pada tanggal
Al-Qur'an dan Tafsir
Dosa
Hadits
Islam
Panduan Ibadah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Zikir & Wirid Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada satu kalimat yang lebih berat dari seluruh langit dan bumi jika ditimbang.
Ada satu kalimat yang menjadi kunci surga — siapa yang membawanya dengan hati yang ikhlas dijamin masuk surga.
Ada satu kalimat yang karenanya seluruh nabi dan rasul diutus, seluruh kitab suci diturunkan, dan seluruh peperangan dalam sejarah Islam terjadi.
Kalimat itu hanya terdiri dari empat kata dalam bahasa Arab — namun maknanya mencakup seluruh alam semesta:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Laa Ilaaha Illallah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
"Zikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah." (HR. Tirmidzi No. 3383, Ibnu Majah No. 3800 — Hasan Shahih)
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilush Shayyib (hal. 92) berkata:
"Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang paling agung yang pernah diucapkan manusia. Ia adalah inti dari seluruh risalah para nabi, fondasi seluruh ibadah, dan kunci seluruh kebaikan. Tidak ada kalimat yang lebih besar nilainya, lebih tinggi kedudukannya, dan lebih besar pengaruhnya terhadap hati dan kehidupan seorang Muslim daripada kalimat ini."
Kalimat ini terdiri dari:
Imam Al-Raghib Al-Asfahani dalam Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an (hal. 29):
"Al-Ilaah adalah yang disembah dan diagungkan. Maka kalimat 'Laa Ilaaha Illallah' berarti: tidak ada satupun yang berhak dan layak untuk disembah dan diagungkan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid (hal. 8) menjelaskan:
Rukun Pertama — An-Nafyu (Penolakan): "Laa Ilaaha" — menolak dan membersihkan diri dari segala bentuk sesembahan selain Allah.
Rukun Kedua — Al-Itsbat (Penetapan): "Illallah" — menetapkan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (Jilid 1, hal. 23):
"Kalimat ini tidak sempurna dengan hanya menetapkan tanpa menolak, dan tidak sempurna dengan hanya menolak tanpa menetapkan. Kesempurnaan tauhid ada pada keduanya: menolak semua sesembahan selain Allah dan menetapkan hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah."
وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Dan (Ibrahim) menjadikannya kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepada kalimat itu)." (QS. Az-Zukhruf: 28)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 7, hal. 218):
"'Kalimat yang kekal' dalam ayat ini adalah Laa Ilaaha Illallah — yang Nabi Ibrahim wariskan kepada seluruh keturunannya sebagai warisan paling berharga. Ia kekal karena kebenaran tidak pernah mati, dan karena Allah menjaga kalimat ini tetap ada di muka bumi hingga hari kiamat."
وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا
"Dan Allah mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa." (QS. Al-Fath: 26)
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 16, hal. 277):
"Para ulama tafsir — termasuk Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan lainnya — menafsirkan 'kalimat takwa' dalam ayat ini sebagai Laa Ilaaha Illallah. Ia disebut 'kalimat takwa' karena ia adalah fondasi dari seluruh ketakwaan — tidak ada takwa yang benar tanpa dibangun di atas tauhid yang murni."
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)
Tafsir Ulama: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 420):
"'Al-Qauluts Tsabit' (ucapan yang teguh) dalam ayat ini adalah Laa Ilaaha Illallah. Allah mengukuhkan hamba-Nya yang beriman dengan kalimat ini di dunia — sehingga ia istiqomah di atas kebenaran — dan di akhirat — sehingga ia menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur dengan mantap."
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: إِنَّ نُوحًا عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ: آمُرُكَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَإِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالأَرَضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَوُضِعَتْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ، لَرَجَحَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Nabi Nuh alaihissalam ketika menjelang wafatnya berkata kepada anaknya: 'Aku wasiatkan kepadamu Laa Ilaaha Illallah. Karena sesungguhnya jika tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan di satu sisi timbangan dan Laa Ilaaha Illallah diletakkan di sisi lain, niscaya Laa Ilaaha Illallah lebih berat.'" (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim — Shahih)
Penjelasan Ulama: Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilush Shayyib (hal. 94):
"Wasiat Nabi Nuh di saat-saat terakhir hidupnya memilih Laa Ilaaha Illallah — bukan nasihat tentang harta, anak, atau dunia. Ini menunjukkan bahwa para nabi memahami dengan sempurna bahwa kalimat inilah yang paling penting untuk diwariskan kepada generasi penerus."
