Kisah Utsman bin Affan: Pemilik Dua Cahaya, Dermawan Sepanjang Masa, dan Syahid yang Mulia

 


Kisah Utsman bin Affan: Pemilik Dua Cahaya, Dermawan Sepanjang Masa, dan Syahid yang Mulia

Oleh: Ashabussalam.Online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Pendahuluan

Di antara seluruh sahabat Rasulullah ﷺ, hanya ada satu orang yang mendapat kehormatan luar biasa — menikah dengan dua putri Rasulullah ﷺ secara berurutan. Ketika putri pertama wafat, Rasulullah ﷺ langsung menikahkan putri keduanya kepadanya.

Dialah Utsman bin Affan Dzun Nurain radhiyallahu 'anhu — pemilik dua cahaya.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang alasan menikahkan dua putrinya kepada Utsman. Beliau menjawab:

لَوْ كَانَ عِنْدِي ثَالِثَةٌ لَزَوَّجْتُهَا عُثْمَانَ

"Seandainya aku masih memiliki putri ketiga, niscaya aku nikahkan juga kepada Utsman." (HR. Ahmad — Hasan, disebutkan dalam Siyar A'lamin Nubala', Jilid 1, hal. 467)

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 458) membuka biografi Utsman dengan kalimat:

"Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga, menantu Rasulullah ﷺ sebanyak dua kali, salah satu dari sepuluh yang dijamin surga, dan sahabat yang paling dermawan setelah Abu Bakar. Ia adalah permata umat Islam yang hidupnya penuh kemuliaan dan wafatnya dalam keadaan syahid yang paling mulia."


Siapakah Utsman bin Affan?

Nama lengkap: Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah Al-Qurasyi Al-Umawi

Nasab: Bertemu nasabnya dengan Rasulullah ﷺ pada Abdu Manaf

Kunyah: Abu Abdullah, Abu Amr

Gelar:

  • Dzun Nurain — Pemilik Dua Cahaya (karena menikahi dua putri Nabi ﷺ)
  • Amirul Mukminin — Khalifah Ketiga Islam

Lahir: 6 tahun setelah Tahun Gajah (sekitar 576 M)

Wafat: 18 Dzulhijjah tahun 35 H, dibunuh saat sedang membaca Al-Qur'an

Masa Kekhilafahan: 12 tahun

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 7, hal. 140)


Fase 1: Keislaman Utsman — Yang Pertama Berhijrah Dua Kali

Masuk Islam di Tangan Abu Bakar

Utsman bin Affan adalah salah satu dari orang-orang yang paling pertama masuk Islam — ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, bahkan sebelum Rasulullah ﷺ menyebarkan dakwah secara terbuka.

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 3, hal. 93):

"Utsman adalah salah satu dari empat orang pertama yang masuk Islam melalui tangan Abu Bakar — bersama Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Abdurrahman bin Auf. Ia masuk Islam ketika usianya sekitar 34 tahun."

Hijrah Pertama — ke Habasyah

Ketika penganiayaan terhadap kaum Muslim di Makkah semakin berat, Utsman bersama istrinya — Ruqayyah binti Muhammad ﷺ, putri Rasulullah — termasuk yang pertama berhijrah ke Habasyah.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang pasangan ini: "Utsman adalah orang pertama yang berhijrah dengan keluarganya di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth." (HR. Al-Hakim — Hasan, disebutkan dalam Siyar A'lamin Nubala', Jilid 1, hal. 462)

Hijrah Kedua — ke Madinah

Utsman kemudian kembali ke Makkah dan kemudian berhijrah ke Madinah bersama Rasulullah ﷺ. Ia menjadi satu-satunya sahabat yang tercatat berhijrah dua kali — ke Habasyah dan ke Madinah — sebagai bukti ketaatannya yang luar biasa.


Fase 2: Kedermawanan Utsman — Tak Tertandingi Sepanjang Sejarah

Membeli Sumur Raumah untuk Kaum Muslim

Ketika kaum Muhajirin pertama tiba di Madinah, sumber air bersih yang ada dikuasai oleh seorang Yahudi bernama pemilik sumur Raumah yang menjualnya dengan harga mahal. Kaum Muslim yang miskin tidak mampu membelinya.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang membeli sumur Raumah dan mewakafkannya untuk kaum Muslim, ia akan mendapat pahala yang agung di surga."

