Kisah Nabi Musa AS: Nabi yang Paling Banyak Dikisahkan dalam Al-Qur'an — Lengkap dengan Dalil, Tafsir, Hikmah, dan Pendapat Ulama
Oleh: Ashabussalam.Online Label: Kisah Para Nabi Referensi: Al-Qur'an, Hadits Shahih, Kitab-kitab Ulama Muktabar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Di antara seluruh kisah para nabi yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an, tidak ada satu kisah pun yang diulang sebanyak kisah Nabi Musa 'alaihissalam.
Nama Musa disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 136 kali — lebih banyak dari nabi manapun, termasuk Nabi Muhammad ﷺ. Kisahnya tersebar di lebih dari 30 surat dalam Al-Qur'an, dari berbagai sudut pandang dan dengan berbagai penekanan.
Mengapa Allah mengulang kisah Musa begitu sering?
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (Jilid 1, hal. 47) menjawab:
"Allah mengulang kisah Musa berkali-kali bukan karena kekurangan kisah lain, tetapi karena setiap pengulangan mengandung hikmah baru, pelajaran baru, dan penekanan baru yang tidak terdapat dalam pengulangan sebelumnya. Kisah Musa adalah ensiklopedia kehidupan — di dalamnya ada pelajaran tentang kepemimpinan, kesabaran, tawakkal, dakwah, ujian, kemenangan, dan hubungan antara hamba dengan Tuhannya."
Imam Ibnu Katsir membuka pembahasan kisah Musa dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 1, hal. 236) dengan kalimat yang indah:
"Musa bin Imran adalah salah satu dari lima Rasul Ulul Azmi — mereka yang mendapat ujian paling berat namun bersabar paling agung. Kisahnya adalah kisah seorang anak yang dibuang ke sungai, namun akhirnya menjadi raja yang mengguncang peradaban terbesar di zamannya."
Siapakah Nabi Musa AS?
Nama lengkap: Musa bin Imran bin Qahits bin Azir bin Lawi bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim 'alaihimussalam
Nasab: Dari keturunan Bani Israil, putra Imran dari suku Lawi
Gelar: Kalimullah — yang berbicara langsung dengan Allah
Tempat lahir: Mesir, di masa pemerintahan Fir'aun yang zalim
Rasul kepada: Kaum Bani Israil dan Fir'aun beserta kaumnya
Mukjizat utama:
- Tongkat yang berubah menjadi ular besar
- Tangan yang bercahaya putih
- Terbelahnya Laut Merah
- Turunnya Taurat langsung dari Allah
(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 236)
Fase 1: Kelahiran yang Penuh Bahaya
Latar Belakang — Kekejaman Fir'aun
Kisah Nabi Musa dimulai jauh sebelum kelahirannya. Fir'aun — raja Mesir yang mengaku sebagai tuhan — mendapat kabar dari para penasihat dan ahli nujumnya bahwa akan lahir seorang anak dari Bani Israil yang akan meruntuhkan kekuasaannya.
Maka Fir'aun mengeluarkan perintah yang sangat kejam:
Setiap bayi laki-laki dari Bani Israil harus dibunuh.
Allah berfirman:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka; dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia termasuk orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 4)
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 13, hal. 246):
"Ayat ini menggambarkan tiga bentuk kezaliman Fir'aun secara berurutan: pertama, ia berlaku sewenang-wenang (kesombongan); kedua, ia memecah belah masyarakat (politik divide and rule); ketiga, ia membunuh bayi-bayi (genosida). Ini adalah pola kezaliman penguasa yang terulang dalam sejarah — selalu dimulai dari kesombongan, berlanjut ke perpecahan, dan berakhir dengan kekerasan."