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah Laa Ilaaha Illallah, ia masuk surga." (HR. Abu Dawud No. 3116, Al-Hakim — Hasan Shahih)
Penjelasan Ulama: Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar (hal. 145):
"Hadits ini adalah motivasi terbesar untuk memperbanyak membaca Laa Ilaaha Illallah sepanjang hidup — agar menjadi kebiasaan yang mengalir di lisan, sehingga ketika ajal tiba, kalimat inilah yang paling mudah terucap."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan 'Laa Ilaaha Illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir' sebanyak 100 kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti memerdekakan 10 budak, ditulis baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan..." (HR. Bukhari No. 3293, Muslim No. 2691 — Shahih)
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Zikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah, dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah." (HR. Tirmidzi No. 3383, Ibnu Majah No. 3800 — Hasan Shahih)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Talqinkanlah (ajarkan/tuntunlah) orang-orang yang akan meninggal di antara kalian dengan Laa Ilaaha Illallah." (HR. Muslim No. 916 — Shahih)
Penjelasan Ulama: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Jilid 7, hal. 4):
"Hadits ini mengajarkan bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah bukan hanya untuk saat sehat dan kuat — ia adalah kalimat yang harus menemani seorang Muslim hingga detik terakhir hidupnya. Mentalqin orang yang sekarat adalah sunnah yang sangat dianjurkan agar kalimat ini menjadi kata terakhir yang keluar dari lisannya."
Para ulama menyebutkan bahwa Laa Ilaaha Illallah tidak otomatis memberikan manfaat hanya dengan diucapkan — ia harus memenuhi 7 syarat:
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid (hal. 12), sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsatil Ushul (hal. 40):
| No | Syarat | Makna | Lawan |
|---|---|---|---|
| 1 | Al-'Ilmu | Mengetahui maknanya | Kebodohan |
| 2 | Al-Yaqin | Yakin tanpa keraguan | Keraguan |
| 3 | Al-Ikhlas | Murni hanya untuk Allah | Syirik/Riya |
| 4 | Ash-Shidqu | Jujur dari hati | Kemunafikan |
| 5 | Al-Mahabbah | Mencintai kalimat ini | Membencinya |
| 6 | Al-Inqiyad | Tunduk pada konsekuensinya | Meninggalkan kewajiban |
| 7 | Al-Qabul | Menerima dengan sepenuh hati | Menolak |
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilush Shayyib (hal. 96):
"Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah tanpa memenuhi syarat-syaratnya seperti memegang kunci yang giginya tidak sempurna — ia tidak akan bisa membuka pintu surga. Yang membuka pintu surga adalah kalimat yang diucapkan dengan ilmu, keyakinan, keikhlasan, kejujuran, kecintaan, ketundukan, dan penerimaan."
Teks lengkap:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Latin: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir
Dibaca: 100 kali pagi dan petang
Keutamaan (sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas):
Dibaca 10 kali setelah setiap sholat fardhu:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Keutamaan: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan ini 10 kali setelah sholat Maghrib sebelum menggerakkan kakinya, Allah menulis baginya 10 kebaikan, menghapus 10 dosa, dan mengangkatnya 10 derajat." (HR. Tirmidzi No. 3474 — Hasan)
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar (hal. 15):
"Laa Ilaaha Illallah adalah zikir yang paling bebas — tidak terikat waktu, tempat, atau kondisi tertentu. Ia bisa diucapkan kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apapun — berdiri, duduk, berbaring, berjalan, bahkan saat bekerja. Ini adalah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ibadah lainnya."
Ketika Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu disiksa dengan kejam oleh tuannya Umayyah bin Khalaf — dibaringkan di atas pasir panas dengan batu besar di dadanya — satu kalimat yang terus ia ulang:
"Ahad... Ahad... Ahad..." (Satu... Satu... Satu — yaitu Allah Yang Maha Esa)
Ini adalah inti dari Laa Ilaaha Illallah — pengakuan keesaan Allah yang tidak tergoyahkan oleh siksaan apapun.
(As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, Jilid 1, hal. 318)
Hikmah: Kalimat Laa Ilaaha Illallah bukan sekadar ucapan lisan — ketika ia tertanam kuat di hati, ia menjadi benteng yang tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan apapun di muka bumi.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad (No. 350), dan disebutkan dalam berbagai riwayat:
Rasulullah ﷺ bersabda tentang seseorang yang penuh dengan dosa, namun ketika menjelang ajalnya ia berwasiat kepada keluarganya agar jasadnya dibakar dan abunya disebarkan ke lautan — karena ia takut Allah tidak akan mengampuninya jika jasadnya utuh.
Namun Allah mengumpulkan abunya dan bertanya: "Mengapa kamu melakukan itu?"
Ia menjawab: "Karena takut kepada-Mu, ya Allah."
Maka Allah berfirman: "Aku telah mengampunimu."
(HR. Bukhari No. 3478, Muslim No. 2757 — Shahih)
Hikmah: Rasa takut kepada Allah — yang adalah inti dari Laa Ilaaha Illallah — bisa menyelamatkan seseorang meskipun ia penuh dosa. Selama tauhidnya murni dan ia takut kepada Allah, pintu rahmat-Nya selalu terbuka.
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 11, hal. 226) menceritakan:
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah — di hari-hari terakhir hidupnya — terus-menerus mengulang Laa Ilaaha Illallah. Muridnya bertanya: "Wahai Imam, apa yang engkau lakukan?"
Imam Ahmad menjawab:
"Aku melatih lisanku agar terbiasa dengan kalimat ini — sehingga ketika malaikat maut datang, kalimat inilah yang paling mudah kuucapkan."
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di dalam kubur, dua malaikat akan bertanya tiga pertanyaan:
Orang yang hidup dengan Laa Ilaaha Illallah yang tertanam kuat di hatinya akan mampu menjawab dengan mantap: "Tuhanku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad ﷺ."
Allah berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)
Laa Ilaaha Illallah adalah zikir paling utama — lebih utama dari tasbih, tahmid, atau takbir berdasarkan hadits shahih
Kalimat ini lebih berat dari 7 langit dan 7 bumi — sesuai wasiat Nabi Nuh kepada anaknya menjelang wafatnya
Ada 2 rukun — menolak semua sesembahan selain Allah (An-Nafyu) dan menetapkan hanya Allah (Al-Itsbat)
Ada 7 syarat agar kalimat ini benar-benar bermanfaat — ilmu, yakin, ikhlas, jujur, cinta, tunduk, dan menerima
Bisa dibaca kapan saja — tidak terikat waktu dan tempat, ini keistimewaan yang tidak dimiliki ibadah lain
Membaca 100 kali sehari mendatangkan pahala luar biasa: seperti memerdekakan 10 budak, 100 kebaikan, hapus 100 dosa
Kalimat terakhir sebelum wafat — barangsiapa yang akhir perkataannya Laa Ilaaha Illallah, ia masuk surga
Q: Apakah ada bacaan khusus Laa Ilaaha Illallah yang paling dianjurkan?
A: Ya. Versi yang paling lengkap dan paling banyak keutamaannya adalah: "Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir" — dibaca 100 kali sehari. (HR. Bukhari & Muslim — Shahih)
Q: Apakah zikir Laa Ilaaha Illallah bisa dilakukan dalam hati saja?
A: Ya, boleh. Bahkan zikir dalam hati adalah yang paling ikhlas. Namun mengucapkannya dengan lisan juga sangat dianjurkan karena lisan yang terbiasa dengan kalimat ini akan lebih mudah mengucapkannya di saat-saat penting, termasuk menjelang wafat.
Q: Berapa kali minimal Laa Ilaaha Illallah dibaca sehari?
A: Tidak ada batas minimal yang ditetapkan syariat. Namun para ulama menganjurkan minimal 100 kali sehari — di pagi dan petang — berdasarkan hadits yang telah disebutkan. Lebih banyak tentu lebih baik.
Q: Apakah orang yang sering membaca Laa Ilaaha Illallah tapi masih banyak dosa akan masuk surga?
A: Berdasarkan beberapa hadits, orang yang ikhlas membaca Laa Ilaaha Illallah dan meninggal dalam tauhid yang murni, InsyaAllah akan masuk surga — meskipun mungkin harus melalui proses di akhirat terlebih dahulu. Namun ini bukan berarti boleh meremehkan dosa, karena syarat kalimat ini mencakup ketundukan pada hukum Allah.
Q: Apakah ada waktu khusus yang paling utama untuk membaca Laa Ilaaha Illallah?
A: Waktu paling utama adalah: pagi dan petang (100 kali), setelah sholat fardhu (10 kali), sebelum tidur, dan menjelang wafat. Namun kapanpun dibaca, tetap bernilai ibadah yang besar.
Mulai dari sekarang, tetapkan wirid harian Laa Ilaaha Illallah:
⏰ Pagi (setelah Subuh): Baca 100 kali: "Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir" ⏱️ Waktu: ±5 menit
⏰ Setelah setiap sholat: Baca 10 kali versi yang sama ⏱️ Waktu: ±30 detik
⏰ Petang (setelah Ashar): Baca 100 kali lagi ⏱️ Waktu: ±5 menit
Total waktu per hari: ±15 menit Total bacaan per hari: ±250 kali Pahala: Tidak terhitung 🤲
Untuk melengkapi pemahaman tentang zikir dan tauhid:
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Laa Ilaaha Illallah bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah deklarasi kemerdekaan terbesar — membebaskan manusia dari perbudakan kepada selain Allah, dari rasa takut kepada selain Allah, dan dari bergantung kepada selain Allah.
Setiap kali kamu mengucapkan kalimat ini dengan hati yang hadir — kamu sedang memperbarui ikrar yang paling agung, menegaskan kembali posisimu sebagai hamba Allah, dan menanam benih surga dalam hatimu.
Imam Ibnul Qayyim menutup pembahasannya tentang Laa Ilaaha Illallah dalam Al-Wabilush Shayyib (hal. 103) dengan kalimat yang sangat indah:
"Barangsiapa yang mengenal makna Laa Ilaaha Illallah dengan sempurna — mengenal dengan hatinya, mengucapkan dengan lisannya, dan mengamalkan dengan anggota tubuhnya — maka ia telah mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat sekaligus. Dan tidak ada kebaikan apapun yang seseorang inginkan kecuali ia bisa menemukannya di dalam kalimat yang agung ini."
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 🤲
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Zikir & Wirid Tag: Laa Ilaaha Illallah, Keutamaan Tahlil, Zikir Harian, Tauhid, Kalimat Tauhid, Wirid Harian
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.
Komentar
Posting Komentar