Teks Khutbah Jumat: Begadang untuk Bola, Tertidur dari Sholat — Renungan tentang Cinta Dunia
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Teks Khutbah Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar Durasi Khutbah: ± 20-25 menit
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
PETUNJUK PENGGUNAAN KHUTBAH INI
Khutbah ini disusun lengkap dengan teks Arab untuk pembukaan dan doa, teks Indonesia untuk isi khutbah, catatan kaki dalil untuk referensi khatib, dan tanda [JEDA] untuk memberi waktu jamaah meresapi.
Khutbah ini sangat relevan dibacakan menjelang atau selama musim turnamen sepak bola besar (Piala Dunia, Liga Champions, dll), namun pesannya bersifat abadi tentang bahaya cinta dunia yang berlebihan.
KHUTBAH PERTAMA
Pembukaan Khutbah (Dibaca Khatib)
Hamdalah:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي زَيَّنَ لِلنَّاسِ حُبَّ الشَّهَوَاتِ لِيَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً، وَجَعَلَ الدُّنْيَا دَارَ امْتِحَانٍ وَالآخِرَةَ دَارَ قَرَارٍ. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
"Segala puji bagi Allah yang menjadikan kecintaan terhadap syahwat sebagai perhiasan bagi manusia untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalnya, dan menjadikan dunia sebagai negeri ujian serta akhirat sebagai negeri yang menetap. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk."
Syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ.
Sholawat:
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Wasiat Taqwa:
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
"Dijadikan terasa indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Ali Imran: 14)
ISI KHUTBAH PERTAMA
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang masih mengizinkan kita berdiri di hari Jumat yang mulia ini, dalam keadaan sehat dan bisa beribadah kepada-Nya.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat.
Ma'asyiral Muslimin,
Setiap empat tahun sekali, dunia disibukkan oleh satu peristiwa besar: Piala Dunia.
Jutaan, bahkan miliaran manusia di seluruh penjuru bumi — termasuk sebagian dari kita yang hadir di sini — rela melakukan hal-hal yang luar biasa demi satu pertandingan sepak bola:
Mereka begadang hingga jam dua, tiga, bahkan empat dini hari.
Mereka menahan kantuk yang sangat berat, mengucek mata berkali-kali, meminum kopi demi kopi, hanya agar tidak tertidur sebelum pertandingan usai.
Mereka mengatur jadwal hidup mereka — cuti kerja, menunda tugas, mengorbankan waktu istirahat — semua demi 90 menit pertandingan, ditambah extra time, ditambah adu penalti.
Bahkan ada yang menangis ketika tim kesayangannya kalah. Ada yang berteriak histeris ketika gol tercipta. Ada yang berdebat panas dengan saudara atau teman karena berbeda dukungan klub.
[JEDA — biarkan jamaah merenungkan fenomena ini]
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Khatib tidak sedang mengharamkan sepak bola. Khatib tidak sedang melarang hiburan yang halal. Namun khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungkan satu pertanyaan yang sangat penting:
Mengapa kita mampu begadang untuk bola, namun tidak mampu bangun untuk sholat malam?
Mengapa mata yang begitu kuat menahan kantuk demi menyaksikan 22 orang berebut bola di lapangan hijau, tiba-tiba menjadi sangat berat ketika adzan Subuh berkumandang?
Mengapa tubuh yang sanggup duduk berjam-jam di depan layar televisi tanpa mengeluh pegal, tiba-tiba terasa lemas ketika diajak berdiri sebentar untuk mendirikan dua rakaat sholat Tahajud?
[JEDA — biarkan pertanyaan ini menyentuh hati jamaah]
Ma'asyiral Muslimin,
Inilah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
"Dijadikan terasa indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan." (QS. Ali Imran: 14)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 1, hal. 351) menjelaskan ayat ini:
"Allah menjadikan dunia ini indah di mata manusia sebagai bentuk ujian — untuk melihat siapa yang akan terpedaya olehnya dan siapa yang akan mengutamakan akhirat. Kecintaan kepada dunia bukanlah dosa selama ia tidak melampaui batas dan tidak mengalahkan kecintaan kepada Allah dan akhirat."