Wahyu Allah kepada Ibu Musa
Ketika Musa lahir, ibunya — Yukabad binti Lawi — sangat ketakutan. Namun Allah menurunkan ilham yang luar biasa:
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
"Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: 'Susuilah dia, dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.'" (QS. Al-Qashash: 7)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 6, hal. 218):
"Perhatikan betapa agungnya janji Allah dalam satu ayat ini — dua larangan (jangan takut, jangan sedih) dan dua kabar gembira (Kami akan mengembalikannya dan menjadikannya rasul). Allah tidak hanya menenangkan hati ibu Musa, tetapi langsung memberi jaminan masa depan yang luar biasa."
Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 618):
"Inilah contoh tawakkal yang paling luar biasa dalam sejarah — seorang ibu melemparkan bayinya ke sungai bukan karena putus asa, tetapi karena percaya penuh kepada janji Allah. Dan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya."
Bayi Musa di Istana Fir'aun
Peti yang membawa bayi Musa itu hanyut di Sungai Nil hingga tiba di istana Fir'aun sendiri. Para pelayan menemukannya dan membawanya kepada istri Fir'aun, Asiyah binti Muzahim — seorang wanita yang beriman diam-diam.
فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ. وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّي وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰ أَن يَنفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا
"Maka dipungutlah dia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir'aun dan Haman beserta bala tentaranya adalah orang-orang yang berdosa. Dan istri Fir'aun berkata: '(Dia adalah) penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita ambil dia menjadi anak.'" (QS. Al-Qashash: 8-9)
Hikmah yang Menakjubkan: Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad (Jilid 1, hal. 81):
"Perhatikan kuasa Allah yang luar biasa — bayi yang seharusnya dibunuh oleh Fir'aun, justru dipelihara oleh Fir'aun sendiri dengan biaya kerajaannya, di dalam istana kerajaannya, dan dengan kasih sayang istri kerajaannya. Allah menjadikan musuh terbesar Musa sebagai pengasuh terbaiknya. Inilah yang tidak bisa direncanakan oleh akal manusia manapun."
Musa Menolak Semua Ibu Susu
Ketika Musa menolak menyusu dari semua wanita yang dicoba untuk menyusuinya, terjadilah sesuatu yang ajaib:
وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ. فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ
"Dan Kami cegah dia (Musa) dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah (saudara Musa): 'Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?' Maka Kami kembalikan dia kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak berdukacita." (QS. Al-Qashash: 12-13)
Hikmah: Saudara perempuan Musa — yang diperintah ibunya untuk mengikuti peti dari kejauhan — melihat situasi ini dan menawarkan bantuan. Akhirnya ibu Musa sendiri yang menyusuinya, di dalam istana Fir'aun, dengan bayaran dari Fir'aun.
Allah menepati janji-Nya — mengembalikan Musa kepada ibunya persis seperti yang dijanjikan.
Fase 2: Musa Dewasa — Kejadian yang Mengubah Hidupnya
Membunuh Orang Qibti Tanpa Sengaja
Ketika Musa telah tumbuh dewasa dan menjadi orang yang kuat, terjadi sebuah peristiwa yang mengubah seluruh hidupnya:
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ
"Dan dia (Musa) masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang lagi dari pihak musuhnya (kaum Fir'aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu." (QS. Al-Qashash: 15)
Musa sangat menyesal. Ia segera berdoa memohon ampunan:
قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Dia (Musa) berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.' Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Qashash: 16)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 6, hal. 224):
"Musa bertindak untuk membela yang tertindas, namun akibatnya melampaui niatnya. Ini mengajarkan bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan hasil yang baik — dan ketika terjadi kesalahan, segeralah kembali kepada Allah dengan taubat seperti yang dilakukan Musa."
Pelarian ke Madyan
Ketika ancaman semakin besar — Fir'aun memerintahkan penangkapan Musa — ia melarikan diri ke Madyan, sebuah kota di sebelah timur Semenanjung Sinai.
Dalam kondisi kelelahan, kelaparan, dan sendirian di tanah asing, Musa tiba di sebuah sumur. Di sana ia melihat dua wanita yang menunggu untuk memberi minum ternak mereka namun tidak bisa karena banyaknya orang.
Dengan sisa tenaganya, Musa membantu dua wanita itu — tanpa mengharap imbalan apapun.