Utsman mendatangi pemilik sumur itu dan menawarkan harga pembelian. Namun pemiliknya tidak mau menjual seluruhnya. Akhirnya mereka bersepakat: Utsman membeli setengah sumur itu, dengan sistem bergantian — satu hari milik Utsman, satu hari milik pemilik Yahudi.

Pada hari giliran Utsman, seluruh Muslim mengambil air sebanyak-banyaknya untuk persediaan dua hari. Maka pada hari giliran pemilik Yahudi, tidak ada yang datang membeli.

Pemilik Yahudi pun akhirnya menjual sisa setengahnya kepada Utsman dengan harga 12.000 dirham.

Utsman pun mewakafkan seluruh sumur itu untuk kaum Muslim.

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 7, hal. 143)

Hikmah: Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Shalihin (Jilid 2, hal. 87):

"Wakaf sumur Raumah adalah salah satu amal jariyah terbesar dalam sejarah Islam. Sampai hari ini, di lokasi sumur itu masih ada kebun kurma yang hasilnya dikelola pemerintah Saudi Arabia dan hasilnya dimasukkan ke rekening atas nama Utsman bin Affan — untuk menunjukkan bahwa pahala amal jariyahnya terus mengalir lebih dari 14 abad."


Membangun Masjid Nabawi yang Lebih Besar

Ketika jamaah sholat semakin banyak dan Masjid Nabawi tidak cukup menampung, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Siapa yang membeli tanah Fulan dan menambahkannya ke masjid, ia akan mendapat surga."

Utsman membeli tanah itu seharga 25.000 dirham dan mewakafkannya untuk perluasan Masjid Nabawi.

(HR. Bukhari No. 450 — Shahih)


Membiayai Perang Tabuk — Sepertiga Pasukan

Perang Tabuk adalah perang yang paling berat dalam sejarah Islam awal — jaraknya sangat jauh, musimnya sangat panas, dan kondisi ekonomi kaum Muslim sedang sulit. Rasulullah ﷺ meminta bantuan para sahabat.

Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu datang membawa:

  • 900 unta dengan pelana dan muatan penuh
  • 100 ekor kuda
  • 1.000 dinar emas

Ia menuangkan seluruhnya ke pangkuan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ sangat terharu dan bersabda: "Tidak akan memberi mudharat kepada Utsman apa yang ia perbuat setelah hari ini." (HR. Tirmidzi No. 3701 — Hasan)

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 478):

"Utsman membiayai sepertiga dari seluruh pasukan Perang Tabuk. Tidak ada sahabat lain yang pernah melakukan hal seperti ini dalam satu peperangan. Inilah mengapa Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa tidak ada dosa yang akan membahayakannya setelah pengorbanan ini."


Membeli Saham Karavan untuk Dibagikan Gratis

Pada masa paceklik, sebuah karavan besar milik Utsman tiba di Madinah membawa barang dagangan. Para pedagang Madinah berlomba-lomba menawar dengan keuntungan berlipat.

Namun Utsman berkata kepada mereka: "Ada yang memberi penawaran lebih tinggi."

Mereka bingung karena mereka sudah menawar 10 kali lipat. Utsman berkata: "Allah memberikan kepadaku 700 kali lipat dari setiap dirham yang aku infakkan."

Kemudian ia menyedekahkan seluruh karavan itu — semua barang dagangannya — kepada fakir miskin Madinah tanpa mengambil keuntungan apapun.

(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 1, hal. 480)


Fase 3: Kekhilafahan Utsman — Pencapaian Terbesar

Pengumpulan Al-Qur'an dalam Satu Mushaf

Pencapaian terbesar Utsman yang manfaatnya dirasakan seluruh umat Islam hingga hari ini adalah pengumpulan Al-Qur'an dalam satu mushaf standar yang kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani.