Saudaraku, persoalannya bukan pada sepak bola itu sendiri. Persoalannya adalah ketika kecintaan kepada dunia melampaui kecintaan kita kepada Allah.
Tiga Bukti Cinta Dunia yang Tersembunyi
Pertama — Kemampuan vs Kemauan
Saudaraku, tubuh kita sebenarnya mampu menahan kantuk. Itu sudah dibuktikan setiap kali Piala Dunia, Liga Champions, atau pertandingan besar lainnya berlangsung. Mata yang berat itu bisa kita lawan ketika ada motivasi yang kuat di hati.
Maka ketika kita berkata "saya tidak kuat bangun malam untuk sholat" — sesungguhnya yang terjadi bukan ketidakmampuan, tetapi kekurangan kemauan. Hati kita lebih tergerak oleh gol Ronaldo atau Messi daripada oleh panggilan Allah Yang Maha Pencipta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati." (HR. Bukhari No. 52, Muslim No. 1599 — Shahih)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Jilid 11, hal. 28) menjelaskan:
"Hadits ini menunjukkan bahwa seluruh perbuatan anggota tubuh bersumber dari kondisi hati. Tubuh yang malas beribadah namun kuat mengejar dunia, menunjukkan bahwa hatinya lebih condong kepada dunia daripada kepada Allah."
[JEDA]
Kedua — Pengorbanan vs Keengganan
Saudaraku, perhatikan betapa besar pengorbanan yang kita berikan untuk dunia: waktu, tenaga, uang untuk berlangganan TV kabel atau platform streaming, bahkan kesehatan kita pertaruhkan demi tontonan semalam suntuk.
Namun untuk Allah, kita sering merasa berat untuk berkorban sedikit saja: 10 menit lebih awal bangun untuk sholat malam, atau sekadar membaca Al-Qur'an satu halaman sebelum tidur.
Allah berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra: 79)
Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 461) berkata:
"Sholat tahajud disebut sebagai 'nafilah' (tambahan) karena keutamaannya yang sangat besar — bahkan dikhususkan oleh Allah hanya untuk Rasulullah ﷺ sebagai sarana mencapai 'maqaman mahmudan' (kedudukan yang terpuji). Betapa ruginya seorang Muslim yang melewatkan kesempatan emas ini hanya karena mengejar hiburan dunia yang sementara."
[JEDA]
Ketiga — Kegembiraan Sesaat vs Kebahagiaan Abadi
Saudaraku, mari kita hitung — berapa lama kebahagiaan yang kita rasakan ketika tim favorit kita menang piala dunia? Sehari? Seminggu? Sebulan?
Setelah itu, kemenangan itu hanya menjadi kenangan. Generasi mendatang bahkan mungkin tidak akan mengingatnya.
Namun Rasulullah ﷺ menjanjikan kebahagiaan yang tidak pernah berakhir bagi yang istiqomah bangun malam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
"Setan mengikatkan tiga ikatan di tengkuk kepala salah seorang di antara kalian ketika tidur. Setiap ikatan, setan membisikkan: 'Malam masih panjang, maka tidurlah.' Jika ia bangun lalu berzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, lepaslah satu ikatan lagi. Jika ia sholat, lepaslah ikatan yang terakhir. Maka ia bangun di pagi hari dengan jiwa yang segar dan baik. Namun jika tidak, ia bangun dengan jiwa yang buruk dan malas." (HR. Bukhari No. 1142, Muslim No. 776 — Shahih)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Jilid 3, hal. 30) menjelaskan:
"Hadits ini menggambarkan bagaimana setan berusaha menahan seorang mukmin dari bangun malam dengan bisikan-bisikan yang melemahkan tekad. Orang yang berhasil melepaskan diri dari ikatan ini akan merasakan kesegaran jiwa yang luar biasa — kebahagiaan yang jauh lebih hakiki daripada kegembiraan sesaat karena kemenangan sebuah tim sepak bola."
[JEDA — biarkan jamaah merenungkan perbandingan ini]
Ma'asyiral Muslimin,
Mari kita renungkan kisah yang sangat dalam dari kehidupan Tsa'labah bin Hathib radhiyallahu 'anhu.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 4, hal. 195) meriwayatkan, Tsa'labah dahulu adalah seorang Muslim yang sangat taat dan rajin sholat berjamaah. Suatu hari ia memohon kepada Rasulullah ﷺ agar mendoakannya menjadi kaya. Setelah doa itu dikabulkan dan ternaknya berkembang sangat banyak, Tsa'labah mulai sibuk mengurus ternaknya — hingga ia jarang menghadiri sholat berjamaah, kemudian jarang sholat Jumat, hingga akhirnya ia benar-benar lalai dari shalat.
Allah menurunkan ayat tentang orang seperti dirinya:
وَمِنْهُم مَّن عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ. فَلَمَّا آتَاهُم مِّن فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوا وَّهُم مُّعْرِضُونَ
"Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami menjadi orang-orang yang shalih.' Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling dari kewajiban mereka." (QS. At-Taubah: 75-76)
Hikmah: Bukan hartanya yang menjadi masalah — tetapi hati yang berubah setelah mendapat kenikmatan dunia. Inilah pelajaran bagi kita: bukan sepak bolanya yang haram, tetapi ketika hati kita lebih sibuk dengan tontonan dunia daripada sujud kepada Allah — di sinilah letak bahayanya.
Ma'asyiral Muslimin,
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Pertama — Jadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Boleh menonton, boleh menikmati hiburan yang halal — namun jangan biarkan ia menggeser kewajiban kita kepada Allah.
Kedua — Latih diri untuk bangun malam, sekalipun hanya dua rakaat. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ
"Hendaklah kalian mendirikan sholat malam, karena itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian." (HR. Tirmidzi No. 3549 — Hasan)
Ketiga — Setiap kali kita mampu begadang untuk dunia, jadikan itu sebagai pengingat: "Jika aku mampu menahan kantuk demi ini, mengapa aku tidak mencoba menahan kantuk demi Allah?"
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
(Khatib duduk sejenak)
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ﷺ.
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى.
Jamaah Jumat yang Mulia,
Khatib ingin menutup khutbah ini dengan sebuah renungan yang sangat sederhana namun dalam.
Bayangkan, saudaraku — ketika layar televisi dipadamkan setelah pertandingan usai, sorak-sorai berhenti, stadion kosong, dan dunia kembali pada rutinitasnya — apa yang tersisa?
Hanya kenangan. Hanya cerita yang akan kita lupakan seiring waktu.
Namun ketika kita bangun di sepertiga malam, berwudhu dengan air yang dingin, berdiri sendirian di hadapan Allah dalam kesunyian malam, dan bersujud memohon ampunan-Nya — apa yang kita dapatkan?
Allah berfirman tentang mereka yang bangun di malam hari:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنفِقُونَ مِمَّا رَزَقْنَاهُم. فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (mereka tidak tidur untuk beribadah), mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh rasa takut dan penuh harap, serta mereka menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka. Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diberikan kepada mereka berupa kenikmatan yang menyejukkan mata, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 16-17)
Itulah balasannya, saudaraku — kenikmatan yang tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya, disiapkan khusus oleh Allah bagi mereka yang lebih memilih bersujud daripada bersantai, yang lebih memilih Allah daripada hiburan dunia.
Doa Penutup Khutbah:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَهَجِّدِينَ الَّذِينَ تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ.
اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِينَا.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ
Daftar Dalil dan Referensi Khutbah Ini
- QS. Ali Imran: 14 — Hiasan kecintaan terhadap dunia
- QS. Al-Isra: 79 — Perintah sholat tahajud
- QS. At-Taubah: 75-76 — Kisah Tsa'labah dan ingkar janji
- QS. As-Sajdah: 16-17 — Balasan bagi yang bangun malam
- HR. Bukhari No. 52, Muslim No. 1599 — Hadits tentang hati sebagai pusat kebaikan dan kerusakan
- HR. Bukhari No. 1142, Muslim No. 776 — Hadits tiga ikatan setan
- HR. Tirmidzi No. 3549 — Kebiasaan sholat malam orang-orang shalih
- Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, 4
- Taisir Karimir Rahman — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
- Syarh Shahih Muslim — Imam An-Nawawi, Jilid 11
- Fathul Bari — Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Jilid 3
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Teks Khutbah Tag: Khutbah Jumat, Cinta Dunia, Sholat Malam, Tahajud, Piala Dunia, Renungan Islami
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar
Posting Komentar