Kemudian ia duduk di bawah pohon, kelelahan dan lapar, lalu berdoa:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24)
Tafsir Ulama: Syaikh As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman (hal. 620):
"Doa Musa ini adalah teladan sempurna dalam memohon kepada Allah — ia tidak menyebutkan secara detail apa yang ia butuhkan (makanan, tempat tinggal, pekerjaan). Ia hanya mengakui kebutuhannya kepada Allah dan menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya. Dan Allah pun memberikan semua yang ia butuhkan sekaligus."
Allah kemudian mengirimkan salah satu dari dua wanita itu untuk memanggil Musa — dan ternyata ayah mereka, Nabi Syu'aib AS, mengundangnya dan akhirnya menikahkannya dengan salah satu putrinya. Musa mendapat pekerjaan, tempat tinggal, keluarga, dan ketenangan — semua dari satu doa sederhana.
Fase 3: Pengutusan Musa — Percakapan Langsung dengan Allah
Di Lembah Thuwa — Momen Paling Sakral
Setelah sepuluh tahun tinggal di Madyan, Musa memutuskan untuk kembali ke Mesir bersama keluarganya. Dalam perjalanan itulah terjadi peristiwa paling sakral dalam hidup Musa:
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ. إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى. وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ
"Maka ketika dia tiba di sumber api itu, dia dipanggil: 'Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).'" (QS. Thaha: 11-13)
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 11, hal. 168):
"Perintah melepas sandal memiliki dua hikmah: pertama, sebagai penghormatan terhadap tanah yang suci; kedua, agar kaki Musa langsung menyentuh tanah yang diberkahi Allah — sebagai bentuk tabarruk (mengambil berkah). Para ulama mengambil pelajaran dari ini bahwa di hadapan Allah, seseorang harus melepas segala 'sandal' kebanggaan dan kesombongan."
Mukjizat Tongkat dan Tangan Putih
Di lembah Thuwa, Allah memberikan Musa dua mukjizat besar:
Mukjizat Pertama — Tongkat:
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ. قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ. قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ. فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ
"Dan apakah itu yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?" Dia (Musa) berkata: "Ini adalah tongkatku, aku bersandar padanya, dan aku merontokkan (daun-daunan) dengan tongkat ini untuk (makanan) kambingku, dan bagiku ada lagi manfaat yang lain dari tongkat ini." Dia (Allah) berfirman: "Lemparkanlah ia, wahai Musa!" Maka dilemparkannya tongkat itu, tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat." (QS. Thaha: 17-20)
Mukjizat Kedua — Tangan Putih:
وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ
"Dan masukkan tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar putih bersinar tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain." (QS. Thaha: 22)
Hikmah: Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa'adah (Jilid 1, hal. 203):
"Dua mukjizat ini dipilih Allah bukan secara kebetulan. Tongkat yang berubah menjadi ular mewakili ancaman dan kekuatan — untuk menundukkan Fir'aun yang sombong. Tangan putih bercahaya mewakili keajaiban dan keindahan — untuk meyakinkan hati yang ragu. Allah memberikan dakwah dua sisi: sisi peringatan dan sisi kabar gembira."
Fase 4: Menghadapi Fir'aun — Dakwah Terbesar dalam Sejarah
Doa Musa Sebelum Menghadapi Fir'aun
Sebelum berangkat menghadapi raja paling zalim dalam sejarah, Musa memanjatkan doa yang sangat indah:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي. وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي. هَارُونَ أَخِي. اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي. وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي
"(Musa) berkata: 'Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan dia, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.'" (QS. Thaha: 25-32)
(Doa ini telah dibahas lengkap dalam artikel Doa Para Nabi — silakan merujuk ke sana untuk tafsir mendalam)
Dialog Musa dengan Fir'aun
Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk mendatangi Fir'aun dengan cara yang lembut:
اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS. Thaha: 43-44)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 5, hal. 284):
"Pelajaran dakwah yang paling agung dari ayat ini: bahkan kepada Fir'aun yang paling zalim sekalipun, Allah memerintahkan untuk berbicara dengan lemah lembut. Ini menunjukkan bahwa kelembutan adalah senjata dakwah yang paling efektif — bukan kekerasan, bukan hinaan, bukan cacian."
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Karim, Surat Thaha (hal. 56):
"Jika kepada Fir'aun saja Allah memerintahkan kelembutan, maka apalagi kepada sesama Muslim yang melakukan kesalahan — tentu lebih utama untuk menggunakan kata-kata yang lembut dan penuh kasih sayang."
Pertarungan Musa dengan Para Penyihir
Fir'aun mengerahkan para penyihir terbaik Mesir untuk mengalahkan Musa. Pada hari yang ditentukan, di depan seluruh rakyat Mesir, terjadi pertarungan yang menentukan:
قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ. وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
"Dia (Fir'aun) berkata: 'Lemparkanlah!' Maka ketika mereka melemparkan, mereka menyihir mata orang banyak dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar. Dan Kami wahyukan kepada Musa: 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka tiba-tiba ia menelan (benda-benda) palsu yang mereka adakan itu." (QS. Al-A'raf: 116-117)
Ketika para penyihir melihat mukjizat Musa, mereka langsung menyadari bahwa ini bukan sihir — ini adalah kebenaran:
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ. قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ. رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
"Lalu para penyihir itu serta merta menjatuhkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: 'Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam, Tuhan Musa dan Harun.'" (QS. Al-A'raf: 120-122)
Kisah yang Mengharukan: Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Jilid 1, hal. 282) menceritakan:
Fir'aun mengancam akan memotong tangan dan kaki para penyihir secara bersilang dan menyalib mereka. Namun para penyihir yang baru saja memeluk Islam itu menjawab dengan keberanian luar biasa:
قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ
"Mereka berkata: 'Kami tidak akan mendahulukanmu atas bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan!'" (QS. Thaha: 72)
Hikmah: Para penyihir yang paginya adalah musuh Musa, siangnya menjadi syuhada Islam. Hidayah bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, bahkan kepada orang yang paling jauh dari kebenaran sekalipun.
Fase 5: Mukjizat Terbesar — Terbelahnya Laut Merah
Momen yang Paling Dramatis
Setelah bertahun-tahun Fir'aun menolak semua ajakan Musa, Allah memerintahkan Musa untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir pada malam hari.
Namun Fir'aun mengejar dengan seluruh pasukannya. Ketika Bani Israil sampai di tepi Laut Merah, dengan pasukan Fir'aun di belakang mereka, sebagian bani Israil berteriak panik:
قَالُوا إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
"Mereka berkata: 'Kita benar-benar akan tersusul!'" (QS. Asy-Syu'ara: 61)
Namun Musa dengan keyakinan yang teguh menjawab:
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
"Dia (Musa) berkata: 'Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" (QS. Asy-Syu'ara: 62)
Kemudian Allah memerintahkan Musa:
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar." (QS. Asy-Syu'ara: 63)
Tafsir Ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (Jilid 13, hal. 108):
"Laut terbelah menjadi dua belas jalur — satu untuk setiap suku dari Bani Israil. Dan dinding air di kiri kanan mereka seperti gunung-gunung besar. Ini bukan hanya mukjizat fisik — ini adalah pelajaran bahwa ketika seseorang berjalan di jalan Allah dengan keyakinan penuh, Allah akan membelah segala rintangan yang menghalanginya."
Kehancuran Fir'aun
Ketika Fir'aun dan pasukannya mengikuti masuk ke dalam laut yang terbelah, Allah menutup kembali lautan itu:
فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُم مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ
"Lalu Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, kemudian mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka." (QS. Thaha: 78)
Ketika Fir'aun hampir tenggelam, ia berkata:
آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim)." (QS. Yunus: 90)
Namun Allah menolak taubat di saat ajal:
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
"Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Yunus: 91)
Hikmah Sangat Penting: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 4, hal. 272):
"Kisah taubat Fir'aun di saat tenggelam adalah peringatan keras bagi kita semua — jangan tunda taubat sampai sakratul maut. Taubat yang diterima adalah taubat yang dilakukan saat masih ada kesempatan untuk berubah, bukan saat tidak ada pilihan lain."
Fase 6: Di Bukit Sinai — Menerima Taurat Langsung dari Allah
Musa Berbicara Langsung dengan Allah
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا
"Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata: 'Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.' Allah berfirman: 'Kamu tidak akan dapat melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku.' Maka ketika Tuhannya menampakkan keagungan-Nya pada gunung itu, gunung itu hancur lebur dan Musa pun jatuh pingsan." (QS. Al-A'raf: 143)
Tafsir Ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 3, hal. 452):
"Gunung yang kokoh itu hancur hanya dari satu percikan tajalli (penampakan) keagungan Allah — bayangkan bagaimana manusia yang lemah bisa menanggungnya. Ini menunjukkan bahwa di dunia, manusia tidak mampu melihat Allah. Namun di surga nanti, Allah akan memperlihatkan diri-Nya kepada orang-orang beriman sebagai nikmat terbesar."
Kaum Musa Menyembah Anak Sapi
Ketika Musa pergi bermunajat selama 40 hari, kaumnya tergoda oleh Samiri yang membuat patung anak sapi dari emas dan mengajak mereka menyembahnya.
Ketika Musa kembali dan melihat kaumnya telah murtad, ia sangat marah. Namun setelah itu ia berdoa memohon ampunan untuk kaumnya:
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
"Musa berdoa: 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.'" *(QS. Al-A'raf: 151)
Fase 7: Musa dan Khidir — Kisah Tentang Ilmu dan Hikmah
Latar Belakang
Salah satu kisah paling unik dalam Al-Qur'an adalah pertemuan Musa AS dengan Khidir — seorang hamba Allah yang diberi ilmu khusus yang tidak dimiliki Musa.
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.'" (QS. Al-Kahfi: 60)
Tiga Kejadian yang Menakjubkan
Musa berguru kepada Khidir dengan satu syarat: tidak boleh bertanya apapun sampai Khidir menjelaskan sendiri. Namun tiga kali Musa tidak tahan:
Kejadian 1 — Khidir Melubangi Perahu: Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi. Musa protes. Khidir menjelaskan kemudian: di depan ada raja zalim yang merampas setiap perahu yang bagus — perahu yang rusak tidak akan diambil, sehingga pemiliknya yang miskin tetap bisa bekerja.
Kejadian 2 — Khidir Membunuh Seorang Anak: Musa sangat terkejut. Ternyata anak itu akan tumbuh menjadi orang kafir yang akan menyebabkan kedua orang tuanya yang beriman menjadi kafir. Allah menggantikan dengan anak yang lebih baik.
Kejadian 3 — Khidir Memperbaiki Tembok: Di sebuah kota yang penduduknya tidak mau menjamu mereka, Khidir memperbaiki tembok yang hampir roboh. Musa protes — mengapa tidak meminta upah? Ternyata di bawah tembok itu ada harta peninggalan untuk dua anak yatim yang shalih — Allah menjaga harta mereka melalui Khidir.
قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا
"Khidir berkata: 'Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.'" (QS. Al-Kahfi: 78)
Hikmah Terbesar: Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa'adah (Jilid 1, hal. 220):
"Kisah Musa dan Khidir mengajarkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas. Apa yang tampak buruk di mata kita mungkin baik di mata Allah, dan apa yang tampak baik mungkin buruk. Maka seorang mukmin tidak boleh terburu-buru menghakimi takdir Allah sebelum mengetahui hikmah di baliknya."
Pelajaran-Pelajaran Besar dari Kisah Nabi Musa AS
1. Rencana Allah Selalu Lebih Baik dari Rencana Manusia
Tidak ada yang merencanakan bahwa anak yang seharusnya dibunuh Fir'aun akan dipelihara di istana Fir'aun sendiri. Rencana Allah selalu melampaui akal manusia.
2. Tawakkal adalah Kunci Ketenangan
Ketika Bani Israil panik di tepi Laut Merah, Musa berkata dengan tenang: "Sesungguhnya Tuhanku bersamaku." Inilah tawakkal — bukan pasif, tetapi yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman.
3. Dakwah Harus Lemah Lembut
Allah memerintahkan Musa untuk berbicara lemah lembut kepada Fir'aun — raja paling zalim dalam sejarah. Pelajaran: tidak ada situasi yang membenarkan dakwah dengan kekerasan verbal.
4. Hidayah Datang dari Allah, Bukan dari Manusia
Para penyihir yang paginya kafir, siangnya menjadi mukmin sejati bahkan siap mati. Hidayah adalah hak prerogatif Allah — tugas kita hanya menyampaikan.
5. Taubat Harus Segera, Jangan Ditunda
Fir'aun bertaubat di saat hampir tenggelam — dan ditolak. Pelajaran: taubat yang diterima adalah yang dilakukan saat masih ada waktu dan kesempatan.
6. Ilmu Manusia Sangat Terbatas
Kisah Musa dan Khidir mengajarkan untuk tidak terburu-buru menghakimi takdir Allah. Di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang mungkin belum kita pahami.
Doa-Doa Nabi Musa AS
1. Doa Lapang Dada (Paling Populer)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku." (QS. Thaha: 25-26)
2. Doa Taubat
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku." (QS. Al-Qashash: 16)
3. Doa Memohon Kebaikan
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24)
4. Doa untuk Diri dan Saudara
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu." (QS. Al-A'raf: 151)
Penutup
Kisah Nabi Musa 'alaihissalam adalah kisah yang Allah ulang-ulang dalam Al-Qur'an bukan tanpa alasan. Setiap pengulangan adalah pelajaran baru, hikmah baru, dan penguat iman baru.
Di balik kisah seorang bayi yang dilempar ke sungai, ada pelajaran tentang tawakkal. Di balik kisah seorang pemuda yang melarikan diri ke tanah asing, ada pelajaran tentang sabar dan ikhlas. Di balik kisah seorang nabi yang menghadapi raja paling zalim, ada pelajaran tentang keberanian yang bersandar kepada Allah.
Allah menutup kisah Musa dengan firman yang sangat indah:
وَكَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْرًا
"Dan demikianlah Kami kisahkan kepadamu sebagian berita-berita yang telah terjadi terdahulu. Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu peringatan dari sisi Kami." (QS. Thaha: 99)
Semoga kisah Nabi Musa ini menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kita, penguat iman di saat lemah, dan pelipur lara di saat duka.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🤲
Daftar Kitab Rujukan
- Al-Bidayah wan Nihayah — Imam Ibnu Katsir, Jilid 1
- Tafsir Ibnu Katsir — Imam Ibnu Katsir, Jilid 3, 4, 5, 6
- Tafsir Al-Qurthubi — Imam Al-Qurthubi, Jilid 11, 13
- Taisir Karimir Rahman — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
- Madarijus Salikin — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
- Zaadul Ma'ad — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
- Miftah Daris Sa'adah — Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Jilid 1
- Qishashul Anbiya' — Imam Ibnu Katsir
- Syarhul Mumti' — Syaikh Ibnu Utsaimin
- Tafsir Al-Qur'an Al-Karim, Surat Thaha — Syaikh Ibnu Utsaimin
- Shahih Bukhari — Imam Al-Bukhari
- Shahih Muslim — Imam Muslim
Ditulis oleh: Ashabussalam Blog: ashabussalam.online Label: Kisah Para Nabi Tag: Kisah Nabi Musa, Nabi Musa AS, Kalimullah, Firaun, Mukjizat Musa, Laut Merah, Musa dan Khidir
Apabila terdapat kekeliruan, kami terbuka untuk koreksi. Semoga menjadi amal jariyah. Barakallahu fiikum.

Komentar
Posting Komentar