Latar belakangnya: Ketika Islam menyebar ke berbagai wilayah, muncul perbedaan bacaan Al-Qur'an yang membingungkan. Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu datang kepada Utsman dan berkata:

"Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Kitabullah seperti perselisihan orang Yahudi dan Nasrani!"

Utsman pun mengambil tindakan tegas:

  1. Meminta mushaf induk yang disimpan Hafshah binti Umar
  2. Membentuk panitia penyalinan yang dipimpin Zaid bin Tsabit
  3. Mengirimkan mushaf standar ke seluruh wilayah Islam
  4. Memerintahkan pembakaran mushaf-mushaf yang berbeda

(HR. Bukhari No. 4987 — Shahih)

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 7, hal. 152):

"Ini adalah salah satu jasa terbesar Utsman kepada Islam. Mushaf yang kita baca hari ini — di seluruh penjuru dunia, dengan satu versi yang sama — adalah mushaf yang disatukan oleh Utsman. Tidak ada satu huruf pun yang berubah sejak saat itu."


Perluasan Wilayah Islam

Di masa Utsman, Islam terus berkembang ke wilayah-wilayah baru:

  • Afrika Utara — hingga Tripoli
  • Armenia dan sebagian Anatolia
  • Cyprus — penaklukan laut pertama dalam Islam
  • Khurasan (Afghanistan dan Asia Tengah)

Fase 4: Kesyahidan Utsman — Wafat dengan Al-Qur'an di Tangan

Latar Belakang Fitnah

Menjelang akhir kekhilafahan Utsman, muncul kelompok pemberontak yang memfitnah dan menentangnya. Mereka mengepung rumah Utsman selama berhari-hari.

Para sahabat besar menawarkan bantuan untuk mempertahankannya. Namun Utsman menolak — ia tidak mau menumpahkan darah Muslim demi mempertahankan jabatannya.

Ia berkata kepada Ali bin Abi Thalib, Zubair, Thalhah, dan sahabat lain yang ingin membelanya:

"Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah dan Islam untuk meletakkan senjata kalian. Darah seorang Muslim lebih mulia dari jabatanku."

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 7, hal. 178)

Mimpi Bertemu Rasulullah ﷺ

Malam sebelum kesyahidannya, Utsman bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Dalam mimpi itu Rasulullah ﷺ berkata kepadanya:

"Wahai Utsman, berbukalah bersama kami malam ini."

Utsman terbangun dengan wajah yang berseri. Ia mengetahui bahwa ajalnya sudah dekat dan ia akan segera bertemu dengan orang-orang yang paling ia cintai.

(Siyar A'lamin Nubala', Adz-Dzahabi, Jilid 1, hal. 492)

Kesyahidan yang Paling Mulia

Pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H, para pemberontak memasuki rumah Utsman. Utsman sedang duduk membaca Al-Qur'an — dalam keadaan berpuasa.

Ketika pedang pemberontak menghantam tangannya yang sedang memegang mushaf, darahnya menetes di atas firman Allah:

فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 137)

Utsman pun syahid — dengan Al-Qur'an di tangannya, dalam keadaan berpuasa, di hari Jumat.

(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 7, hal. 192)

Hikmah: Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 494):

"Utsman syahid dengan cara yang paling mulia — sedang membaca Al-Qur'an, dalam keadaan puasa, dan darahnya pertama kali jatuh di atas firman Allah. Seolah Allah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Utsman dan Al-Qur'an tidak bisa dipisahkan — dalam hidup maupun dalam kematian."


Ramalan Rasulullah ﷺ tentang Utsman

Ramalan tentang Kesyahidannya

Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Utsman:

"Barangkali Allah akan memakaikan kepadamu sebuah pakaian (jabatan khalifah). Jika orang-orang munafik menginginkan kamu melepasnya, jangan kamu lepaskan sampai kamu menemuiku (meninggal)." (HR. Tirmidzi No. 3705 — Hasan Shahih)

Dan benar — Utsman tidak pernah melepas "pakaian" kekhalifahan itu hingga ia syahid.

Ramalan tentang Tempatnya di Surga

Rasulullah ﷺ bersabda: "Utsman masuk surga." (HR. Tirmidzi No. 3699 — Hasan)


Sifat-Sifat Mulia Utsman bin Affan

1. Rasa Malu yang Luar Biasa

Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang paling pemalu di antara umatku adalah Utsman." (HR. Ibnu Majah No. 111 — Hasan)

Imam An-Nawawi dalam Tahdzibul Asma' wal Lughat (Jilid 1, hal. 306):

"Rasa malu Utsman sangat terkenal di kalangan sahabat. Bahkan para malaikat pun malu kepadanya. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Apakah aku tidak malu kepada seseorang yang para malaikat malu kepadanya?'"

(HR. Muslim No. 2401 — Shahih)

2. Kecintaan kepada Al-Qur'an

Utsman mengkhatamkan Al-Qur'an setiap malam dalam satu rakaat. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 488):

"Utsman sangat mencintai Al-Qur'an hingga konon mushafnya sudah lapuk karena terlalu sering dibaca. Dan ia memilih untuk wafat dengan Al-Qur'an di tangannya."

3. Kedermawanan yang Tiada Tara

Tidak ada sahabat yang menyumbangkan harta sebanyak Utsman dalam satu peristiwa. Ia membiayai perang, membeli sumur, membangun masjid, dan memberi makan fakir miskin — semua dari hartanya sendiri.

4. Kelembutan dan Kesabaran

Ketika para pemberontak mengepung rumahnya, Utsman tidak mengancam atau membalas. Ia memilih untuk bersabar dan menyerahkan urusannya kepada Allah.


Kata-Kata Hikmah Utsman bin Affan

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala' (Jilid 1, hal. 487) mengumpulkan:

1. "Aku heran dengan orang yang mengenal kematian, bagaimana ia bisa bergembira."

2. "Aku heran dengan orang yang mengenal dunia dan kerusakannya, bagaimana hatinya bisa tenang di dalamnya."

3. "Seandainya hati kita bersih, kita tidak akan pernah puas dengan firman Allah (Al-Qur'an)."

4. "Janganlah kamu mengharapkan kebaikan dari seseorang yang tidak mau menerima nasihat."


Penutup

Utsman bin Affan adalah teladan tentang bagaimana seorang Muslim bisa menggunakan kekayaannya di jalan Allah tanpa merasa rugi sedikit pun. Ia adalah bukti nyata bahwa harta yang diinfakkan di jalan Allah tidak akan berkurang — justru berkah dan pahalanya terus mengalir sepanjang masa.

Sumur Raumah yang ia wakafkan 14 abad lalu masih menghasilkan buah hingga hari ini. Mushaf yang ia satukan masih dibaca oleh lebih dari 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia. Dan nama Utsman bin Affan akan terus disebut dengan penghormatan dan doa hingga hari kiamat.

Allah berfirman:

وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

"Dan apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, niscaya (pahalanya) untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu menginfakkan sesuatu melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahalanya) dengan cukup dan kamu tidak akan dizalimi." (QS. Al-Baqarah: 272)

Semoga Allah merahmati Utsman bin Affan, mengumpulkan kita bersamanya di surga, dan menjadikan kisahnya sebagai inspirasi untuk berinfak dengan ikhlas di jalan Allah.

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ 🤲


Daftar Kitab Rujukan

  1. Siyar A'lamin Nubala' — Imam Adz-Dzahabi, Jilid 1
  2. Al-Bidayah wan Nihayah — Imam Ibnu Katsir, Jilid 3 & 7
  3. Syarh Riyadhis Shalihin — Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 2
  4. Tahdzibul Asma' wal Lughat — Imam An-Nawawi, Jilid 1
  5. Tarikh Al-Khulafa — Imam As-Suyuthi
  6. Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 7
  7. Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
  8. Shahih Muslim — Imam Muslim
  9. Sunan Tirmidzi — Imam At-Tirmidzi
  10. Sunan Ibnu Majah — Imam Ibnu Majah
  11. Musnad Ahmad — Imam Ahmad bin Hanbal

Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Kisah Sahabat dan Ulama Tag: Utsman bin Affan, Dzun Nurain, Khalifah Ketiga, Kisah Sahabat, Dermawan Islam, Mushaf Utsmani

Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar