Imam Ahmad dan Tangisannya Saat Membaca Al-Qur'an

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 11, hal. 216) menceritakan:

"Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah setiap kali membaca Al-Qur'an, ia menangis hingga jenggotnya basah. Pernah seseorang melihatnya dan bertanya tentang kondisinya. Imam Ahmad menjawab: 'Ini yang kulakukan ketika aku membacanya sendirian. Bagaimana nanti ketika aku berdiri di hadapan Allah dan Al-Qur'an itu berbicara tentang aku?'"


Kisah 3: Abdullah bin Mas'ud — Sahabat yang Paling Fasih Membaca Al-Qur'an

Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat: "Ambillah Al-Qur'an dari empat orang: Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka'ab." (HR. Bukhari No. 4999 — Shahih)

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bercerita:

"Aku membaca kepada Rasulullah ﷺ Surat An-Nisa hingga sampai ayat: 'Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau sebagai saksi atas mereka?' (QS. An-Nisa: 41) — lalu aku melihat kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata. Beliau bersabda: 'Cukup, cukup.' Maka aku pun berhenti membaca." (HR. Bukhari No. 5055, Muslim No. 800 — Shahih)

Hikmah: Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri menangis mendengar bacaan Al-Qur'an — ini menunjukkan bahwa menangis saat membaca Al-Qur'an adalah tanda keimanan yang paling dalam.


Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

Yang Dilarang Saat Membaca Al-Qur'an

Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an (hal. 72-75) menyebutkan:

  1. Berbicara tentang urusan dunia di sela-sela bacaan tanpa keperluan
  2. Tertawa terbahak-bahak saat membaca Al-Qur'an
  3. Membaca sambil melakukan pekerjaan yang memalingkan pikiran sehingga bacaan tidak terjaga
  4. Membaca dengan sangat keras hingga mengganggu orang yang sholat atau tidur
  5. Meninggalkan Al-Qur'an terlalu lama tanpa membacanya

Rasulullah ﷺ bersabda: "Dikatakan kepada ahli Al-Qur'an (di akhirat): Bacalah dan naiklah (ke surga)! Bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu ada di akhir ayat yang kamu baca." (HR. Abu Dawud No. 1464, Tirmidzi No. 2914 — Shahih)


Penutup

Al-Qur'an adalah tali Allah yang terulur dari langit ke bumi. Setiap kali kamu membukanya — Allah berbicara kepadamu. Maka sambut firman-Nya dengan hati yang bersih, pikiran yang hadir, dan jiwa yang rindu.

Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa'adah (Jilid 1, hal. 190) menutup pembahasannya dengan indah:

"Tidak ada yang dapat memperbaiki hati, membersihkan jiwa, dan mencerahkan akal seperti Al-Qur'an. Barangsiapa yang ingin berdialog dengan Allah, hendaklah ia membaca Al-Qur'an."

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai ahlul Qur'an — keluarga Allah yang selalu dekat dengan firman-Nya.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🤲


Daftar Kitab Rujukan

  1. At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an — Imam An-Nawawi
  2. Al-Adzkar — Imam An-Nawawi
  3. Al-Majmu' — Imam An-Nawawi, Jilid 2 & 3
  4. Al-Itqan fi Ulumil Qur'an — Imam As-Suyuthi, Jilid 1
  5. Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 5
  6. Tafsir Al-Qurthubi — Imam Al-Qurthubi, Jilid 15
  7. Taisir Karimir Rahman — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
  8. Fathul Bari — Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Jilid 9
  9. Majmu' Fatawa Ibnu Baz — Imam Abdul Aziz bin Baz, Jilid 9 & 10
  10. Miftah Daris Sa'adah — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
  11. Siyar A'lamin Nubala' — Imam Adz-Dzahabi, Jilid 11
  12. Manaqib As-Syafi'i — Imam Al-Baihaqi, Jilid 2
  13. Al-Mudawwanah — Imam Malik, Jilid 1
  14. Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
  15. Shahih Muslim — Imam Muslim
  16. Sunan Abu Dawud — Imam Abu Dawud
  17. Sunan Tirmidzi — Imam At-Tirmidzi
  18. Sunan Ibnu Majah — Imam Ibnu Majah

Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Al-Qur'an & Tafsir Tag: Adab Membaca Al-Quran, Doa Membaca Quran, Keutamaan Al-Quran, Tartil, Tadabbur Quran

Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar